SMP Islam Berasrama yang Dipilih Keluarga Jabodetabek — dan Alasan yang Jarang Diucapkan
Bukan hanya pesantrennya yang berubah bentuk dalam dua puluh tahun terakhir. Alasan orang tua memilihnya ikut berubah, dan sebagian dari alasan itu jarang diucapkan terang-terangan.
Apa yang berubah sejak zaman orang tuanya dulu?
Satu generasi yang lalu, keputusan memondokkan anak sering dianggap sebagai jalan terakhir ketika pilihan lain sudah habis. Kini urutannya kerap terbalik. Banyak keluarga di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bogor yang justru menempatkan sekolah berasrama di daftar teratas sejak awal, lalu membandingkannya dengan sekolah harian, bukan sebaliknya.
Pergeseran itu tidak terjadi karena sekolah harian berkurang mutunya. Yang berubah adalah keadaan di sekitar anak, dan keadaan itu berubah cukup cepat dalam dua puluh tahun terakhir.
Jarak tempuh di kota besar bertambah panjang. Jam kerja bergeser. Waktu yang tersisa untuk duduk bersama anak menyusut dengan sendirinya, bukan karena ada yang lalai, melainkan karena begitulah bentuk kota yang terus tumbuh.
Pencariannya berubah bentuk. Dari mencari tempat menitipkan, menjadi mencari lingkungan yang ikut membentuk.
Kenapa jenjang SMP sering menjadi titik masuk yang dipilih?
Usia dua belas sampai lima belas tahun adalah masa ketika anak mulai menyusun pendapatnya sendiri tentang banyak hal. Pada rentang itu lingkungan sehari-hari berpengaruh besar, sering kali lebih besar daripada nasihat yang diberikan di rumah. Karena itulah pencarian SMP Islam berasrama Jabodetabek biasanya ramai pada saat anak duduk di kelas enam, dan jenjang MTs serta SMP menjadi titik masuk yang paling banyak dipilih.
Alasan apa saja yang biasanya tidak diucapkan terang-terangan?
Alasan yang disampaikan ke kerabat biasanya yang paling mudah dijelaskan, seperti ingin anak kuat mengaji atau ingin akhlaknya terjaga. Alasan yang sebenarnya kerap lebih berlapis dari itu.
Yang paling sering muncul berkaitan dengan waktu. Anak yang berangkat pagi dan pulang menjelang malam karena jarak sekolah dan kemacetan sebenarnya hanya bertemu orang tuanya dalam keadaan sama-sama lelah. Sekolah berasrama membuat perjumpaan lebih jarang tetapi lebih utuh, dan sebagian keluarga merasa pertukaran itu setimpal.
Alasan berikutnya berkaitan dengan lingkungan pergaulan. Setiap orang tua memantau pergaulan anaknya, tetapi memantau tidak sama dengan mendampingi. Di lingkungan berasrama, orang dewasa berada di sekitar anak sepanjang hari, bukan hanya pada jam sekolah. Wali kamar di Darunnajah 2 Cipining tinggal di lingkungan pesantren dan mendampingi santri setiap hari.
Ada pula alasan yang lebih sulit diakui, yaitu keinginan agar anak belajar mengurus dirinya sendiri. Di rumah dengan jumlah anak yang sedikit dan bantuan yang tersedia, kesempatan berlatih mandiri memang terbatas, dan itu bukan kesalahan siapa pun. Asrama memberi latihan itu tanpa perlu diadakan secara khusus, karena mencuci, mengatur barang, dan membagi waktu memang harus dikerjakan sendiri setiap hari.
Alasan terakhir biasanya tidak disebut sama sekali. Sebagian orang tua ingin anaknya memiliki sesuatu yang dulu tidak sempat mereka miliki: bacaan Al-Qur’an yang lancar, kemampuan berbicara di depan orang banyak, dan teman-teman yang bertahan sampai puluhan tahun kemudian. Keinginan itu jarang diucapkan karena terdengar terlalu pribadi.
Apa yang membedakan bentuknya sekarang?
Bayangan tentang pesantren yang beredar di kepala banyak orang tua sering kali berasal dari cerita dua puluh tahun lalu, dan bentuknya sudah cukup jauh berbeda.
