Efektivitas dapat diukur dengan indikator peningkatan produktivitas sekolah seperti tingkat kehadiran guru dan siswa, kerja sama tim, dan tingkat partisipasi dalam pengambilan keputusan (1994: 7). Menurut Abin Syamsudin, sekolah efektif adalah satuan pendidikan yang menunjukan suatu ukuran tingkat kesesuaian antara hasil yang dicapai (achievements, observed outputs) dengan hasil yang ditetapkan terlebih dahulu (1999:19).
Sekolah efektif merupakan perpaduan dari (1) karakter kepemimpinan pembelajaran yang kuat, (2) terpusat jelas pada hasil belajar, (3) memiliki harapan yang tinggi, (4) memiliki lingkungan aman dan kondusif, dan (5) terpantaunya hasil pencapaian belajar secara berkelanjutan pada suatu sekolah (Turney, at all.1992: 5)
Sekolah efektif dinyatakan Hatton dan Smith dalam tulisannya yang berjudul Perspectives on Effectives Schools (1992:1) berkarakteristik (1) memiliki kepemimpinan pengajaran yang kuat (2) terpusat pada produk belajar (3) harapan siswa yang tinggi (4) lingkungan yang aman dan sesuai dengan harapan (5) memiliki kekerapan dalam memonitor tingkat pencapaian hasil.
Dijelaskan Abin Syamsudin dalam skema model analisis posisi internal organisasi maka efektivitas merupakan posisi output dibanding dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Lihat ukuran efektivitas pada skema analisis posisi internal organisasi di bawah ini:
Selain efektivitas, terdapat efisensi, produktivitas, apresiasi, relevansi, dan aspirasi di samping adanya batas pemenuhan standar untuk menyatakan ukuran dalam sebuah organisasi.
Penyelenggaraan proses pengelolaan sekolah yang efektif berkembang dari mulai merumuskan tujuan yang diharapkan dapat dicapai, mendeskripsikan profil siswa yang diharapkan dapat dibangun, serta merumuskan tahap-tahap kegiatan yang harus berproses yang jelas, terarah, dan terukur sehingga akhirnya diperoleh peta mutu produk kinerja sekolah.
Kejelasan arah menggambarkan pemenuhan standar yang berarti berkembangnya proses konservasi untuk memproteksi ketangguhan, keamanan, serta daya tahan kepemimpinan yang bertumpu pada disiplin, perhatian, standar, kepemimpinan yang saling berpengaruh terhadap perubahan Wilson (2004:1)
Dari uraian singkat di atas kita memperoleh gambaran bahwa sekolah yang efektif adalah sekolah yang mewujudkan kinerja dengan tujuh karakter berkut:
- Fokus mewujudkan tujuan dengan jelas dengan standar yang tinggi
- Menentukan target dalam perencanaan sebagai dasar untuk menentukan ukuran keberhasilan atau kriteria keberhasilan.
- Pengelolaan terpusat pada psroduk belajar siswa.
- Memiliki kepemimpinan pembelajaran yang kuat, berdisiplin, bepengaruh dalam melakukan perubahan.
- Sekolah aman, nyaman, dan kondusif.
- Memantau perkembangan pencapaian berlajar secara berkala dan berkelanjutan.
- Mengembangkan kebijakan partisipasi seluruh pemangku kepentingan.
Skema efektif menjadi salah satu ukuran kinerja sekolah dalam pencapaian tujuan dalam pemenuhan keterlaksanaan kegiatan maupun hasil kegiatan. Pernyataan ini jika dikaitkan dengan sistem pengelolaan sekolah, maka seorang kepala sekolah memiliki kewajiban untuk:
- Memahami masalah berupa kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi yang diharapkan.
- Menentukan tujuan pada setiap program pemecahan masalah yang dihadapi sekolah.
- Menentukan indiakator dan kriteria keberhasilan dalam proses dan hasil pelaksanaan program.
- Menentukan alat ukur untuk memetakan keberhasilan program.
- Memilih strategi yang paling efektif dalam mewujudkan tujuan.
- Menerapkan strategi.
- Memantau, mensupervisi, dan mengevaluasi pelaksanaan dan hasil dengan menggunakan instrumen yang sudah dirumuskan.
- Melaksanakan refleksi pencapaian kinerja dan melakukan perbaikan berkelanjutan.
Dari delapan tindakan yang banyak sekolah abaikan, berdasarkan hasil pemantauan adalah ;
Sekolah kurang fokus menentukan target keberhasilan hal ini terbukti dalam menentukan setiap program sekolah belum memiliki indiakator dan target keberhasilan yang sinergis dengan target pengembangan kompetensi lulusan.
Sekolah kurang menghargai fungsi kontrol terutama terlihat dari apa yang diukur keberhasilan dalam supervisi bukan target mutu keunggulan yang sekolah cita-citakan, bahkan sebagian sekolah membiarkan guru bertindak bebas sesuai selera pribadinya tanpa kendali profesional oleh kepsek.
Mentapkan target mutu dan mengukur keberhasilan merupakan komponen utama yang menjadi perlu menjadi penanda kepala sekolah menerapkan standar dengan sungguh-sungguh atau hanya sekedar formalitas yang hanya terdengar dalam pernyataan, namun sulit dipotret dalam tindakan nyata yang terlihat dan jelas maslahatnya bagi perubahan mutu sekolah menjadi lebih baik.
Referensi:
Hatton dan Smith (1992) Perspectives on Effectives Schools. http://eric.uoregon.edu/ publications/digests/digest129.html
Syamsudin, Abin (1998) Analisis Posisi Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Turney, C. et al. (1992). The School Manager. Australia: Allen & Unwin.
Wilson, Noel (2004) Educational Standards and the Problem of Error,, The Flinders University of South Australia, http.//cpaa. asu.edu/epaa /v6n 10/c6.htm,2004) http://eric.uoregon.edu/trends_issues/edgov/selected_abstracts/board_super_relations.html
nanink





