Sejarah Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Darunnajah 2 Cipining Bogor Sejarah Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Darunnajah 2 Cipining Bogor

Sejarah Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Darunnajah 2 Cipining Bogor

Tahfizh Al-Qur’an merupakan salah satu program unggulan utama pendidikan di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, ratusan alumninya telah menghafal Al-Qur’an 30 juz, Mereka menyebar ke berbagai penjuru negeri, berkhidmah dalam menjaga Kalam Ilahi.

Sejarah Pesantren <a href=Tahfizh Al-Qur’an Darunnajah 2 Cipining Bogor" width="500" height="337" srcset="https://darunnajah.com/wp-content/uploads/2025/12/Pesantren-3-500x337.png 500w, https://darunnajah.com/wp-content/uploads/2025/12/Pesantren-3-512x345.png 512w, https://darunnajah.com/wp-content/uploads/2025/12/Pesantren-3-920x620.png 920w, https://darunnajah.com/wp-content/uploads/2025/12/Pesantren-3.png 933w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px" />
Sejarah Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Darunnajah 2 Cipining Bogor

Redaksi Wardan mengajak para pembaca mulia untuk menelusuri puzzle rangkaian sejarah dan per-kembangan Lembaga Tahfizh Al-Qur’an (LTQ) Darunnajah 2 Cipining. Tulisan ini berdasarkan data dan informasi fakta dari para saksi sejarah sekaligus pelakunya, baik yang sampai saat ini masih eksis berjuang di almamater tercinta maupun mereka yang berjihad di luar kawah candradimuka Darunnajah 2 Cipining.

Tahun 1996, beberapa santri: Syihabudin, Zuhri Muhammad Toha, Edi Mediantara dan Isroni Rosyidi yang masih duduk di kls 6 TMI mendapat informasi bahwa Ust. Ali Najib (Kendal), Ust. Fathul Arifin (Kalimantan), Ust. Suheli (Sulawesi Selatan) dan Ust. Awwalli Amir Boor (Jakarta) Angkatan pertama (Aldacipta) pada 1 Juni 1994, dan kemudian disusul oleh Ust. Shoim Muhdhori dan Ust. Mulyadi Abbas serta Ust. Romli Angkatan kedua (Rothsan) tahun 1995, mereka dikirim oleh Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bapak KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc untuk khidmah (mengabdi) di Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju Tuju Kajuara Bone Sulawesi Selatan.

Mereka dikirim sebagai guru pengajar dan sekaligus sebagai santri Tahfizh Al-Qur’an. Mendengar informasi penting tersebut, para santri khususnya mereka berempat yang tertarik untuk ikut ke Pesantren Daru Huffadh, mulai menghafal Al-Qur’an secara mandiri.

Waktu itu di Pesantren Darunnajah 2 Cipining belum ada program Tahfizh Al-Qur’an dengan target 30 juz. Program yang sudah ada ialah menghafal beberapa surat pilihan, seperti Yasin, Al-Mulk, Al-Waqi’ah serta surat-surat di Juz ‘Amma (Juz 30), dikenal dengan kurikulum ‘Ibadah ‘Amaliyah. Silabusnya disusun oleh salah seorang Pendiri Darunnajah, KH. Drs. Mahrus Amin. Mereka berempat masih selalu ingat ketika dipanggil oleh Bapak Kiai dan diberikan semangat untuk menghafal Al-Qur’an.

Bahkan secara teknis, Bapak Kiai mengarahkan mereka berempat untuk berkomunikasi dan bersilaturahmi ke Pesantren Mambaul Furqon Leuwiliang Bogor agar dapat menyetorkan hafalan setiap hari Kamis dan Jum’at.

Diantara kenangan menarik, sebagai santri kader Ashabunnajah (kini Thulabul Minhah-red), mereka juga mendapat tugas ‘Amaliyah sebagai penguatan life skill, seperti: menjaga kantin, menjaga koperasi, petugas binatu/laundry, ternak ayam dan ikan, belanja ke pasar, hingga memeriksa aliran air ke gunung.

