Pernah gak sih, merasa semangat banget di awal saat ingin memulai kebiasaan baru, lalu nyerah gitu aja sebelum bulan berakhir. Nah, itu bukan hanya karena kurang kemauan, tapi targetnya yang kurang besar. Di sinilah micro-habit bekerja. Bukan dengan menuntut lebih banyak, tetapi dengan meminta lebih sedikit: Mulai dari 2 menit saja.
Kok bisa cuma minta 2 menit sehari, apa gak kurang? Tentunya enggak dong. 2 menit untuk membuka buku, mengenakan sepatu lari, atau menuliskan satu kalimat jurnal. Terdengar sepele kan? Justru itulah kekuatannya. Ketika langkah awal terasa mudah, kita akan terus melakukannya tanpa rasa terbebani.
Untuk memulai kebiasaan baru, pilihlah satu kebiasaan dulu, jangan langsung tiga atau lima. Jangan dimulai dengan “olahraga 1 jam”, tapi “pakai sepatu lari”. Bukan juga “baca 1 bab”, melainkan “baca 1 halaman”. Sisipkan kebiasaan baru di antara kegiatan yang sudah kita lakukan setiap hari.
Disaat kita sudah terbiasa dengan kegiatan baru, kamu boleh menaikkan levelnya. Jika sepatunya sudah terpasang setiap pagi, tambahkan 5 menit untuk berjalan-jalan santai di sekitar rumah. Jika 1 halaman sudah terbaca, maka cobalah untuk membaca 2 halaman.
Nah, di sini kita akan naik pelan-pelan dan nyaris tidak terasa terasa oleh kita sendiri, segingga pikiran dan tubuh tidak akan menolak. Jika sewaktu-waktu jadwalnya berantakan, kembalilah ke 2 menit awal. Ini bukan suatu kemunduran, melainkan cara agar kebiasaan itu tetap berjalan.
Menyadari bahwa kita tidak pernah berhenti untuk memulai kebiasaan baru itu lebih penting dibandingkan dengan seberapa besar hal yang kita lakukan hari ini. Jadi, jangan ukur dirimu dari seberapa banyak yang kita capai hari ini, tapi dari keberanian untuk terus memulai kembali esok hari.
