بسم الله الرحمن الرحيم

_Seri Olah Jiwa (Refleksi Ramadhan)._

*Sungguh, Kebahagiaan Itu Dalam Kebaikan Dan Ketaatan!.*

Dalam sebuah hadits populer dijelaskan bahwa orang yang berpuasa (Shoim) itu memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa (termasuk Idul Fitri) dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah SWT di surgaNya kelak.

Ketika datang waktu maghrib tentu tak terkira bahagianya orang yang puasa, setelah seharian menahan diri dalam lapar dan dahaga.

Yang menarik untuk dikaji adalah sebenarnya orang yang berpuasa itu menjadi bahagia karena tiba waktunya berbuka serta tersedianya makanan dan minuman di hadapannya atau karena kemauan dan kemampuannya untuk melaksanakan kebaikan dan ketaatan berupa ibadah puasa?.

Untuk menjawabnya perlu kiranya diketahui bahwa kebahagiaan itu ada tiga macam dan fasenya.

Pertama, _*Physical Happiness*_ yang didapatkan dengan diperolehnya hal-hal yang bersifat materi. Ketika seseorang merasa bahagia karena memiliki rumah, kendaraan, perhiasan, pakaian, makanan dan minuman dan sejenisnya maka dia berada dalam kebahagiaan jenis ini.

Kedua, _*Emotional Happiness*_ yang dirasakan ketika seseorang mendapat pujian, sanjungan, penghormatan, penghargaan dan berbagai macam apresiasi dari orang lain.

Kebahagiaan secara materi dan emosi tentu saja diperlukan dalam kehidupan ini, namun perlu difahami serta diyakini bahwa keduanya tidak permanen dan limited karena sangat tergantung dari faktor ekstern yaitu adanya materi dan atau pujian dari orang lain.

Maka yang terpenting adalah bagimana kita memiliki kebahagian jenis ketiga yaitu _*Spiritual Happiness.*_

Kebahagiaan secara spiritual ini justru didapatkan bukan dengan ‘menerima’ tapi dengan ‘memberi’.

Contoh nyatanya ketika seseorang mau dan mampu berbagi kepada orang lain dalam bentuk ifthar shoimin (memberikan buka puasa), shadaqah, infaq, zakat, Tunjangan Hari Raya dan sebagainya, maka justru yang pertama merasa bahagia adalah yang memberinya. Apa rahasianya?

Ternyata karena anugerah untuk melakukan kebaikan dan ketaatan itulah penyebab kebahagiaan. Bukan tentang siapa, berapa, apa dan bagaimana yang terkait dengan hal ini, tapi justru karena Allah SWT memilihnya menjadi wakil dan agenNya untuk berbagi kebahagiaan maka iapun berbahagia.

Maka menjadi semakin jelasnya mengapa Rasulullah Muhammad SAW sangat gemar berbagi (jawwaad / dermawan), terlebih jika datang bulan Ramadhan maka beliau akan lebih dermawan lagi melebihi angin yang berhembus tiada henti setiap saat.

Juga, Malaikat yang berdo’a kepada orang yang gemar berbagi dengan do’a :
*اللهم اعط منفقا خلفا*
*Ya Allah karuniakanlah ganti kepada orang yang gemar berinfaq!*

Adapun orang yang bakhil bin pelit serta koret maka dido’akan oleh Malaikat dengan do’a:
*واعط ممسكا تلفا*
*Dan berikanlah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya untuk berinfaq)!.*

Tentu saja kebaikan dan ketaatan itu banyak macamnya dan tidak terbatas hanya pada berbagi secara materi saja, namun juga bisa berbagi dalam bentuk lainnya seperti mengajarkan ilmu, menyambung silaturrahmi dan aneka macam lainnya dari ibadah mahdhah maupun ibadah ghairu mahdhah.

Dan pada akhirnya kita berharap kelak akan bahagia ketika berjumpa dengan Allah SWT dengan kebahagiaan yang belum pernah terlihat mata, terdengar telinga dan terdeteksi hati, Aamiin!.

والله أعلم بالصواب.

_Bogor, 7 Ramadhan 1437 H / 12 Juni 2016 M. (Mr. MiM)._ www.cipining.darunnajah.com