Menu

Surat Ibu Untuk Anaknya

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Untuk anakku yang ku sayangi di bumi Allah ta’ala
Segala puji ku panjatkan ke hadirat Allah ta’ala, yang telah memudahkan ibu
untuk beribadah kepada-Nya.
Sholawat serta salam, ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad -shollallohu alaihi
wasallam-, keluarga, dan para sahabatnya.
Wahai anakku …
Surat ini datang dari ibumu, yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir
panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan
rasa malu menyelimuti diri ini.
Setiap kali menulis, setiap itu pula gores tulisan ini terhalangi oleh tangis.
Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini terluka.
Wahai anakku …
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki
dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan
ini, sekalipun nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek,
sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula
perasaannya.
Wahai anakku …
25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam
kehidupanku.
Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu
sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam
diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.
Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri,
makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi
cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan
dengan itu, aku begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu,
atau balikan badanmu di perutku.
Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila semakin hari semakin
berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam rahimku.
Anakku …
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada malam itu, yang
aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan,
dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu
pula, aku melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar
ke dunia, dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata
tangismu.
Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua
keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku
kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.
Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk
satu tetes air yang ada di kerongkongan.
Wahai anakku …
Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu
dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku, kuberikan kepadamu. Aku
tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap
harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat, adalah
setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku.
Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti
tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai…
menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak pernah
lelah… dan mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi dewasa.
Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi
wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai anakku…
Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan
hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari
kepergianmu.
Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya
hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula
dengan tawa.
Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan… karena engkau telah mendapatkan
jodoh… karena engkau telah mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan sedih karena
engkau adalah pelipur hatiku, yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku.
Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah
perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu.
Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah
sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama
ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang
dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku
benar-benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan
hakku.
Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat rupamu. Detik demi
detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantianku seakan sangat
panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk menanti kedatanganmu. Setiap
kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap
kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap
suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku hancur
berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari semua
keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi diri dan nasib yang
memang ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku…
Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan.
Yang ibu pinta kepadamu:
Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.
Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku
menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan
ibumu.
Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak memandang wajahmu.
Yang ibu tagih kepadamu:
Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat
sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik.
Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau
sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun
berlalu pergi.
Anakku…
Telah bungkuk pula punggungku… bergemetar tanganku… karena badanku telah dimakan
oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit… Berdirinya seharusnya telah
dipapah… duduk pun seharusnya dibopong…
Akan tetapi, yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah cintaku kepadamu…
masih seperti dulu… masih seperti lautan yang tidak pernah kering… masih seperti
angin yang tidak pernah berhenti…
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan
balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan
baikmu?! bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan
sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?! Dan bukankah Alloh ta’ala, telah
berfirman:
هل جزاء الإحسان إلا الإحسان
Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!
Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah
berlalunya hari dan berselangnya waktu.
Wahai anakku…
Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula
bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua
tanganku… Engkau adalah hasil dari keletihanku… Engkaulah laba dari semua
usahaku…
Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh
bebuyutanmu?!
Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!
Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!
Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak
pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!
Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan
kebesaranmu?!
Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang demi mengobati
derita orang tua yang malang ini?!
إن الله يحب المحسنين
Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.
Wahai anakku…
Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
Wahai anakku…
Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat.
Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki yang supel,
dermawan dan berbudi.
Wahai anakku…
Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa
dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan?!
Mengapa? Tahukah engkau itu?! Karena engkau telah berhasil mengalirkan air
matanya… Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… Karena engkau
telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya…
Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim.
Wahai anakku…
Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan itu menujunya…
Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan balas budi yang
baik… Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang Alloh ta’ala
sebagaimana di dalam hadits:
الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه
Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau,
sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan
oleh Albani)
Anakku…
Aku mengenalmu sejak dahulu… semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku tahu
engkau sangat tamak dengan pahala… engkau selalu cerita tentang keuatamaan
berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof pertama
dalam sholat berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan
bersedekah…
Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan… satu keutamaan besar yang
telah engkau lalaikan… yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah
bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:
سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة
على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في
سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه)
Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh,
amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat pada waktunya. Aku bertanya
lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada
kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau
menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku pun diam (tidak bertanya)
kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya
lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.
Itulah hadits Abdulloh bin Mas’ud…
Wahai anakku…
Inilah aku, ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau
banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku inilah pahalamu…
Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan keluarga dan
anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah berantah untuk
mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?! Dia salami satu persatu, dia
ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian, wahai
anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah akan
mencari emas… Rumah kita yang reot ini, jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini,
jagalah…
Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh, untuk mendapatkan
emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana mengganti rumah
reotnya.
Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, yang ia
bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Pulanglah ia
kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama ini ia
tinggal.
Apa lagi yang terjadi di tempat itu, setibanya di lokasi rumahnya, matanya
terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang ditempati oleh anak-anak dan
keluarganya. Akan tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar, tambang emas yang
besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri orang, kiranya orang mencari emas
dekat di tempat ia tinggal.
Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, wahai anakku…
Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah
lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang
dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…
Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau mempercepat
amalmu masuk surga… Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan
murkaku adalah kemurkaan Alloh?!
Anakku…
Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi
wasallam- di dalam haditsnya:
رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند
الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)
Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang! Ada yang
bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Dialah orang yang
mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi
tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551)
Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup
bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan
dia ke surga.
Anakku…
Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini
kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan,
melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan,
yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…
Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan
melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku… bagaimana ibu ini kuat
menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku…
bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku
adalah kebahagiaan hidupku…
Bangunlah nak… bangunlah… bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah mulai
merambat di kepalamu. Akan berlalu masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.
الجزاء من جنس العمل
Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu.
الجزاء من جنس العمل
Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan. Engkau akan memetik
sesuai dengan apa yang engkau tanam.
Aku tidak ingin engkau menulis surat ini… aku tidak ingin engkau menulis surat
yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah
menulisnya kepadamu.
Wahai anakmu…
Bertakwalah kepada Allah… takutlah engkau kepada Allah… berbaktilah kepada
ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya… basuhlah air
matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan
badannya yang telah lapuk…
Anakku…
Setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah engkau sadar dan
engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.
Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Dari Ibumu yang merana.(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh- oleh
ustadz Abu Abdillah Ad-Daariny, Lc).

Farhan/DJ

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Informasi Perubahan Kalender Pendidikan Tahun 2019-2020 Kelas 3 TMI Darunnajah Jakarta

Perihal  : Informasi Perubahan Kalender Pendidikan  Tahun 2019/2020                                  31 Maret 2020                                                                 Yang terhormat, Bapak/Ibu Orang Tua Santri Kelas III