Sejarah Jazirah Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Kondisi Geografis, Sosial, dan Spiritual

Sejarah Jazirah Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Kondisi Geografis, Sosial, dan Spiritual

Sejarah Jazirah Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Kondisi Geografis, Sosial, dan Spiritual
Sejarah Jazirah Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Kondisi Geografis, Sosial, dan Spiritual

Pendahuluan

Jazirah Arab, tanah kelahiran Nabi Muhammad SAW, memiliki sejarah panjang yang menarik untuk dikaji. Bagaimana kondisi wilayah ini sebelum kedatangan Islam? Seperti apa kehidupan masyarakatnya, sistem kepercayaan, dan dinamika sosial yang terjadi?

Memahami konteks sejarah Jazirah Arab pra-Islam menjadi kunci penting untuk menghargai besarnya transformasi yang dibawa oleh risalah Nabi Muhammad SAW. Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai aspek kehidupan di tanah Arab sebelum masa kenabian, mulai dari geografis hingga kondisi spiritual masyarakatnya.

Mari kita telusuri bersama lembaran sejarah yang menjadi latar belakang lahirnya agama Islam yang mulia ini.

Letak Strategis Jazirah Arab

Posisi Geografis di Peta Dunia

Sejarah Jazirah Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Kondisi Geografis, Sosial, dan Spiritual
Sejarah Jazirah Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Kondisi Geografis, Sosial, dan Spiritual

Jazirah Arab menempati posisi unik sebagai jembatan antara benua Asia dan Afrika. Para ulama ahli ilmu bumi menyebutkan bahwa wilayah ini bagaikan “jantung dunia” yang menghubungkan tiga benua utama: Asia, Eropa, dan Afrika. Posisi strategis ini telah menjadikan Arab sebagai titik pertemuan berbagai peradaban sejak zaman purba.

Letaknya di barat daya benua Asia menjadikan Jazirah Arab sebagai jalur perdagangan penting. Wilayah ini dikelilingi oleh perairan dari berbagai sisi, sehingga menyerupai sebuah pulau besar. Inilah yang melatar belakangi penyebutannya sebagai “Jazirah” atau pulau Arab.

Batas-Batas Wilayah

Sahabat Ibnu Abbas ra. menjelaskan bahwa Jazirah Arab dinamakan demikian karena sebagian besar wilayahnya dikelilingi sungai dan lautan. Di sebelah barat, wilayah ini dibatasi oleh Laut Merah yang memisahkannya dari Afrika. Sementara di timur, terbentang Teluk Persia dan Laut Oman serta sungai-sungai Dajlah (Tigris) dan Furat (Euphrat).

Bagian selatan berbatasan dengan Lautan Hindia yang luas. Adapun di utara, terdapat Sahara Tiih, yaitu lautan pasir yang membentang antara negeri Syam dan Sungai Furat. Batas-batas alam ini menciptakan karakteristik geografis yang unik bagi Jazirah Arab.

Luas Wilayah dan Populasi

Dimensi Geografis

Jazirah Arab memiliki luas sekitar 1.100.000 mil persegi atau setara dengan 3.156.558 kilometer persegi. Dari luasan yang mencengangkan ini, sepertiga wilayahnya tertutup oleh lautan pasir. Gurun pasir terbesar di kawasan ini dikenal dengan nama ar-Rabi’l-Khaly.

Wilayah yang tidak tertutup pasir dipenuhi oleh batu-batuan besar dan gunung-gunung tinggi. Di antara pegunungan yang paling terkenal adalah Jabal as-Sarat yang menjulang tinggi. Karakteristik geografis ini membentuk pola kehidupan masyarakat Arab yang khas.

Kondisi Hidrologi

Di Jazirah Arab, tidak ditemukan sungai yang mengalir sepanjang tahun. Lembah-lembah di wilayah ini hanya sesekali terisi air hujan yang kemudian cepat mengering. Sebagian air mengalir masuk ke padang-padang pasir dan sebagian lainnya mengalir ke lautan.

