Setiap pagi, sebelum kelas dimulai, ada satu hal yang selalu terjadi di pesantren tanpa pernah absen. Ustadz yang berdiri di depan asrama atau di gerbang kelas, menyapa santri yang lewat dengan senyum dan menyebut nama mereka satu per satu. Bukan sapaan formal. Bukan sapaan yang dipaksakan oleh SOP. Tapi sapaan yang tulus dari seseorang yang benar-benar mengenal setiap wajah yang melintas di hadapannya.
Mengapa sapaan pagi dari ustadz begitu berpengaruh?
Karena bagi anak yang jauh dari rumah, dikenali adalah kebutuhan yang sangat mendasar. Ketika seseorang menyebut namanya di pagi hari — bukan nama keluarganya, bukan nomor absennya, tapi nama kecilnya — anak itu merasa dilihat. Merasa diperhatikan. Merasa bahwa kehadirannya punya arti di tempat ini.
Di sekolah umum dengan ratusan murid, guru mungkin hanya mengenal nama beberapa anak yang menonjol. Di pesantren, wali kamar dan ustadz yang tinggal di lingkungan yang sama mengenal setiap santri secara personal — kebiasaannya, kelebihannya, kegelisahannya, bahkan makanan favoritnya.
Ketika seseorang mengenalmu sedekat itu, senyumnya di pagi hari bukan sekadar formalitas. Itu adalah cara untuk bilang — aku tahu kamu ada di sini, dan aku senang kamu ada.
Apa dampaknya terhadap santri yang sedang dalam kondisi sulit?
Ada hari-hari di mana santri bangun dengan perasaan berat. Mungkin semalam ia bermimpi tentang rumah. Mungkin ada tugas yang belum selesai. Mungkin ada konflik kecil dengan teman yang belum terselesaikan. Di hari-hari seperti itu, sapaan dari ustadz di pagi hari bisa mengubah segalanya.
Bukan karena sapaannya menyelesaikan masalah. Tapi karena sapaan itu mengingatkan santri bahwa ada orang dewasa yang peduli padanya di tempat ini. Ada seseorang yang akan menyadari kalau ia tidak hadir, yang akan bertanya kalau wajahnya murung, yang akan mencari tahu kalau semangatnya turun.
Rasa aman yang muncul dari kehadiran orang dewasa yang peduli adalah fondasi paling penting dalam pendidikan anak. Tanpa rasa aman itu, anak tidak bisa belajar dengan optimal. Dengan rasa aman itu, anak berani mencoba, berani gagal, dan berani bangkit lagi.
Bagaimana hubungan ustadz dan santri di pesantren berbeda dari guru dan murid di sekolah umum?
Perbedaannya ada di waktu. Di sekolah umum, interaksi guru dan murid terjadi di jam pelajaran — beberapa jam sehari, lima hari seminggu. Setelah bel pulang berbunyi, masing-masing kembali ke dunianya.
Di pesantren, ustadz dan santri hidup di lingkungan yang sama dua puluh empat jam. Ustadz melihat santri belajar, bermain, beribadah, makan, bahkan tidur. Wali kamar tinggal di dekat asrama dan mendampingi santri dari bangun tidur sampai lampu dipadamkan. Kedekatan seperti ini menciptakan hubungan yang melampaui hubungan profesional guru-murid. Ia menjadi hubungan yang lebih menyerupai hubungan keluarga.
Ustadz yang mengenal santrinya secara mendalam bisa mendeteksi perubahan sekecil apa pun. Ia tahu kalau santri yang biasanya ceria tiba-tiba pendiam. Ia tahu kalau santri yang biasanya rajin tiba-tiba malas. Dan karena ia tahu, ia bisa bertindak — bukan dengan hukuman, tapi dengan percakapan. Dengan pertanyaan sederhana. Dengan kehadiran yang menenangkan.
Apa yang dirasakan santri terhadap ustadz mereka?
Hormat yang tulus. Bukan hormat yang dipaksakan oleh aturan atau rasa takut, tapi hormat yang tumbuh dari pengalaman merasakan kepedulian seseorang selama bertahun-tahun.
Santri yang pernah dibangunkan dengan lembut oleh wali kamarnya untuk tahajud akan menghormati beliau seumur hidup. Santri yang pernah dijenguk ustadznya saat sakit di klinik akan mengingat kebaikan itu sampai ia punya anak sendiri. Santri yang pernah dibimbing dengan sabar saat hafalannya tersendat akan berterima kasih bukan hanya di wisuda, tapi di setiap kali ia membuka Quran.
Hubungan ini bertahan jauh melampaui masa sekolah. Alumni pesantren yang sudah dewasa masih mengunjungi ustadznya. Masih mencium tangannya saat bertemu. Masih meminta nasihatnya di momen-momen penting. Karena ustadz di pesantren bukan hanya pengajar — ia adalah orang yang hadir di masa paling pembentuk dalam hidup seseorang.
Mengapa kehadiran guru yang tulus adalah fondasi pendidikan terkuat?
Kurikulum paling canggih tidak akan bekerja tanpa guru yang peduli. Fasilitas paling lengkap tidak akan bermakna tanpa manusia yang mengisinya dengan kehangatan. Anak bisa belajar di mana saja — tapi anak hanya bisa tumbuh dengan optimal di tempat di mana ia merasa dicintai dan diperhatikan.
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, sistem pendidikan dua puluh empat jam didukung oleh ustadz dan wali kamar yang tinggal di lingkungan pesantren dan mendampingi santri setiap hari. Bukan hanya mengajar di kelas, tapi juga hadir di asrama, di masjid, di lapangan, di ruang makan — di setiap momen yang membentuk hari-hari santri.
Senyum dari ustadz di pagi hari mungkin terlihat seperti hal kecil. Tapi bagi santri yang menerimanya, senyum itu bisa menjadi pembeda antara hari yang berat dan hari yang penuh semangat. Dan setelah bertahun-tahun, senyum-senyum itu menumpuk menjadi kenangan yang paling sering dirindukan.
Buat yang ingin tahu lebih banyak tentang sistem pengasuhan dan pendampingan di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap keluarga yang bertanya selalu disambut hangat.