SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Darunnajah Charity

 Kalau saya jadi orang kaya, saya akan dirikan sekolah yang teratur dan gratis “ ( citat-cita waqif KH. Abdul Manaf M th 1939/umur 13th saat tidak bisa sekolah karena hidup dalam keluarga miskin)

 

     Sebagai masyarakat  Indonesia , kemiskinan menjadi persoalan klasik yang tidak terselesaikan. Kemiskinan yang merupakan kondisi deprivasi terhadap sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar berupa sandang, pangan, papan, dan pendididikan dasar begitu melekat pada sebagian besar masyarakat kita. Tahun 2004, angka dari Biro Pusat Statistik (BPS) untuk penduduk miskin Indonesia mencapai 36,1 juta dari total 217 juta orang.

 

     Keberhasilan upaya penanggulangan kemiskinan akan ditentukan oleh lima hal. Pertama, kebijakan yang dirumuskan dengan baik (good policy), dibangun melalui proses partisipasif dengan mendengarkan suara si miskin dan dilakukan secara inklusif dengan melibatkan stakeholders. Kedua, komitmen penganggaran jangka menengah yang pasti. Ketiga, dukungan kelembagaan yang kredibel dan kapabel. Keempat, mekanisme pengendalian dan pengawasan (safeguarding) yang solid. Kelima, monitoring dan evaluasi yang terbuka, dengan indikator kinerja yang jelas dan terukur, serta tindak lanjut (enforcement) yang nyata terhadap hasil monitoring dan evaluasi.

 

     Bayangan kemiskinan di dunia pendidikan terlihat sangat nyata pada tingkat pendidikan dasar. Secara kasat mata dapat kita lihat bagaimana puluhan ribu murid sekolah dasar harus belajar di sekolah yang nyaris ambruk. Memang pendidikan harus lebih memperhatikan isi bukan penampilan, namun sarana minimal untuk terlaksananya pendidikan tetap harus ada. Meskipun ketika sarana telah terpenuhi, kualitas pendidikan akan sangat ditentukan oleh sumber daya insani yang mengelola sekolah tersebut yakni para guru.

 

Oleh karena itu keberadaan Darunnajah Charity di Indonesia yang merupakan proyek masa depan yang idealis, perlu melakukan reformasi/perubahan dalam hal paradigma pendidikan. Sehingga kita mempunyai kesadaran yang sama, bahwa untuk mencetak kualitas lulusan yang unggul diperlukan calon siswa yang relevan dan potensial. Dan untuk menjaring para calon siswa yang potensial diperlukan sebuah program seleksi yang benar-benar ketat dan sesuai sasaran.