
Merupakan sebuah aksioma bahwa kondisi kehidupan seseorang akan selalu berubah. Bahkan didapatkan sebuah kenyataan bahwa tidak ada yang terus-menerus terjadi kecuali perubahan itu sendiri.
Ada kalanya seseorang merasakan kehidupannya sangat membahagiakan dan menyenangkan. Serasa dia akan hidup selamanya karena kebahagiaan yang sedang dialaminya.
Namun pada waktu berikutnya, dia merasakan kepahitan dan kegetiran kehidupan yang terjadi bertubi-tubi. Hingga menyimpulkan lebih baik hidup ini segera diakhiri.
Berangkat dari fenomena di atas, hendaknya seorang mukmin menyadari betul bahwa itulah salah-satu Sunnatullah atau hukum alam.
Dengan pemahaman yang benar maka akan mendatangkan sikap yang benar pula. Sehingga dia dapat menghadapi setiap kondisi dengan ketenangan hati.
Kunci ketenangan hati dalam menjalani kehidupan ini bisa dirumuskan dalam 4 S : Senang Syukur, Susah Sabar.
Ya, seperti dijelaskan dalam sebuah Mahfudzat :
الدهر يومان؛ يوم لك و يوم عليك
Masa (kehidupan) itu terbagi dua : waktu bahagia dan waktu kesedihan.
Jadi, ketika dalam kesenangan hendaknya banyak bersyukur, sehingga akan bertambah kenikmatan itu. Ketika dalam kesusahan maka tidak ada solusi tepat kecuali harus sabar.
Bersyukur ketika dalam kenikmatan dan bersabar dalam kesedihan/kesusahan menjadi karakter mukmin yang baik.
Allah SWT memberikan garansi bahwa kemenangan akan selalu bersama keimanan, serta dijauhkan dari kehinaan diri dan kesedihan hati.
ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين.
Sekali lagi, ingin senantiasa tenang hati?, praktekan 4 S : Senang Syukur, Susah Sabar !. (Dirangkum Senin, 7/3/2016, Mr. MiM).