Kondisi ini menciptakan tantangan tersendiri bagi kehidupan penduduk di masa lampau. Pada masa itu, Jazirah Arab dihuni oleh sekitar 10-12 juta jiwa yang tersebar di berbagai wilayah.

Pembagian Wilayah Jazirah Arab

Delapan Bagian Utama

Jazirah Arab terbagi menjadi delapan bagian dengan karakteristik masing-masing: Hijaz, Yaman, Hadhramaut, Muhrah, Oman, al-Hasa, Najd, dan Ahqaf. Setiap wilayah memiliki keunikan geografis dan budaya yang berbeda. Pada zaman dahulu, pembagian wilayah ini sedikit berbeda dengan enam bagian: Hijaz, Yaman, Najd, Tihamah, Ihsa’, dan Yamamah.

Hijaz: Tanah Kelahiran Islam

Hijaz terletak di tenggara Thursina di tepi Laut Merah. Nama “Hijaz” berasal dari posisinya yang memisahkan antara daerah Tihamah dan Najd. Di wilayah inilah terletak kota suci Mekah (Bakkah), tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Di tengah Mekah berdiri Masjidil Haram yang agung. Di pusat masjid tersebut terdapat bangunan suci Ka’bah atau Baitullah yang menjadi kiblat umat Islam. Hijaz menjadi jantung spiritual bagi masyarakat Arab sejak zaman kuno.

Yaman: Negeri Subur di Selatan

Yaman terletak di sebelah selatan Hijaz. Penamaan “Yaman” berasal dari letaknya di sebelah kanan (yaman) jika menghadap ke timur. Di sebelah kiri wilayah ini terdapat negeri Asier yang terkenal.

Wilayah Yaman memiliki beberapa kota besar seperti Saba’ (Ma’rib), Shan’a, Hudaidah, dan Aden. Tanah Yaman merupakan bagian barat daya Jazirah Arab yang dibatasi Laut Merah di barat, Samudra Hindia di selatan, Hijaz di utara, dan Hadhramaut di timur.

Wilayah-Wilayah Lainnya

Hadhramaut terletak di sebelah timur Yaman, berbatasan dengan Samudra Hindia. Muhrah berada di sebelah timur Hadhramaut dengan karakteristik wilayah yang kering. Oman terletak di ujung timur yang bersambung dengan Teluk Persia dan Samudra Hindia.

Al-Hasa berada di pantai Teluk Persia dengan panjangnya mencapai tepi Sungai Euphrat. Najd terletak di tengah-tengah, dikelilingi oleh Hijaz, al-Hasa, Syam, dan Yamamah. Ahqaf berada di ujung Arab sebelah selatan dan barat daya, merupakan dataran yang rendah.

Kekayaan Alam Jazirah Arab

Hasil Bumi yang Beragam

Setiap bagian Jazirah Arab memiliki hasil bumi yang berbeda-beda. Daerah Hijaz, terutama di tepi-tepinya atau desa-desanya, menghasilkan buah-buahan seperti kurma dan anggur. Oman terkenal dengan hasil tambang tembaganya yang berkualitas.

Hadhramaut menghasilkan kayu-kayuan beraroma harum yang terkenal hingga Indonesia, seperti kayu gaharu dan kemenyan. Al-Hasa menjadi penghasil permata-permata berharga. Yaman dapat dikatakan paling kaya akan hasil bumi, menghasilkan buah-buahan, permata berkualitas, dan merjan yang indah.

Binatang Ternak Berharga

Unta menjadi binatang ternak paling berharga di seluruh Jazirah Arab. Hewan ini memiliki banyak kegunaan dibanding binatang lain, baik sebagai kendaraan maupun sumber mata pencarian sehari-hari. Unta menjadi kunci mobilitas di padang pasir yang luas.

Di daerah Najd, terdapat jenis binatang yang sangat berharga dan disukai seluruh dunia, yaitu kuda. Kuda Arab dari Najd terkenal hingga ke penjuru dunia karena kualitasnya yang luar biasa.