Perlu disebut lebih dulu bahwa pesantren tradisional tetap memiliki tempatnya sendiri dan tujuannya sendiri. Yang dibahas di sini adalah bentuk modern yang jenjangnya formal, karena bentuk inilah yang paling sering dicari keluarga perkotaan ketika membandingkan sekolah untuk anaknya.
Pelajaran umum berjalan penuh berdampingan dengan pelajaran agama. Kurikulum yang dipakai menyatukan warisan Pondok Modern Gontor dengan kurikulum nasional yang berlaku, sehingga matematika, IPA, IPS, dan bahasa Inggris diajarkan dengan cakupan yang sama seperti di sekolah pada umumnya. Ijazahnya pun sah di mata Kementerian Agama maupun Kementerian Pendidikan.
Percakapan sehari-hari memakai bahasa Arab pada satu pekan dan bahasa Inggris pada pekan berikutnya, bukan berhenti di jam pelajaran. Untuk anak seusia SMP, terbiasa memakai dua bahasa asing di luar kelas adalah bekal yang sulit dibentuk lewat kursus akhir pekan.
Fasilitasnya juga berbeda dari bayangan lama. Laboratorium IPA dan laboratorium komputer tersedia, begitu pula lapangan multifungsi, kolam renang, gedung kebugaran, studio musik, dan perpustakaan. Kampusnya berdiri di atas lahan wakaf seluas 220 hektar di ketinggian bukit Cigudeg, dengan danau dan lahan terbuka yang luas.
Kegiatan sorenya cukup beragam, mulai dari pencak silat Tapak Suci, panahan, futsal, dan renang, sampai kaligrafi, desain grafis, jurnalistik, dan pramuka. Untuk anak yang energinya besar, keragaman ini biasanya lebih menentukan betah atau tidaknya daripada bangunan asramanya.
Bagaimana dengan jarak dari Jabodetabek?
Jarak selalu menjadi pertimbangan yang paling akhir dan paling berat. Melepas anak berusia dua belas tahun ke tempat yang tidak bisa ditengok setiap sore memang bukan keputusan yang ringan.
Yang biasanya menenangkan bukan jaraknya yang pendek, melainkan kemudahan menempuhnya. Hari menengok tidak dibatasi pada tanggal tertentu, cukup mengikuti jam kunjung yang berlaku, dan tersedia wisma di dalam lingkungan pesantren untuk yang ingin menginap. Untuk keluarga Jabodetabek, ini berarti akhir pekan yang panjang masih mungkin dipakai menengok tanpa harus mengambil cuti.
Tersedia pula wartel untuk menelepon dan melakukan panggilan video, serta pemantauan keuangan santri melalui portal resmi. Bagi keluarga yang baru pertama kali melepas anak, hal-hal kecil seperti ini yang membuat bulan-bulan pertama terasa lebih tertahankan.
Untuk yang belum yakin melepas anak tinggal penuh, tersedia juga program non-asrama pada jenjang MTs dan SMP. Sebagian keluarga memakainya sebagai masa penyesuaian sebelum benar-benar pindah ke asrama.
Ada satu hal yang jarang dibicarakan tetapi hampir selalu terjadi. Beberapa pekan pertama biasanya lebih berat bagi orang tua daripada bagi anaknya. Rumah terasa terlalu sepi, dan setiap suara pemberitahuan di ponsel membuat jantung berdegup lebih cepat. Perasaan itu wajar dan hampir semua keluarga santri baru melewatinya, biasanya sampai kunjungan pertama berlalu dan anak terlihat sudah punya temannya sendiri.
Bagaimana cara menimbangnya tanpa terburu-buru?
Keputusan seperti ini jarang matang hanya dari membaca. Yang biasanya membuatnya jernih adalah melihat langsung bersama anak, lalu mendengar apa yang ia katakan sendiri di perjalanan pulang.
Pintunya terbuka setiap hari bagi keluarga yang ingin datang melihat, bahkan bagi yang belum berniat mendaftar. Pertanyaan tentang jenjang MTs dan SMP, pilihan asrama maupun non-asrama, dan hal lain yang perlu disiapkan bisa disampaikan lewat WhatsApp di wa.me/62812111180.