Siti Aisah: Dari Bidan Desa Menjadi Wakil Rakyat, Mengabdi untuk Kesejahteraan Masyarakat Siti Aisah: Dari Bidan Desa Menjadi Wakil Rakyat, Mengabdi untuk Kesejahteraan Masyarakat

Siti Aisah: Dari Bidan Desa Menjadi Wakil Rakyat, Mengabdi untuk Kesejahteraan Masyarakat

Siti Aisah, S.T., R.Keb., adalah seorang alumni Pesantren Darunnajah 2 Cipining (DNC) yang kini berkiprah di dunia politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor. Sebelumnya, ia berprofesi sebagai bidan desa, namun merasa bahwa kontribusinya terhadap masyarakat masih terbatas, terutama dalam bidang kesehatan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk terjun ke dunia politik dengan tujuan memperjuangkan hak-hak kesehatan, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu. Pada 27 Agustus 2024, ia dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Bogor dan kini tergabung dalam Komisi 4 yang membidangi kesejahteraan masyarakat, pendidikan, serta kesehatan.

Dalam wawancara berikut, Siti Aisah berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya, motivasi untuk terjun ke dunia politik, serta bagaimana nilai-nilai yang diajarkan di Pesantren Darunnajah 2 Cipining berperan besar dalam mewujudkan visi dan misinya sebagai anggota DPRD.

Apa yang menginspirasi Anda untuk terjun ke dunia politik setelah menempuh pendidikan di Pesantren Darunnajah 2 Cipining?

“Saya berangkat dari profesi saya sebagai bidan desa. Meskipun saya merasa dapat membantu masyarakat melalui pekerjaan saya, saya merasa kontribusi saya terbatas, terutama dalam bidang kesehatan di Kabupaten Bogor. Terketuk dari hati nurani saya, saya ingin berbuat lebih banyak, tidak hanya dari sisi profesi, tetapi juga dalam hal kebijakan. Saya ingin menjadi anggota DPRD untuk memperjuangkan hak-hak kesehatan, terutama bagi masyarakat kurang mampu yang sering kali terabaikan. Dalam politik, saya percaya kita bisa memberi dampak yang lebih besar.”Nilai-nilai apa yang Anda pelajari di pesantren yang paling berpengaruh dalam perjalanan karier politik Anda?

“Di pesantren, saya banyak belajar tentang akhlakul karimah, tanggung jawab, dan pentingnya kerja sama. Nilai-nilai tersebut sangat memengaruhi perjalanan karier saya. Sebagai santriwati, saya dilatih untuk mandiri dan menjaga integritas. Pesantren juga mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, untuk selalu berbuat baik dan memberikan manfaat bagi orang lain. Semua itu sangat relevan dengan tugas saya sebagai anggota dewan yang harus mengutamakan kepentingan rakyat, terutama dalam hal kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.”

Sebagai anggota DPRD, apa tantangan terbesar yang Anda hadapi, dan bagaimana pengalaman di pesantren membantu Anda menghadapinya?

“Menjadi anggota dewan adalah amanah yang sangat mulia, tetapi juga penuh tantangan. Tanggung jawab saya sangat besar, untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat dan memastikan kebijakan yang diambil benar-benar bermanfaat bagi rakyat. Di pesantren, saya belajar banyak tentang membangun organisasi dan pentingnya kerja sama tim. Saya juga diajarkan untuk selalu menjaga integritas dan komunikasi yang baik dengan sesama. Ini semua menjadi bekal penting ketika saya bekerja di DPRD, di mana saya harus berinteraksi dengan berbagai pihak dan berusaha mencapai tujuan yang sama untuk kepentingan masyarakat.”

Apa peran yang menurut Anda seharusnya dimainkan pesantren dalam membentuk pemimpin di bidang politik dan pemerintahan?

“Pesantren memiliki peran yang sangat besar dalam mencetak pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Saya berharap pesantren dapat lebih menekankan pada jiwa kepemimpinan dan mendorong santri untuk aktif dalam berorganisasi. Dengan berorganisasi, kita bisa mengasah kemampuan untuk bekerja sama, membuat keputusan, dan bertanggung jawab. Santri yang aktif berorganisasi sejak dini akan lebih siap menghadapi tantangan apapun, termasuk di dunia politik. Pemimpin yang lahir dari pesantren harus bisa membawa perubahan yang positif, bukan hanya dalam masyarakat, tetapi juga dalam dunia politik dan pemerintahan.”

Apa harapan Anda untuk para santri di Darunnajah 2 Cipining, terutama mereka yang ingin mengikuti jejak Anda di dunia politik atau bidang lain?

“Harapan saya untuk adik-adik santri adalah agar mereka memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap masyarakat. Saya juga berharap mereka aktif berorganisasi dan terus mengasah keterampilan kepemimpinan mereka. Dengan nilai-nilai yang diajarkan di pesantren, seperti kepedulian sosial, kejujuran, dan tanggung jawab, saya yakin adik-adik bisa menjadi pemimpin yang amanah dan bermanfaat bagi banyak orang. Jangan takut untuk bermimpi besar, karena jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh, insya Allah kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan.”

Bagaimana Anda melihat kontribusi pesantren dalam pembangunan masyarakat, terutama dalam konteks daerah Bogor yang terus berkembang?

“Pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki nilai-nilai kemandirian, tanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Saya melihat banyak alumni pesantren Darunnajah yang berkontribusi besar di berbagai bidang, termasuk kesehatan, pendidikan, dan politik. Di Bogor, yang terus berkembang pesat, peran pesantren sangat strategis dalam mencetak pemimpin yang dapat membawa daerah ini lebih maju dan sejahtera.”

Apa visi Anda sebagai anggota DPRD Bogor, dan bagaimana Anda melibatkan nilai-nilai pesantren dalam mewujudkannya?

“Visi saya adalah menjadikan Kabupaten Bogor sebagai daerah yang mandiri, maju, religius, dan berdaya saing tinggi. Sebagai anggota DPRD, saya ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Nilai-nilai pesantren, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap masyarakat, saya terapkan dalam setiap keputusan dan tindakan saya di DPRD. Saya ingin masyarakat Kabupaten Bogor merasa dihargai dan mendapatkan pelayanan yang terbaik.”

Siti Aisah adalah contoh nyata bagaimana pendidikan pesantren tidak hanya membekali ilmu agama, tetapi juga mempersiapkan santri untuk menghadapi tantangan kehidupan nyata, termasuk dalam dunia politik. Semangatnya untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah, khususnya dalam bidang kesehatan, adalah buah dari nilai-nilai yang diajarkan di Pesantren Darunnajah 2 Cipining.

Semoga kisahnya dapat menginspirasi para santri untuk terus mengejar cita-cita mereka, berani berkiprah di dunia mana pun, dan selalu mengedepankan akhlakul karimah dalam setiap langkah kehidupan.