Tanah Subur yang Tersembunyi

Para peneliti yang pernah menyelidiki Jazirah Arab menemukan fakta menarik. Anggapan bahwa Arab hanya berupa gurun dan padang pasir ternyata keliru. Di sana terdapat tanah-tanah subur yang telah ditanami sejak ratusan tahun lalu.

Tanah subur terutama terdapat di bagian pantai seperti Yaman, Hadhramaut, dan Ahsa. Di bagian tengah, wilayah Najd dan Yamamah dikenal menghasilkan gandum dalam jumlah besar. Konon, hasil gandum dari kedua wilayah ini pada abad ke-6 dan ke-7 dapat mencukupi kebutuhan seluruh Jazirah Arab.

Keindahan Tersembunyi Hijaz

Wilayah Hijaz memiliki daya tarik tersendiri dengan kota-kota penting seperti Yatsrib (kemudian bernama Madinah). Di sana terdapat bukit-bukit pasir yang baik untuk pertanian. Perkampungan kabilah-kabilah Arab dikelilingi oleh kebun-kebun mereka yang subur.

Bukit-bukit batu menjulang bagaikan benteng pelindung dari serangan musuh. Di lereng bukit tumbuh rumput dan belukar untuk makanan ternak seperti unta dan kambing. Di kaki bukit terdapat mata air yang menjadi sumber kehidupan. Kota Thaif terkenal karena kesuburan tanahnya dan buah-buahan berkualitas.

Ras dan Percampuran Manusia

Tiga Jenis Manusia Utama

Sejarah Jazirah Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Kondisi Geografis, Sosial, dan Spiritual
Sejarah Jazirah Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Kondisi Geografis, Sosial, dan Spiritual

Manusia di dunia terbagi menjadi tiga jenis utama berdasarkan warna kulit: putih, hitam, dan kuning. Manusia berkulit putih berasal dari Persia, tersebar di India, Asia Barat, hingga memenuhi Eropa. Yang berkulit hitam berasal dari Afrika dan Australia, sedangkan berkulit kuning dari Tiongkok hingga Semenanjung Malaya.

Ketiga jenis ini berasal dari tiga putra Nabi Nuh: Sam, Yafits, dan Ham. Mereka berpisah setelah peristiwa di negeri Babil dan menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Percampuran Alami

Manusia sebagai makhluk sosial memiliki tabiat suka bercampur gaul. Dari percampuran inilah muncul beragam warna kulit: antara hitam dan putih, hitam dan kuning, putih dan kuning, dan seterusnya. Proses alamiah ini menciptakan keberagaman ras manusia.

Sebagian ahli tarikh menyatakan bangsa Indian berkulit merah berasal dari percampuran kulit hitam dan kuning. Bangsa Arab berasal dari percampuran kulit putih dan hitam, sehingga dapat dikatakan berkulit “hitam manis”.

Asal-Usul Bangsa Arab

Keturunan Sam bin Nuh

Bangsa Arab termasuk golongan Semit, yaitu keturunan Sam bin Nuh. Para ahli riwayat hampir sepakat bahwa tempat kelahiran pertama keturunan Sam adalah lembah Sungai Euphrat atau dataran antara Sungai Tigris dan Euphrat. Setelah berkembang biak, sebagian bermigrasi mencari tempat tinggal baru.

Dari migrasi ini lahirlah berbagai bangsa: Babilon dan Asiria di Irak, Aram di Syam, Ibri di Palestina, Phunisia di pantai Syam dekat Lebanon, Habsyi di Abessinia, serta bangsa Arab di Jazirah Arab.

Tiga Golongan Bangsa Arab

Para ulama ahli tarikh membagi bangsa Arab menjadi tiga kelompok: al-‘Arabaa’, al-‘Aaribah, dan al-Musta’rabah.

Pertama, Arab al-‘Arabaa’ (Arab al-Baa-idah) adalah bangsa Arab asli yang pertama kali ada. Mereka keturunan Iram bin Sam bin Nuh, terdiri dari sembilan suku: ‘Aad, Tsamud, Amim, Amil, Thasam, Jadis, Imliq, Jurhum Ula, dan Wabaar. Mereka adalah umat tertua setelah kaum Nabi Nuh, tinggal di Babilon, kemudian pindah ke Jazirah Arab.

