Tahun 23 sampai 35 Hijriah.

Tahun 644 sampai 656 Masehi.

Kehidupan dan sifat-sifat Utsman bin Affan

Utsman bin Affan termasuk salah seorang yang pertama masuk Islam. Ia pernah menjadi sekretaris Rasulullah s.a.w. menuliskan wahyu. Dan di zaman Abu Bakar ia menjadi penasehat Khalifah.

Utsman bin Affan juga terkenal dengan kesalehan dan kejujurannya dalam agama. Dia pernah menafkahkan sebagian besar hartanya untuk memajukan Islam. Dia disayangi oleh Rasulullah sampai dikawinkan dengan puterinya Rukayyah, setelah Rukayyah wafat dikawinkan dengan puterinya yang lain yaitu Ummi Kultsum. Oleh karena itu Utsman bin Affan diberi gelar Dzun-Nuraihi, yang artinya: yang mempunyai dua cahaya, dan pernah hijrah dua kali, ke Habasyah dan Madinah.

Penaklukan di zaman Utsman bin Affan

Di zaman Khalifah Utsman bin Affan daerah khilafah Islam bertambah luas, seluruh tanah Persia sampai di Tebristan, Azerbeijan dan Armenia. Di zamannya pula armada Islam mula-mula dibangun atas anjuran dan usaha Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang ketika itu menjadi Wali (Gubernur) Syam. Armada itu sengaja digunakan untuk menyerang Byzantium. Dengan angkatan laut itulah Mu’awiyah menaklukkan beberapa negeri Asia Kecil dan pesisir Laut Hitam. Dengan armada itu pula ia menduduki pulau Cyprus dan Rhodus.

Serbuan serdadu Romawi atas Mesir

Kejatuhan Mesir ke tangan Islam sangat merugikan Byzantium. Oleh karena itu mereka melanggar perjanjian damai yang mereka buat dengan panglima ‘Amru bin al-‘Ash dahulu. Kota Iskandariah diserang, namun mereka dapat dipukul mundur paa tahun 25 H. (644 M). Kemudian pada tahun 31 H (654 M.) mereka menyerang Mesir untuk kali kedua dipimpin langsung oleh Kaisar Konstantyn putera Heraklius. Akan tetapi penyerangan itu dapat juga dipukul mundur oleh laskar Islam dibawah pimpinan panglima Abdullah bin Sa’ad. Dalam pertempuran itu juga turut serta armada dari kedua belah pihak yang terkenal dengan dengan nama ‘Perang Zatus Shawari’.

Di zaman Utsman bin Affan ini panglima Abdullah menundukkan Afrika (Tunisia) dan menyerang negeri Nubia (sebelah Utara Sudan), sehingga rajanya terpaksa mengikat perjanjian admai dengannya.

Haluan politik Utsman bin Affan

Utsman bin Affan diangkat menjadi Khalifah ketika ia berumur 70 tahun. Tabi’atnya ramah-tamah dan pekertinya lemah-lembut. Keteguhan hati dan kecakapannya seperti yang ada pada Abu Bakar dan Umar tak ada paa dirinya. Pada hal sifat ini perlu sekali bagi seseorang yang akan mengendalikan suatu negara yang sangat luas sebagai negara Islam dikala itu. Apalagi zaman itu adalah permulaan zaman pancaroba bagi kehidupan bangsa Arab, yaitu permulaan masa perpindahan dari kehidupan bersahaja kepada kehidupan yang mewah dan penuh dengan kesenangan, dikarenakan kekayaan yang terus mengalir melipah, datang dari negeri-negeri yang ditaklukkan.

Utsman bin Affan mengangkat para wali (gubernur) dari kerabatnya, hal ini dikarenakan kepercayaan Utsman bin Affan kepada mereka lebih besar daripada kepada orang lain yang bukan keluarganya. Adapun haluan ini diambil dengan harapan memperkuat persatuan khilafah Islam dan menghindari perpecahan.

‘Amru bin al-‘Ash wali Mesir di pecatnya dan penggantinya diangkat Abdullah bin Sa’ad saudara sesusuannya.

Demikian juga wali Bashrah Abu Musa al-Asy’ari digantikan dengan Abdullah bin ‘Amir keluarganya juga, sedang wali-wali lama yang termasuk kerabatnya seperti Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai wali Syam, masih tetap dalam jabatannya. Untuk menjadi penasehatnya diangkat juga dari kerabatnya yaitu Marwan bin al-Hakam.

Begitu pula sekalian jabatan tinggi di zaman Khalifah Utsman juga diangkat dari keluarganya, yaitu keluarga Bani Umayyah. Jadi khilafah Islam ketika itu seakan-akan telah menjadi daulat Bani Umayyah.