Sejarah Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Darunnajah 2 Cipining Bogor
Sejarah Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Darunnajah 2 Cipining Bogor

Adapun Syihabudin dan Edi Mediantara mendapat amanah leadership yaitu memelihara kambing. Nyatanya hal ini justru menambah penyemangat mereka untuk tetap menghafal Al-Qur’an. Setiap pulang sekolah mereka mengembala kambing dan mengambil rumput, di sela-sela itu mereka tetap sambil menambah hafalan. Akhirnya, mereka mampu menghafal 7-10 juz

Dengan modal hafalan tersebut, ketika lulus TMI Darunnajah 2 Cipining, mereka berempat diberi Amanah untuk mengabdi di Darul Huffadh menyusul kakak kelas mereka. Hal mana mereka yang telah datang lebih awal dan sudah selesai menghafal Al-Qur’an 30 juz di sana, akan segera kembali khidmah di Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Mereka berangkat menggunakan kapal Kerinci selama 2 hari 2 malam.

Dalam catatan mereka berempat, sampai waktu mereka berangkat pun, masih belum ada program Tahfizh Al-Qur’an di Pesantren Darunnajah 2 Cipining secara formal institusional. Jadi, jika ditanyakan siapa inisiator pendirian program Tahfizh Al-Qur’an? Ya, jelas sekali bahwa Bapak Kyai inisiatornya, dan para santri tersebut mengikuti apa yang diarahkan beliau.

Dua tahun mereka mengajar sekaligus belajar Tahfizh Al-Qur’an di sana, tepatnya 8 bulan di Darul Huffazh yang dipimpin oleh KH. Lanre Sa’id (1923-24/5/2005) dan 1 tahun lebih di Darul Abrar yang dipimpin oleh KH. Muttaqin Sa’id (putra dari KH. Lanre Sa’id dan kawan seangkatan KH. Dr. Sofwan Manaf, M.Si. di PMD Gontor).

Pesantren Darul Abrar yang berlokasi di Dukuh Pallattae Desa Balle Kecamatan Kahu Bone Sulawesi Selatan adalah pesantren yang mereka berempat ikut aktif mendirikannya dari nol, tertunya sesuai dengan bidang kemampuan mereka. Setelah mereka berempat kembali ke Darunnajah 2, berangkatlah Ust. Muhtadin Abrori (angkatan kedua, Rothsan) ke Darul Huffadh. Sepulangnya Ust. Ali Najib Al-Hafizh pada Sabtu, 22 Februari 1997, maka pada Maret 1997, di Masjid Jami’ dibuka dan dimulai program Tahfizh Al-Qur’an secara resmi di Pesantren Darunnajah 2 Cipining.

Kemudian diperkuat oleh Ust. Shoim Muhdhori Al Hafidh dan Ust. Mulyadi Al Hafidh, setelah keduanya juga kembali ke Cipining. Sehingga sepulang mereka bertiga ke Pesantren Darunnajah 2 Cipining pada 1998, mereka sudah langsung mendapatkan banyak anak kader yang sudah ikut program Tahfizh Al-Qur’an. Bahkan program Tahfizh ini kemudian dijadikan salah satu pilihan utama untuk anak kader. Adapun Ust. Edi Mediantara Al Hafidh melanjutkan khidmahnya sampai tahun 2000 di Darul Abrar.

Walhasil, yang melatarbelakangi adanya Program Tahfizh Al-Qur’an di Pesantren Darunnajah 2 Cipining adalah keinginan kuat dari Bapak Kiai untuk menjadikan anak didiknya Hafal Al-Qur’an (Hafizh) dan beliau berkeyakinan kuat bahwa program Tahfizh inilah yang membuat (baca: menjadi asbab) pesantren ini berkah. Beliau berkeyakinan demikian karena berkaca ke pesantren-pesantren lain yang juga mendirikan pesantren Tahfizh Al-Qur’an, rerata senantiasa maju berekembang penuh keberkahan.

