Sikap Orang Tua yang Mendukung Keberhasilan Anak Selama di Pesantren

Banyak orang tua yang merasa tugasnya selesai setelah mengantar anak ke pesantren. Kenyataannya, peran orang tua justru berubah bentuk — bukan berkurang. Bagaimana orang tua bersikap selama anak mondok ternyata punya pengaruh yang cukup besar terhadap keberhasilan anak di pesantren. Dan jujur, ini area yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Kenapa sikap orang tua begitu berpengaruh?

Karena anak tetap menjadikan orang tua sebagai rujukan emosional utamanya — meskipun secara fisik tinggal jauh. Cara orang tua merespons cerita anak saat telepon, cara menyikapi kebijakan pesantren, bahkan cara memberikan uang saku — semua ini membentuk kondisi psikologis anak selama di pesantren.

Anak yang merasa orang tuanya mendukung penuh dan percaya pada proses pesantren biasanya lebih tenang menjalani kesehariannya. Sementara anak yang menangkap sinyal keraguan atau ketidakpuasan dari orang tua — meskipun tidak diucapkan langsung — kadang ikut ragu dengan pilihannya sendiri.

Ini bukan soal menyalahkan orang tua. Ini soal menyadari bahwa peran kita tidak berhenti di gerbang pesantren.

Bagaimana cara mendukung tanpa terlalu ikut campur?

Salah satu keseimbangan yang paling sulit: hadir tanpa mengambil alih. Anak di pesantren sedang belajar mandiri — dan proses itu butuh ruang. Orang tua yang terlalu sering menelepon, terlalu sering datang, atau terlalu sering mempertanyakan setiap kebijakan pesantren tanpa memberi kesempatan anak menjalaninya — kadang justru menghambat proses kemandirian yang sedang dibangun.

Tapi di sisi lain, orang tua yang sama sekali tidak menanyakan kabar, tidak pernah berkunjung, dan hanya mengirim uang — anak bisa merasa diabaikan. Ada anak yang performanya menurun bukan karena tidak mampu, tapi karena merasa orang tuanya tidak peduli.

Keseimbangan yang baik mungkin terlihat seperti ini: telepon atau video call di jadwal yang konsisten — bukan terlalu sering, bukan terlalu jarang. Berkunjung secara rutin tapi tidak setiap minggu. Bertanya tentang perkembangan anak — bukan hanya soal nilai, tapi juga soal perasaan, teman, dan kegiatan yang disukainya.

Apakah ini selalu mudah? Tentu tidak. Setiap orang tua punya gaya dan kondisi yang berbeda. Yang penting bukan kesempurnaan, tapi kesadaran bahwa kehadiran kita — meskipun dari jauh — sangat berarti.

Bagaimana menyikapi kebijakan pesantren yang tidak selalu sesuai harapan?

Ini bagian yang sering menjadi titik konflik. Anak menceritakan sesuatu yang tidak menyenangkan — mungkin soal makanan, mungkin soal aturan yang terasa ketat, mungkin soal pendamping yang kurang responsif. Reaksi pertama orang tua biasanya ingin membela anak dan mempertanyakan pesantren.

Reaksi ini sangat manusiawi. Tapi cara menyalurkannya perlu bijak.

Orang tua yang langsung mengkritik pesantren di depan anak — “kok pesantrennya begitu sih?” — tanpa disadari mengajarkan anak bahwa setiap ketidaknyamanan harus dilawan, bukan dijalani. Sementara di pesantren, anak sedang belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai keinginan — dan itu bagian dari proses kedewasaan.

Pendekatan yang mungkin lebih membantu: dengarkan keluhan anak dengan serius, validasi perasaannya, tapi jangan langsung mengambil kesimpulan hanya dari satu sisi cerita. Kalau ada hal yang benar-benar perlu ditindaklanjuti, komunikasikan langsung ke pihak pesantren — wali kamar atau bagian pengasuhan — dengan cara yang konstruktif, bukan konfrontatif.

Pesantren yang baik seharusnya terbuka terhadap masukan orang tua. Dan orang tua yang bijak seharusnya memberikan masukan dengan cara yang membangun — bukan menghakimi.

Apakah perlu diakui bahwa tidak semua kebijakan pesantren selalu benar? Tentu. Pesantren juga lembaga yang dikelola manusia — ada kekurangan, ada kekeliruan, ada hal yang perlu diperbaiki. Menyampaikan ini dengan tenang dan melalui jalur yang tepat jauh lebih efektif daripada melampiaskan kekecewaan di depan anak.

Bagaimana soal uang saku?

Ini hal yang terdengar sepele tapi dampaknya cukup besar. Orang tua yang memberikan uang saku berlebihan — dengan niat baik, tentu saja — kadang justru menghambat proses belajar kesederhanaan dan pengelolaan keuangan yang sedang dibangun pesantren.

Di sisi lain, uang saku yang terlalu sedikit bisa membuat anak merasa tidak diperhatikan — terutama kalau melihat teman-temannya punya lebih.

Solusinya biasanya sederhana: tanyakan ke pesantren berapa standar uang saku yang wajar, dan ikuti. Pesantren sudah terbiasa mengelola ini dan biasanya punya rekomendasi yang masuk akal berdasarkan pengalaman bertahun-tahun.

Apa sikap yang paling membantu secara keseluruhan?

Percaya pada proses. Ini mungkin terdengar klise, tapi inilah intinya. Orang tua yang percaya bahwa pesantren sedang berusaha yang terbaik untuk anaknya — meskipun tidak sempurna — biasanya memiliki anak yang lebih tenang dan lebih fokus selama mondok.

Percaya bukan berarti menutup mata. Percaya berarti memberi kesempatan pada sistem untuk bekerja, sambil tetap memantau dan berkomunikasi secara sehat. Ini keseimbangan yang tidak mudah — dan setiap orang tua menemukannya dengan cara dan waktu yang berbeda.

Satu hal yang mungkin perlu diingat: anak kita sedang tumbuh di lingkungan yang mungkin sangat berbeda dari cara kita tumbuh dulu. Dan itu tidak apa-apa. Justru dari perbedaan itulah hal-hal baru bisa terbentuk — kemandirian, ketahanan, dan kedewasaan yang mungkin tidak akan muncul kalau anak terus berada di zona nyaman rumah.

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat, berusaha menjaga komunikasi yang terbuka dengan orang tua — meskipun masih banyak yang perlu diperbaiki. Wali kamar, bagian pengasuhan, dan tim penerimaan tersedia untuk dihubungi. Pesantren percaya bahwa keberhasilan santri bukan hanya tanggung jawab pesantren, tapi kerja sama antara pesantren dan keluarga.

Untuk pertanyaan atau diskusi tentang perkembangan anak, bisa menghubungi WhatsApp 0812111180.

Mendukung dari jauh kadang lebih sulit dari mendampingi secara langsung. Tapi dampaknya tidak kalah besar.