Sejarah Berdirinya Pondok Modern Gontor

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur adalah sebuah pesantren besar yang sangat menarik. Pesantren ini berdiri pada tahun 1926 jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Alumninya banyak yang berhasil dan menjadi tokoh di masyarakat.

Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan satu simpul pembaruan pendidikan Islam di Indonesia. Pondok ini didirikan pada 12 Rabiul Awwal 1345H/20 September 1926 oleh tiga bersaudara yaitu K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannani dan K.H. Imam Zarkasyi.

Pondok Modern Gontor berakar jauh ke abad 18 yaitu dari Pondok Tegalsari yang didirikan oleh Kiai Ageng Mohammad Besari (Bashori). Pesantren ini memiliki hubungan baik dengan Istana Kartasura setelah Pakubuwono II yang dibantu Kiai Ageng Mohammad Besari meraih tahtanya kembali, setelah sempat terusir dari keraton akibat pemberontakan pada 1742. Sebagai ungkapan terima kasih, Tegalsari ditetapkan oleh Pakubuwono II sebagai wilayah perdikan, yaitu daerah yang bebas dari segala kewajiban kepada kerajaan.

Santri Tegalsari saat itu datang dari berbagai kelas sosial, dari masyarakat biasa hingga kalangan keraton. Pesantren ini mencapai kemajuan pada masa kepemimpinan Kiai Kasan Anom Besari (1800-1862). Semenjak wafatnya, Tegalsari mengalami kemunduran walaupun masih tetap bertahan hingga saat ini.

Pada pertengahan abad ke-19, Tegalsari dipimpin Kiai Cholifah. Salah seorang santrinya yang cerdas dan baik yaitu R.M.H Sulaiman Jamalludin yang kemudian dijodohkan dengan dengan putri Kiai Cholifah.

R.M.H Jamalludin yang cucu dari Pangeran Hadiraja Sultan Kasepuhan Cirebon, diberi amanat untuk mendirikan pondok di sebuah desa, 3 km sebelah timur Pondok Tegalsari. Bersama 40 santri yang dibekalkan kepadanya, Jamalludin melakukan babad desa. Maklumlah kawasan yang dibuka itu adalah wilayah tak bertuan, lebat oleh pepohonan dan dihuni binatang liar. Kawasan itu sebelumnya dikenal sebagai sarang penyamun dan para warok. Dalam bahasa Jawa, tempat itu disebut enggon kotor atau tempat kotor. Dari nama inilah, muncul nama Gontor.

Pondok yang didirikan oleh Sulaiman Jamalludin ini berkembang pesat hingga generasi ketiga saat dipimpin oleh Kiai Santoso Anom Besari. Selanjutnya berbekal tekad bulat dan tanggung jawab melanjutkan perjuangan menegakkan agama, Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani dan Imam Zarkasyi membangun kembali Pondok Gontor warisan orang tuanya itu.

Undangan Raja Saud dari Arab Saudi kepada para pemimpin Islam di Indonesia untuk menghadiri Konferensi Umat Islam sedunia di Mekah pada 1926, juga menjadi salah satu pemicu pendirian Gontor.

Pertemuan para pemimpin umat dan tokoh Islam di Surabaya untuk menentukan kualifikasi utusan dari Indonesia yaitu mahir berbahasa Arab dan Inggris ternyata tidak mudah untuk diwujudkan. Akhirnya disepakati mengirim dua orang utusan yang ahli berbahasa Inggris yaitu HOS Cokroaminoto dan satunya lagi K.H. Mas Mansur yang mahir berbahasa Arab. Tahun itu juga, sepulang dari Mekkah, HOS Cokroaminoto menyampaikan pidato berisi ide-ide kebangkitan dunia Islam pada Konggres Umat Islam di Surabaya. Ide-ide yang disampaikannya adalah buah pemikiran tokoh pembaharu Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh.

Kesan pertemuan ini membekas pada pemuda Ahmad Sahal yang hadir pada pertemuan itu yang kemudian mendiskusikannya bersama kedua adiknya yaitu Zainuddin Fannani dan Imam Zarkasyi. Mereka kemudian mengambil langkah kongkret dengan adalah mendirikan Tarbiyat al Athfal (pendidikan anak-anak) di Gontor. Tarbiyat al Athfal mengajarkan materi-materi dasar agama Islam, bimbingan akhlak, kesenian, dan pengetahuan umum sesuai tingkat kebutuhan masyarakat saat itu. Di samping itu diajarkan pula cara bercocok tanam, beternak, pertukangan, bertenun dan berorganisasi.

Kegiatan pendidikan di Gontor itu menarik orang-orang dari luar desa berdatangan. Karena minat yang besar dari masyarakat, Tarbiyat al Athfal membuka cabang di desa-desa sekitar Gontor. Beberapa Tarbiyat al Athfal lantas bergabung membentuk Tarbiyat al Islam (pendidikan Islam) dengan masa belajar 6 tahun.

Setelah menamatkan muridnya yang pertama, dibukalah program lanjutan bernama Sullam al Muta?llimin (Tangga Para Pelajar) yang berlangsung hingga tahun 1936. Tingkatan ini mengajarkan ilmu Fiqh, Hadist, Tafsir, terjemah Al-Quran secara lebih luas dan dalam. Santri juga diajari cara berpidato, cara membahas suatu persoalan, ilmu Jiwa dan Psikologi dan mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler berupa ketrampilan, olahraga, kesenian dan berorganisasi.

Pada peringatan satu dasawarsa Pondok tanggal 19 Desember 1936, diperkenalkan sebutan modern untuk Pondok Gontor. Sejak itu, nama lengkap pondok menjadi Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pada peringatan itu pula diresmikan berdirinya sistem pendidikan baru bernama Kulliyat al-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI atau Sekolah Pendidikan Guru Islam). Sistem KMI ini mengganti sistem Tarbiyat al Athfal maupun Tarbiyat al Islam. Inilah sistem pendidikan pesantren modern yang berbeda dengan sistem pondok pesantren tradisional yang berlaku umum saat itu.

Santri belajar dengan sistem klasikal layaknya yang berlaku di madrasah. Selain mendapat pelajaran agama dan umum, bahasa pengantar pembelajaran dan bahasa pergaulan santri wajib memakai bahasa Arab dan Inggris. Di belakang hari, sistem KMI ini dicontoh dan ditiru oleh Pondok Pesantren Darunnajah dengan nama TMI (Tarbiyatul Muallimin/at al Islamiyah).

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang Banten

Detil-detik melepas K.H. Saifuddin Arief

[Celoteh santri] Detik-detik terakhirDetik-detik menuju UN[Celoteh Santri] Detik-detik UjianDETIK-DETIK MENJELANG UJIAN NASIONAL MTsDetik-Detik Amaliah TadrisDetik-detik Jelang Panggung Gembira Santri Kelas 6 TMIDETIK-DETIK MENJELANG HAFLAHTUT TAKHARRUJDetik-detik