Sepak Terjang DART (Darunnajah Art Tournament) 2014

Darunnajah Art Tournament (DART), merupakan salah satu kegiatan santri Darunnajah yang dimulai pada Ahad (16/3) hingga Kamis (20/3). Kegiatan ini adalah ajang para santri untuk mengapresiasikan bakat-bakat seni yang terpendam dalam diri mereka masing-masing. Organisasi Santri Darunnajah yang bertanggung jawab atas segala kegiatan santri di Pondok Pesantren Darunnajah juga memiliki kesempatan untuk memegahkan acara yang diadakan setahun sekali ini.

Kegiatan ini diisi dengan berbagai macam lomba kreatifitas, seperti Lomba Menggambar, Lomba Band, Lomba Marawis, bahkan Lomba Stand Up Comedy serta 25 mata lomba lainnya. Kegiatan ini mewajibkan seluruh santri untuk berpartisipasi dalam seluruh lomba yang diadakan.

Dimana ada lomba, disitu ada pemenang. Pemenang atau Juara Umum Darunnajah Art Tournament diraih oleh Kelas 3 TMI Darunnajah. Kemudian, Juara Favorit diraih oleh Kelas Intensif TMI Darunnajah.

Acara ini diadakan sebagai pelepas penat bagi para santri yang baru saja menyelesaikan ujian mid semester dua. Darunnajah Art Tournament ini juga diadakan sebagai pengganti classmeeting dan mencegah agar santri tidak pulang ke rumah.

Kegiatan ini pun ditutup dengan acara panggung gembira yang rencananya akan dilaksanakan pada Kamis malam (20/3).

Namun, apa yang kita sukai belum tentu Allah sukai. Dan apa yang Allah sukai belum tentu kita sukai. Atas kehendak Allah, para panitia acara diberi cobaan dengan hujan yang amat sangat lebat sehingga mengharuskan semuanya untuk menunggu hari esok.

Keesokan harinya, pada Jum’at siang (21/3), ketika semua persiapan sudah matang, dan perkiraan cuaca agaknya akan baik-baik saja, Allah tetap berkata lain. Dengan kekuasaan-Nya, langit yang tadinya cerah, seketika berubah menjadi gelap. Awan-awan hitam bergerombolan menutupi langit Darunnajah saat itu. Angin kencang diikuti rintik-rintik hujan yang menjadi hujan lebat menyapu Darunnajah secara merata.

Hal itu menyebabkan, background besar dari triplek yang disulap menjadi sebuah istana roboh seketika. Bencana ini menimbulkan korban, yang merupakan bagian dari panitia acara. Korban itu adalah Aziz Qushaery (Kelas 5 TMI) dan Kisai Khalaf (Kelas 5 TMI). Kabarnya, mereka mengalami patah tulang atau pergeseran engsel di kakinya. Para saksi mata yang melihat langsung kejadian tersebut, langsung membawa mereka ke rumah sakit terdekat dengan ambulan Darunnajah.

Tragedi-tragedi itu awalnya membuat para panitia pesimis akan berlangsungnya acara ini. Beberapa dari mereka ada yang berlinang air mata, berdoa, dan ada yang tetap berusaha memperbaiki keadaan.

Namun, tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Dengan membangun kebersamaan dan menyatukan kekuatan, para panitia yang tadinya hanya bisa meratapi apa yang telah terjadi, terbakar semangatnya untuk tetap memperjuangkan acara tersebut.

Tanpa basa-basi lagi, mereka memindahkan panggung, background, dan properti-properti lainnya ke Gedung Olahraga Darunnajah (GOR). Tanpa istirahat, mereka memulai semuanya dari nol. Dengan semangat tinggi mereka terus berusaha, tanpa mengenal lelah dan menyerah.

Akhirnya, dalam waktu lima jam, semuanya telah siap. Semuanya telah selesai. “Alhamdulillah, selesai juga. Tapi ingat, ini bukan akhir, tapi inilah awal dari puncak acara ini! Mari kita lihat nanti malam!” ujar salah seorang panitia acara DART ini.

Dan seperti yang direncanakan, malamnya acara tetap berlangsung dengan lancar. Berbagai macam penampilan, seperti Kombinasi Tari dengan Dance, Stand Up Comedy, Band, dll. Acara ini juga dimeriahkan oleh tiga pembawa acara non-formal yang unik, bernama Faisal Piliang (Kelas 5 TMI), Handayana (Kelas 5 TMI), dan Yudhaning Satrio Wibowo (Kelas 5 TMI). Dan satu hal lagi, yang merupakan pertama kalinya dari sejarah DART, yaitu pembukaan acara yang menggunakan Bahasa Jepang. Pembawa acara formal tersebut bernama Taufiqurrahman (Kelas 5 TMI) dengan rekannya Rayhan Shafwan (Kelas 5 TMI). Hal ini disambut meriah oleh seluruh jajaran keluarga Darunnajah. Santri senang, ustadz senang, panitia juga. Panitia merayakan kesuksesannya dengan bersyukur kepada Allah SWT dan mengucapkan kalimat hamdalah. Dengan segala hal yang terjadi, mereka dapat mempelajari banyak hal. Mereka merasakan hangatnya kebersamaan.

Dari semua ini, banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Semua kejadian dalam hidup ini adalah harapan semua orang yang sesungguhnya. Ketika Allah menyembunyikan matahari dan membuatkan awan mendung, kebanyakan orang mengeluh. Dan ketika Allah memberikan hujan lebat disertai petir yang bersahut-sahutan, kebanyakan orang merasa kesal. Mereka semua mencari dan mengharapkan matahari. Padahal mereka tidak tahu bahwa Allah sedang ingin membuatkan mereka seutas pelangi.

“Sesungguhnya disetiap kesulitan, terdapat kemudahan.”

Penulis: Muhammad Borneo Verando

DSC03038