Ada satu suara yang tidak pernah bisa direkam dengan sempurna oleh kamera ponsel. Bukan suara adzan subuh. Bukan suara murattal dari mushalla. Tapi suara tawa yang memantul di dinding lorong asrama, tepat setelah Isya, ketika semua orang sudah lepas dari rutinitas harian dan menjadi diri sendiri sepenuhnya. Tawa itu punya tekstur tersendiri. Agak keras, kadang tertahan karena takut kedengaran ustadz, lalu meledak lagi justru karena usaha menahannya.
Kita semua punya kenangan tentang lorong itu. Bukan lorongnya yang istimewa. Tapi apa yang terjadi di sana.
Apa yang sebenarnya terjadi di lorong asrama setelah Isya?
Lorong asrama punya jadwal tidak tertulis. Setelah belajar malam selesai, lorong berubah menjadi ruang tamu, dapur, bahkan panggung. Ada yang duduk bersandar di dinding sambil cerita tentang kampung halamannya. Ada yang baru buka kiriman dari rumah dan langsung dikerumuni teman-teman sekamar. Sebungkus kerupuk dari ibu, sepotong kue lapis dari nenek, atau rendang yang dibungkus tiga lapis plastik supaya tidak tumpah di perjalanan. Semua dibagi. Tidak ada yang makan sendirian.
Di sudut lain, ada yang sedang menirukan gaya ustadz saat mengajar. Lengkap dengan gestur tangan dan logat bicaranya. Seluruh lorong tertawa. Bukan mengejek. Justru karena sayang. Karena kebiasaan ustadz itu sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari yang tanpa sadar membentuk cara kita bicara juga.
Malam-malam tertentu, ada sesi cerita seru. Satu orang mulai bercerita dengan suara pelan. Yang lain merapat. Lorong yang tadi ramai mendadak sunyi. Lalu tepat di puncak cerita, seseorang menepuk bahu temannya dari belakang. Teriakan. Lalu tawa lagi. Selalu begitu polanya. Dan anehnya, tidak pernah bosan.
Kenapa momen ringan ini ternyata yang paling sulit dilupakan?
Kita sering mengira bahwa kenangan besar datang dari momen besar. Juara lomba. Wisuda. Hari pertama masuk. Tapi kenyataannya, yang paling sering muncul tiba-tiba di kepala justru momen kecil. Suara sendal yang diseret di lantai lorong. Bau mie instan yang dimasak pakai air panas dari dispenser. Bisik-bisik sebelum tidur yang membahas segalanya, dari cita-cita sampai rindu rumah.
Ada satu momen yang mungkin kita semua pernah alami. Berbaring di kasur, sudah mau tidur, lalu teman sebelah tiba-tiba bilang sesuatu yang lucu. Kita tertawa. Teman di kasur seberang ikut tertawa padahal tidak dengar jelas. Lalu satu kamar tertawa tanpa ada yang benar-benar tahu apa yang lucu.
Tawa itu menular bukan karena isinya, tapi karena perasaan amannya.
Itu yang membuat lorong asrama berbeda dari lorong mana pun di dunia. Di sana, kita tidak perlu menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Cukup menjadi apa adanya, dan tetap diterima.
Bagaimana tawa di lorong membentuk persahabatan yang bertahan lama?
Persahabatan yang dibangun di atas tawa punya fondasi yang berbeda. Bukan karena kesamaan latar belakang. Bukan karena kesamaan prestasi. Tapi karena pernah tertawa bersama sampai perut sakit, di lorong yang sama, pada jam yang sama, saat dunia luar sudah tidur.
Kakak kelas yang dulu sering bikin lelucon di lorong, sekarang mungkin sudah jadi guru, atau dokter, atau pedagang di kota lain. Tapi kalau bertemu, yang pertama dibahas bukan karier. Yang dibahas adalah malam itu, ketika seseorang tidak sengaja menumpahkan semangkuk mie di depan pintu kamar dan semua orang panik sambil tertawa.
Adik kelas yang sekarang menghuni lorong yang sama mungkin tidak tahu cerita itu. Tapi mereka sedang membuat cerita mereka sendiri. Dengan lelucon yang berbeda, dengan tokoh yang berbeda, tapi dengan perasaan yang persis sama.
Kenapa suara tawa itu bergema lebih lama dari suara mana pun?
Bertahun-tahun setelah lulus, kita bisa duduk sendirian di suatu sore, lalu tiba-tiba tersenyum tanpa sebab yang jelas. Baru sadar, yang muncul di kepala adalah potongan adegan di lorong itu. Bukan adegan besar. Hanya teman yang tertidur di lantai lorong karena ketiduran saat menunggu giliran mandi. Atau suara kakak kelas yang teriak dari ujung lorong, memanggil nama kita dengan logat yang dibuat-buat.
Momen-momen itu tidak pernah kita rencanakan untuk diingat. Justru karena itu, ia menempel lebih dalam dari kenangan mana pun yang sengaja kita dokumentasikan.
Di Darunnajah 2 Cipining, lorong-lorong itu masih ada. Masih dengan dinding yang memantulkan suara. Dan yang paling penting, masih dengan santri-santri yang setiap malam mengisinya dengan tawa, cerita, dan kehangatan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Generasi berganti. Tapi polanya tetap. Ada yang baru datang dan canggung. Lalu dalam hitungan minggu, sudah ikut duduk di lorong, sudah punya lelucon sendiri dengan teman sekamar. Siklus itu tidak pernah putus.
Kalau kita ingin anak-anak kita merasakan apa yang pernah kita rasakan di lorong itu, jalannya sederhana. Beri mereka kesempatan. Hubungi WhatsApp 0812111180. Karena dari semua hal yang dipelajari di pesantren, mungkin yang paling berharga adalah ini: kebahagiaan paling jujur datang dari hal paling sederhana.