Secara sanad, para guru Tahfizh Al-Qur’an Pesantren Darunnajah 2 Cipining adalah musammi’ pertama mereka yaitu Bapak Kiai Ma’sum Al-Hafizh Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Mambaul Furqon di Bojong Leuwiliang Bogor.

Adapun sanad para santri Tahfizh Al-Qur’an Pesantren Darunnajah 2 Cipining, tentunya bersambung kepada musammi’ pertama mereka yakni Ust. Ali Najib Al-Hafizh, Ust. Mulyadi Abbas Al-Hafizh dan Ust. Shoim Muhdhori Al-Hafizh. Sanad KH. Lanre Sa’id berasal dari Haramain dengan guru Tahfizh utamanya Syaikh Hafifi Al Mishriy, warga Negara Mesir alumni Makkah bahkan pernah menjadi Mufti di Arab Saudi.

Tahun 1998, salah satu anggota atau santri kader yang sering men-tasmi’-kan hafalannya ke Ust. Syihabuddin Al-Hafizh adalah Arif Wardani. Kini, Dr. KH. Arief Wardhani, Lc., Dipl., M.Hum., merupakan pendiri Majelis Al-Qur’an Abu Amru Abbas El Akkad (MAQURAA) Mesir. Ia memiliki sanad 14 Qira’at Al-Qur’an: 10 Qira’at Kubra Mutawatirah dan 4 Qira’at Syadzah. Ia juga mendirikan dan memimpin sebuah Pesantren Tahfizh Al-Qur’an di Kendal Jawa Tengah.

Untuk teknis menghafal Al-Qur’an di Darul Huffazh yang juga ditiru di Darunnajah 2 Cipining, selalu ditekankan beberapa hal berikut ini: 1. Menghafal Al-Qur’an tidak boleh sendirian. Harus ada teman yang menyimak. 2. Tidak boleh menghafal cepat. 3. Usahakan menghafal di tempat yang ramai artinya untuk melatih fokus dan konsentrasi.

Di Darul Huffazh, lokasi pesantrennya di pinggir jalan, maka para santri banyak yang menghafal tapi pandangan ke arah jalan melihat hilir mudik kendaraan, sembari mulut mereka tetap menghafal Al-Qur’an. 4. Proses hafalan selalu berpasangan antar santri untuk bisa saling koreksi.

Dalam Rihlah Munadzamah 2016 ke Pesantren Yanbuul Qur’an Kudus, para santri Darunnajah 2 Cipining juga mendapati wasiat dari pendiri pesantren masyhur tersebut yakni Mbah Arwani bahwa ‘(Hafalan) Yang Sedikit Tetapi Meresap Lebih Baik Daripada (Hafalan) Banyak Tetapi Lenyap’ atau seperti yang terbaca di tempelan kata-kata motivasi di asrama sana dalam tulisan Arab: Qaliilun Qarraa Khairun Min Katsiirin Farra,

قليل قرّ خير من كثير فرّ.

Secara kronologis historis, berikut adalah para Ketua/Penanggungjawab/Koordinator Program Tahfizh Al-Qur’an Darunnajah 2 Cipining:

  1. Ust. Ali Najib: 1997-1998, 2. Ust. Shoim Muhdhori: 1998-2006, dengan diwakili Ust. Arif Wardani: 2002-2005, 3. Ust. Asmari Ihsan: 2006-sekarang. Para alumni Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Darunnajah 2 Cipining yang telah selesai menghafal 30 juz pada awal pertama kali adalah Ust. Arif Wardhani & Ust. Indah Hamazi (alumni Darul Amanah Kendal). Keduanya diwisuda pada 2001, bersamaan dengan Haflah Takharruj Santri kelas 6 TMI angkatan 8.

Adapun secara keseluruhan, hingga tahun 2025 ini, LTQ  telah meluluskan 271 orang (135 putra, 136 putri) alumni penghafal Al-Qur’an 30 juz. Alhamdulillah.