
Mendidik pada anak usia dini di zaman sekarang sangat membutuhkan keseimbangan yang tepat, tidak hanya mengajarkan pendidikan akademik saja tetapi juga mengajarkan tentang pendidikan islami dalam membangun fondasi spiritual dan fisik yang kokoh. Salah satu nya bisa melalui simulasi shalat berjamaah. Aktivitas ini bukan sekedar hanya untuk sholat, tetapi sebuah sarana yang ampuh untuk mengasah kecerdasan kinestetik (gerak tubuh) dan kecerdasan spiritual anak secara bersama dalam melakukan aktivitas yang menyenangkan dan pernuh bermakna.
Bayangkan anak-anak kita dengan penuh semangat melakukan kegiatan sholat berjama’ah, dimana mereka mengatur barisan layaknya seperti sebuah tim. Mereka belajar untuk berbaris dengan rapi, dan merapatkan barisan (shaf) saat hendak sholat. Dengan kegiatan ini dapat melatih anak dalam mengkoordinasi mata dan kaki, dan menjaga keseimbangan tubuh.
Setiap gerakan sholat yang diajarkan seperti berdiri tegak, rukuk dengan punggung yang lurus, sujud dengan tujuh titik sentuh (dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, kedua ujung jari kaki), hingga duduk diantar dua sujud, hingga tahiyat (awal dan akhir).
Dibalik gerakan-gerakan sholat ini, terdapat pelajaran spiritual yang mendalam. Simulasi ini suatu kegiatan konkret yang dapat kita kenalkan dan dilakukan pada anak usia dini yang bermakna ibadah. Memperkenalkan sholat pada anak harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti atau mudah dipahami. orang tua dan guru dapat menjelaskan bahwa sholat adalah suatu yang harus kita laksakan dan waktu khusus berbicara dengan Allah SWT, waktu khusus nya ada lima waktu yaitu Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib, dan isya’. ketika sudah memperkenalkan pada anak ajak anak untuk sholat berjamaah pada tiba waktunya.
Latihan sholat berjama’ah bukanlah suatu beban, melainkan sebuah petualangan dan menantang bagi anak. Karena pendekatannya diubah dari sekadar kewajiban menjadi sebuah permainan bermakna. Dalam petualangan ini anak-anak dapat melakukan barisan dengan rapat sebagai tantangan tim. Bergantian menjadi imam layaknya seperti pemimpin.
Jadi, dapat disimpulkan dengan simulasi sholat berjama’ah, dapat kita buktikan bahwa pendidikan yang terbaik adalah menyeimbangkan jiwa dan raga, menyatu gerak dan doa dalam harmoni yang indah.