Perbuatan yang dianggap ganjil oleh beberapa sahabat ini termasuk cara pembelanjaan harta benda negara menurut cara yang belum pernah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Kepada Abdullah bin Sa’ad diberikan hak menguasai seperlima dari harta rampasan perang yang diperolehnya dari Afrika. Dan kepada kaum Quraisy diizinkan memiliki tanah-tanah di Irak dan Syam dan di daerah-daerah yang lain, sehingga menimbulkan kebencian penduduk negara-negara bagian kepada pemerintahannya.

Maka tidak mengherankan, kalau siasat Utsman bin Affan ini menyebabkan timbulnya kemarahan dan kebencian ummat Islam kepada dirinya dan kepada wali-walinya. Apalagi perbuatan wali-wali itu memungut pajak terlalu tinggi, makin memperbesar api kemarahan itu.

Fitnah yang membawa kematian Utsman bin Affan

Api kemarahan sebagian besar umat Islam kepada Utsman bin Affan semakin lama semakin menyala. Dalam pada itu seorang penghasut dari bangsa Yahudi yang baru masuk Islam, Abdullah bin Saba’ namanya, menambah berkobarnya api yang telah menyala itu.

Dia mengembara kemana-mana dan di kota-kota besar, menghasut dan menjelek-jelekkan nama Utsman bin Affan dan wali-wali yang diangkatnya. Racun fitnah itu disebarkan di Hijaz, Bashrah, Kufah, Syam dan Mesir. Disini dia menghasut sejadi-jadinya, sehingga ia berani mengatakan bahwa Nabi Muhammad pernah berwasiat supaya pangkat Khalifah diberikan kepada Ali bin Abi Talib, dan dia sajalah yang berhak menjadi Khalifah. Hasutannya itu termakan oleh rakyat dan mereka berpendapat bahwa Utsman bin Affan mengambil pangkat Khalifah dengan jalan yang tidak benar, yaitu melanggar wasiat Rasulullah s.a.w.

Ibnu Saba’ dan para pengikutnya di Mesir, di Basrah dan Kufah telah sepakat untuk datang ke Madinah membuat perhitungan dengan Khalifah, kalau perlu dengan kekerasan.

Maka timbullah huru-hara dimana dan utusan Mesir yang akan menghadap Khalifah Utsman bin Affan telah tiba di Madinah. Mereka itu berjumlah 600 orang dan dikepalai oleh Muhamma bin Abi Bakar dan Muhammad bin Abi Huzaifah. Mereka memohonkan kepada Utsman bin Affan untuk mengganti sekalian wali-walinya dan memecat Abdullah bin Sa’ad wali Mesir. Permintaan mereka itu dituluskan oleh Utsman bin Affan. Abdullah dipecat dan sebagai gantinya diganti dengan Muhammad bin Abi Bakar.

Pemberontak mengepung Kediaman Khalifah Utsman

Keputusan Khalifah ini menyenangkan hati utusan Mesir itu, dan merekapun pulang. Akan tetapi mereka kemudian kembali mendapatkan utusan Utsman yang membawa sepucuk surat yang ditulis oleh Marwan dan di stempel dengan stampel Utsman sendiri, surat itu berisi perintah Utsman kepada wali Mesir Abdullah bin Sa’ad supaya menindas dan menghukum sekalian kaum pemberontak. Utusan itu mengatakan bahwa surat itu mereka dapatkan dari seorang suruhan yang sedang dalam perjalanan menuju Mesir. Utsman bin Affan menyangkal tuduhan itu dan dia bersumpah menyatakan tidak sekali-kali menyuruhnya membuat dan ia tidak tahu menahu dengan surat itu.

Mereka meminta kepada Utsman supaya Marwan diserahkan kepada mereka untuk diperiksa lebih lanjut. Akan tetapi Khalifah tidak mengabulkannya.

Laskar Islam saat itu sedang terbagi di beberapa kota yang takluk dibawah kekuasaan Islam. Peluang ini digunakan oleh kaum pemberontak dengan mengepung kediaman Utsman selam 40 hari.

Beberapa orang sahabat yang utama mengirim putera masing-masing untuk melindungi jiwa Khalifah Utsman bin Affan. Setelah pengepungan sampai pada hari ke delapan belas, Utsman meminta bantuan kepada Mu’awiyah dan kepada wali-wali yanglain. Ketika para pemberontak mengetahui akan hal itu, mereka makin naik darah dan sebagian mereka memasuki kediaman Khalifah Utsman bin Affan. Mereka memukul Khalifah dengan pedang sehingga membawa kematiannya dan merampas hartanya. Kejadian nista yang sangat menyedihkan ini terjadi pada tahun 35 H. (656 M.)