Dari golongan ini, hanya ‘Aad dan Tsamud yang riwayatnya dapat diketahui karena disebutkan dalam Al-Qur’an. Menurut riwayat, Nabi Ismail belajar bahasa Arab dari mereka. Disebut “al-Baa-idah” karena telah binasa dan tidak ditemukan lagi, kecuali peninggalannya saja. Kabilah ‘Aad berdiam di Ahqaf, sedangkan Tsamud di Hijr dan Wadi al-Qura.

Kedua, Arab al-‘Aaribah (Arab al-Muta’aaribah) adalah bangsa Arab kedua, keturunan Jurhum bin Qahthan bin Aabir (atau Aibar). Sebagian ahli tarikh menyatakan Aabir adalah nama Nabi Hud. Mereka berdiam di Hijaz dan terkenal dengan sebutan Arab al-Yamaniyah karena pusat mereka di Yaman.

Bangsa ini merupakan keturunan Saba’, nama aslinya Abdu Syamsin bin Syasjub bin Ya’rib bin Qahthan. Dinamakan “Saba'” karena sering berperang dan memperoleh kemenangan. Saba’ memiliki anak-anak terkenal seperti Himyar dan Kuhlan. Pada masanya, seluruh kabilah Yaman berada di bawah kerajaan Tababi’ah.

Mereka berhasil menjatuhkan kerajaan Arab al-‘Arabaa’ dan mendirikan beberapa kerajaan di seluruh Jazirah Arab. Setelah kaum ‘Aad dikalahkan, Ya’rib bin Qahthan memegang kekuasaan Yaman. Jurhum bin Qahthan menguasai Hijaz setelah mengalahkan Amaliqah. Kerajaan mereka pecah menjadi tiga setelah peristiwa air bah di Yaman pada tahun 129 SM.

Ketiga, Arab al-Musta’rabah adalah bangsa Arab yang “dijadikan Arab” atau Arab Ismailiyah yang menurunkan Adnan. Adnan inilah yang menurunkan Nabi Muhammad SAW. Mereka berasal dari Nabi Ismail bin Ibrahim, dan Ibrahim bukan berasal dari bangsa Arab melainkan dari Kan’an yang pindah ke Mekah.

Nabi Ibrahim pindah ke Mekah bersama istrinya dan putranya Ismail. Setelah dewasa, Ismail dinikahkan dengan Halah binti Harits bin Amr al-Jurhumiy dari kabilah Jurhum (keturunan Arab al-‘Aribah). Ibrahim dan Ismail pernah membangun Ka’bah di tengah Mekah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

Ismail memiliki 12 putra yang kemudian menurunkan berbagai keturunan. Mereka mengembara ke berbagai tempat, sebagian tinggal di dusun dan sebagian di kota seperti Mekah, Madinah, dan Jidah. Inilah yang disebut Arab al-Musta’rabah atau Arab Ismailiyah. Keturunan Ismail menurunkan Adnan yang kemudian terkenal sebagai Arab Adnaniyah.

Mata Pencarian Bangsa Arab

Dua Kelompok Penduduk

Bangsa Arab di Jazirah terbagi menjadi dua golongan: penduduk kota dan penduduk desa. Jumlah terbesar adalah yang tinggal di desa-desa, padang pasir, dekat gunung, atau lereng bukit. Golongan besar ini dikenal sebagai Arab Badui.

Bangsa Arab Badui memelihara binatang ternak, terutama unta. Unta dipelihara dengan baik karena sangat berguna untuk mengembara di padang pasir yang luas dan panas, serta untuk mencari penghidupan. Arab Badui terbesar adalah di Hijaz dan Najd.

Tantangan Ekonomi

Sifat manusia selalu merasa kekurangan membuat penghasilan sering tidak mencukupi kebutuhan hidup. Hal ini memicu perselisihan dan pertengkaran yang berujung peperangan. Tidak mengherankan jika sebagian mereka melakukan pekerjaan berbahaya bagi ketenteraman umum seperti merampas, merampok, dan menyamun.

