Sejarah bulan Muharram dimulai dari sesuatu yang terdengar ganjil di telinga kita: dulu, orang bisa memindahkan kesucian sebuah bulan semudah menggeser jadwal rapat. Bulan yang mestinya haram untuk berperang tiba-tiba “dihalalkan”, lalu larangannya digeser ke bulan berikutnya demi sebuah ekspedisi perang. Kacau, dan disengaja.
Islam datang lalu merapikannya. Itu sebabnya Muharram bukan sekadar lembar pertama di kalender Hijriah. Ada kisah panjang di baliknya: makna namanya, statusnya sebagai bulan suci, julukan istimewa “Bulan Allah”, peristiwa Nabi Musa ‘alaihissalam di hari Asyura, sampai keputusan besar Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang menjadikannya gerbang tahun.
Ringkasnya, sejarah bulan Muharram adalah kisah pemuliaan dan pemurnian waktu. Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang Allah tetapkan sejak penciptaan langit dan bumi. Bangsa Arab pra-Islam sempat mempermainkan kesuciannya lewat praktik Nasi’, lalu Islam menegaskan kembali keharamannya dan Rasulullah ﷺ menyebutnya Syahrullah. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Muharram dipilih sebagai bulan pertama kalender Hijriah karena beragam pertimbangan spiritual dan historis.

Arti nama Muharram: antara “terlarang” dan “suci”
Kata “Muharram” berasal dari akar yang sama dengan kata haram, yang berarti terlarang sekaligus dimuliakan. Dua makna ini bukan kontradiksi. Justru saling mengunci. Sesuatu dilarang disentuh karena ia begitu mulia dan dihormati, persis seperti tanah haram di Makkah yang tak boleh sembarang ditumpahi darah.
Di bulan ini, dua hal ditekankan untuk dijauhi: pertumpahan darah dan kezaliman. Sebagian ulama tafsir, di antaranya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan Qatadah rahimahullah, menjelaskan bahwa dosa yang dikerjakan di bulan-bulan haram bobotnya lebih berat, dan sebaliknya, amal saleh di dalamnya berpeluang dilipatgandakan ganjarannya. Bukan karena perbuatannya berubah, tapi karena kehormatan waktunya berbeda.
Jadi nama “Muharram” itu sendiri sudah membawa pesan. Ia seperti rambu yang Allah pasang: hati-hati, ini waktu yang dijaga.
Empat bulan haram dan gencatan senjata bangsa Arab
Muharram tidak sendirian. Ia satu dari empat bulan yang Allah muliakan. Allah berfirman:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS At-Taubah: 36)
Keempat bulan itu disebutkan langsung oleh Rasulullah ﷺ dalam khutbah haji wada’. Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, beliau menjelaskan bahwa setahun ada dua belas bulan, empat di antaranya haram: tiga berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, lalu Rajab Mudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban. (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)
Yang menarik, penghormatan terhadap bulan-bulan ini sudah ada bahkan sebelum Islam. Bangsa Arab jahiliyah, dengan segala kerusakan akidahnya, tetap menyepakati satu hal: di bulan-bulan tertentu, pedang harus disarungkan. Tidak ada perang, tidak ada serangan kabilah. Saking sunyinya dari dentingan senjata, bulan Rajab pun mereka juluki al-Asham, yang sunyi.
Bayangkan betapa kuatnya tradisi ini. Seseorang bisa berpapasan dengan pembunuh ayahnya di pasar, di bulan haram, dan ia menahan tangannya. Kehormatan waktu mengalahkan dendam. Itulah fondasi kultural yang kelak Islam akui dan sempurnakan.
Nasi’, ketika manusia berani mempermainkan waktu suci
Masalahnya, tiga bulan haram berturut-turut terasa berat bagi kaum yang hidup dari perang dan rampasan. Menahan diri selama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram berarti memutus sumber penghidupan mereka untuk waktu yang lama.
