Surat Tulisan Tangan dari Pesantren yang Disimpan Orang Tua Bertahun-Tahun

Di zaman di mana pesan bisa dikirim dalam hitungan detik lewat layar, ada satu tradisi di pesantren yang masih bertahan dengan cara yang sangat tua — menulis surat dengan tangan. Santri yang tidak punya akses ke ponsel menuangkan rindunya di atas kertas, dengan pulpen yang kadang tintanya tersendat, dengan tulisan yang kadang miring karena ditulis di atas buku yang dijadikan alas di paha.

Surat dari pesantren tidak pernah panjang. Biasanya hanya satu atau dua halaman. Isinya sederhana — kabar bahwa dia baik-baik saja, cerita singkat tentang teman baru, pertanyaan tentang keadaan di rumah, dan kadang permintaan kecil yang membuat orang tua tersenyum sambil meneteskan air mata. Kirimkan sambal bu, sambal di sini kurang pedas.

Proses menulis surat di pesantren punya ritualnya sendiri. Biasanya dilakukan di malam hari setelah jam belajar, ketika asrama sudah mulai tenang. Santri duduk di tempat tidurnya, meletakkan kertas di atas buku tebal, dan mulai menulis. Kata-kata yang dipilih kadang terasa kaku — karena menuliskan perasaan ternyata jauh lebih sulit dari mengucapkannya. Tapi justru dari kekakuan itu, kejujuran yang keluar sering kali lebih dalam dari percakapan biasa.

Kalimat yang tidak pernah diucapkan lewat telepon kadang bisa ditulis di atas kertas. Aku rindu masakan ibu. Aku minta maaf karena dulu sering membantah. Terima kasih sudah memasukkanku ke sini, meskipun awalnya aku tidak mau. Kalimat-kalimat pendek itu mengandung berat yang tidak bisa diukur, ditulis oleh tangan kecil yang baru belajar bahwa mengakui perasaan bukan tanda kelemahan.

Orang tua yang menerima surat itu biasanya membacanya lebih dari sekali.

Dibaca pertama kali saat amplop baru dibuka, dengan hati yang berdebar tidak sabar. Dibaca ulang saat malam ketika rindu sedang paling terasa. Dibaca lagi berbulan-bulan kemudian saat anak sudah pulang tapi surat itu masih menyimpan momen yang tidak bisa terulang. Kertas yang sudah mulai menguning dan lipatan yang mulai rapuh justru menambah nilai — karena setiap bekas sentuhan di kertas itu pernah disentuh oleh tangan anak yang sedang jauh.

Banyak orang tua yang menyimpan surat-surat dari pesantren di tempat yang paling aman di rumah. Dimasukkan ke dalam kotak bersama foto keluarga dan dokumen penting lainnya. Bukan karena isinya rahasia. Tapi karena surat itu adalah bukti fisik dari momen yang tidak akan pernah terulang — momen ketika anak mereka masih kecil, masih belajar menulis perasaannya, dan memilih untuk menuliskannya kepada orang yang paling dia rindukan.

Surat tulisan tangan punya kekuatan yang tidak dimiliki oleh pesan singkat di layar. Tulisan tangan itu unik — hanya milik satu orang di dunia. Bekas tekanan pena di atas kertas menyimpan emosi yang tidak bisa ditangkap oleh font digital. Kata yang dicoret lalu diganti menunjukkan proses berpikir yang jujur. Semua itu membuat surat menjadi artefak personal yang nilainya bertambah seiring waktu.

Di Darunnajah 2 Cipining, tradisi menulis surat kepada orang tua menjadi salah satu kegiatan yang mengasah kemampuan menulis sekaligus menjaga hubungan emosional antara santri dan keluarga. Fasilitas wartel juga tersedia untuk telepon dan video call, tapi surat tulisan tangan tetap punya tempat tersendiri yang tidak bisa digantikan.

Ada hal-hal yang memang tidak bisa kita sampaikan lewat suara. Kadang harus ditulis — pelan, hati-hati, dengan tangan yang sedikit gemetar — supaya kata-katanya tepat dan perasaan yang menyertainya sampai utuh ke orang yang membacanya.

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri dan bagaimana pesantren menjaga hubungan orang tua dengan anak, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.