Sebagian besar bangsa Arab yang tinggal di kota bermata pencarian sebagai pedagang ke luar negeri. Namun karena sulitnya perjalanan dan gangguan dari penduduk padang pasir, perdagangan mereka tidak begitu maju dan tidak dapat memenuhi keperluan hidup sepenuhnya.

Dampak Kondisi Alam

Keadaan penghidupan seperti ini berlangsung beratus-ratus tahun. Meskipun udaranya panas, iklim Arab baik untuk kesehatan sehingga penduduknya umumnya kuat dan sehat. Hujan sangat jarang turun, dan jika terlambat, penduduk kesulitan memperoleh air.

Sebagian besar penduduk kabilah-kabilah Arab jarang tinggal tetap di satu tempat. Mereka senantiasa berpindah-pindah mencari hujan, telaga, dan mata air. Kondisi ini menimbulkan sifat rajin, giat, gesit, ringan kaki, dan mudah bergerak, terutama pada golongan Badui.

Pola Hidup Nomaden

Hidup mereka tidak bergantung pada pertanian, terutama yang berdiam di tempat kekurangan air. Penghidupan paling penting adalah berternak kambing dan unta. Bulu hewan ditenun untuk pakaian dan tenda, dagingnya dimakan, dan susunya diminum. Pola hidup nomaden ini menjadi ciri khas masyarakat Arab pra-Islam.

Keagamaan Bangsa Arab Pra-Islam

Warisan Tauhid

Kitab-kitab tarikh mencatat bahwa bangsa Arab di sekitar Jazirah Arab sebelum Nabi Muhammad diutus sudah memahami keesaan Allah. Mereka mengenal Tuhan dan mengikuti agama yang menuhankan Allah. Sejak beberapa ratus tahun sebelum masa kenabian Muhammad, mereka kerap kedatangan dakwah dari para nabi utusan Allah.

Para nabi menyampaikan seruan agar mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Jejak dakwah tauhid ini tertanam dalam sejarah panjang bangsa Arab.

Nabi-Nabi di Jazirah Arab

Riwayat yang masih dapat diketahui dan sebagiannya tercatat dalam Al-Qur’an menunjukkan beberapa nabi utusan Allah datang ke Jazirah Arab. Di antaranya adalah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang berdakwah di wilayah Mekah-Hijaz.

Sebelum mereka, antara negeri Yaman dan Oman (Ahqaf), telah ada utusan Allah yang datang kepada bangsa Arab dari kabilah ‘Aad. Dakwah para nabi ini membentuk fondasi keagamaan masyarakat Arab meskipun kemudian banyak yang menyimpang dari ajaran tauhid murni.

Kesimpulan

Jazirah Arab sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW memiliki dinamika yang kompleks dan menarik. Dari segi geografis, wilayah ini menempati posisi strategis sebagai jembatan antara benua-benua besar dengan kekayaan alam yang beragam. Kondisi gurun yang keras membentuk karakter masyarakat yang tangguh, mandiri, dan adaptif.

Bangsa Arab yang berasal dari keturunan Sam bin Nuh terbagi menjadi tiga golongan besar dengan sejarah panjang. Mereka mengembangkan peradaban dengan berbagai kerajaan, sistem perdagangan, dan pola hidup yang disesuaikan dengan kondisi alam. Mata pencarian mereka berkisar pada perdagangan, peternakan, dan pertanian terbatas.

Dari segi spiritual, bangsa Arab sesungguhnya memiliki warisan tauhid dari para nabi yang pernah diutus kepada mereka. Meskipun demikian, seiring waktu banyak yang menyimpang dari ajaran murni tersebut. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang mengapa Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam, untuk mengembalikan manusia kepada jalan tauhid yang lurus.

Memahami konteks sejarah ini membantu kita menghargai transformasi besar yang dibawa Islam dan melihat hikmah di balik pemilihan Jazirah Arab sebagai tempat kelahiran agama yang sempurna ini.

Pendaftaran Santri Baru