Maka mereka mencari celah. Lahirlah praktik bernama Nasi’, semacam manipulasi kalender. Seorang tokoh penentu waktu akan berdiri di hadapan khalayak di akhir musim haji dan mengumumkan bahwa kesucian Muharram “ditunda” ke bulan Shafar. Hasilnya, mereka boleh berperang di Muharram dan baru menahan diri di Shafar. Kesucian dipindah-pindah sesuai kebutuhan perang.
Inilah yang Allah kecam keras:
“Sesungguhnya mengundur-undurkan (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran.” (QS At-Taubah: 37)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa penetapan nama Muharram dalam Islam berfungsi sebagai ta’kid, penegasan, agar tidak ada lagi yang berani mengutak-atik hukum kesucian bulan ini. Allah yang menetapkan, bukan manusia. Tidak ada makhluk yang berhak menggesernya.
Ada pelajaran yang terasa dekat di sini. Manusia selalu tergoda menawar aturan langit ketika ia berbenturan dengan kepentingan. Bedanya cuma bentuknya. Mereka memindahkan bulan; kita kadang memindahkan prioritas, menunda ketaatan sampai “waktu yang lebih longgar” yang sering tak pernah datang.
Muharram disebut Syahrullah, bulan yang disandarkan kepada Allah
Di antara dua belas bulan, hanya satu yang Rasulullah ﷺ sandarkan namanya langsung kepada Allah: Muharram. Beliau menyebutnya Syahrullah, Bulan Allah.
Penyandaran semacam ini (idhafah) bukan hal kecil dalam bahasa Arab. Ka’bah disebut Baitullah, Rumah Allah, dan itu menandakan kemuliaannya yang khusus. Begitu pula Muharram. Imam as-Suyuthi rahimahullah mencatat bahwa inilah satu-satunya bulan yang dimuliakan dengan penyandaran langsung kepada nama Allah.
Apa konsekuensinya bagi kita? Rasulullah ﷺ menghubungkannya dengan satu ibadah istimewa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim no. 1163)
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah memberi penjelasan yang indah. Karena bulan ini disandarkan kepada Allah, pantaslah ia diisi dengan ibadah yang juga “milik” Allah secara khusus, yaitu puasa. Bulan Allah, diisi amalan untuk Allah. Ada keserasian yang dalam di situ.
Hari Asyura dalam sejarah bulan Muharram: yang sahih dan yang keliru
Puncak keistimewaan Muharram ada pada hari kesepuluh, hari Asyura. Tapi di sinilah kita perlu jujur dan berhati-hati, karena banyak cerita beredar yang sebenarnya tak punya pijakan kuat.
Anda mungkin pernah membaca daftar panjang “peristiwa Asyura”: katanya taubat Nabi Adam ‘alaihissalam diterima, bahtera Nabi Nuh ‘alaihissalam berlabuh, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam selamat dari api, Nabi Yusuf ‘alaihissalam keluar dari penjara, semuanya pada hari Asyura. Cerita-cerita ini populer, rajin dibagikan menjelang Muharram, dan terdengar menggugah. Persoalannya, mayoritas riwayat semacam itu dinilai para ulama hadits sebagai sangat lemah, sebagian bahkan palsu. Menyebarkannya sebagai kebenaran sejarah justru keliru.
Lalu apa yang benar-benar sahih? Satu peristiwa, dan itu sudah cukup agung. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau bertanya, dan mereka menjawab bahwa ini hari Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dari Fir’aun. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian,” lalu beliau berpuasa dan memerintahkannya. (HR. Bukhari no. 2004 dan Muslim no. 1130)
Selamatnya Nabi Musa ‘alaihissalam dan tenggelamnya Fir’aun, itulah peristiwa Asyura yang berdiri di atas dalil sahih. Kemenangan kebenaran atas kezaliman, terekam dalam ibadah puasa yang kita jalankan sampai hari ini.
Karbala dan sikap Ahlus Sunnah
Sejarah bulan Muharram juga menyimpan luka. Pada 10 Muharram tahun 61 Hijriah, cucu kesayangan Rasulullah ﷺ, Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu, gugur sebagai syahid di Karbala bersama sebagian keluarga dan pengikutnya. Ini tragedi besar, kezaliman yang membuat hati setiap Muslim teriris.
Ahlus Sunnah mencintai Husain radhiyallahu ‘anhu dan seluruh Ahlul Bait. Tapi cinta itu kita tunjukkan dengan adab, bukan dengan ratapan dan menyiksa diri yang tidak pernah Rasulullah ﷺ ajarkan. Satu hal sering terbalik di sini: keutamaan puasa Asyura sudah ditetapkan jauh sebelum peristiwa Karbala terjadi. Jadi Asyura bukan hari berkabung yang lahir dari Karbala, melainkan hari ibadah yang sumbernya adalah sunnah Rasulullah ﷺ sendiri.
Mengapa Umar bin Khattab memilih Muharram sebagai awal tahun Hijriah
Menariknya, kalender Hijriah belum ada di masa Rasulullah ﷺ masih hidup. Ia baru disusun pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, sekitar tahun 16 atau 17 Hijriah. Pemicunya, percaya atau tidak, urusan administrasi.
Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu mengeluh kepada Umar: surat-surat dari pusat datang tanpa keterangan tahun. Sulit mengarsipkannya, sulit pula menentukan jatuh tempo utang yang ditulis “bulan Sya’ban”, karena Sya’ban yang mana? Tahun ini, atau tahun lalu?
Umar pun mengumpulkan para sahabat senior untuk bermusyawarah. Berbagai usulan muncul. Ada yang mengusulkan mencontoh kalender Romawi atau Persia, ditolak. Ada yang mengusulkan menghitung dari tahun kelahiran atau wafatnya Nabi ﷺ. Akhirnya disepakati usulan menjadikan peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah sebagai titik nol. Alasannya kuat: hijrah adalah garis pemisah yang jelas antara kebenaran dan kebatilan, sekaligus tonggak lahirnya masyarakat Islam yang berdaulat.
Tapi muncul pertanyaan lanjutan. Kenapa Muharram yang jadi bulan pertama, padahal Nabi ﷺ hijrah secara fisik di bulan Rabiul Awal? Para sahabat punya pertimbangan matang. Tekad dan persiapan hijrah sesungguhnya sudah membara sejak Muharram, setelah Baiat Aqabah II di penghujung Dzulhijjah. Lagi pula Muharram datang tepat ketika jamaah haji baru pulang dalam kondisi bersih dari dosa, momen yang pas untuk membuka lembaran baru.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menambahkan satu hikmah yang elegan: dengan memulai dari Muharram, tahun Hijriah dibuka dengan bulan suci dan ditutup pula dengan bulan suci, Dzulhijjah. Seolah seluruh tahun dibingkai oleh kesucian.
Lembar kosong yang Allah berikan setiap Muharram
Coba renungkan benang merahnya. Sejarah bulan Muharram, dari ujung ke ujung, adalah kisah tentang menjaga yang suci dan memulai dari yang bersih. Allah memuliakan waktu, manusia jahiliyah merusaknya, lalu Islam mengembalikannya. Umar dan para sahabat memilihnya sebagai gerbang tahun justru karena ia berbicara tentang permulaan yang baik.
Pertanyaannya sekarang berbalik ke kita. Setiap kali Muharram datang, kita diberi satu lembar kosong. Mau diisi apa?
Dan kalau bicara soal permulaan yang baik, kita tahu satu hal: karakter, kecintaan pada Al-Qur’an, dan kebiasaan ibadah tidak tumbuh di ruang hampa. Semuanya ditempa oleh lingkungan yang konsisten membimbing, hari demi hari. Di titik inilah lingkungan tarbiyah seperti Pesantren Darunnajah 2 Cipining mengambil peran, membiasakan santri dekat dengan Al-Qur’an dan adab sejak dini. Bila Anda sedang memikirkan tempat terbaik untuk menumbuhkan benih kebaikan pada ananda, mengenalnya lebih dekat tidak pernah merugikan.
Semoga Muharram tahun ini bukan sekadar pergantian angka, tapi awal yang benar-benar baru.
Wallahu a’lam bish-shawab.
