Sebuah Cerpen: Tidak Lulus

“Ambil saja hikmahnya!” kata bapak kepala sekolah seraya memberikan surat kelulusanku.

Wajahnya tampak asing, tak ada senyum disana. Bahkan aku merasakan masam. Tatapannya pun tak mampu aku artikan. Entah kemarahan yang tersimpan di dalam hatinya atau rasa kasihan yang sangat mendalam terhadap nasib kelulusanku. Apresiasi yang jarang aku temukan pada si pemilik Madrasah Aliyah Darunnajah ini.

“Terima kasih, Bapak!” timpalku gamang. Pikiranku yang tiba-tiba berkecamuk, kucoba redam. Hasilnya, aku turut menyimpan gejolak perasaan. Dalam benak yang terdalam, rasa heranku bermunculan. Kunantikan satu jawaban untuk sebuah pertanyaan. Kenapa ia berkata “Ambil saja hikmahnya!”.

Aku tak lagi mampu menatap bias wajahnya. Buru-buru kuterima  sebuah amplop putih dari tangannya. Pada sebuah pojok ruang kelas ini, aku diam. Tanpa menunggu waktu, kubuka amplop itu. Kudapati namaku setelah itu nama bapakku. Ayu Fitriani binti  Hamdi.

“Ah…. Semoga bapak tenang disana!”

Sosok bijaksana itu, serasa demikian dekat. Aku merasakan dia bersamaku. Mendampingiku saat ini. Kuteruskan menyisir kata demi kata, uraian demi uraian. Hingga pada sebuah kata ‘lulus’ yang tercoret  pena berwarna biru dan kata ‘tidak lulus’ terlihat jelas tanpa sebuah coretan.

“Apa….?. Nggak mungkin. Nggak mungkinnn” Aku histeris. Aku merasa aneh dan asing di tempat ini. Aku berlari menembus luka. Tiada lagi wajah-wajah yang kukenal sesiapa. Semua terkabur air mata. Tertimbun kenyataan yang tiada pernah aku kira. Aku putus asa.

 

—–=+=—–

 

“Yu,….Kamu nggak lulus, ya?” tanya Dewi seketika setelah kupersilahkan duduk di ruang tamu rumahku.

Aku yang hendak duduk, terpaksa urung. Perasaanku mendadak menuai kesal. Namun, aku juga tak kuasa untuk meluapkan kekesalanku padanya. Terpaksa, kuredam semampuku.

“Mau minum apa?” elakku sebisanya.

“Apa aja..” tukasnya.

“Oke”

Aku menuju dapur. Dengan segelas teh manis hangat di tangan, kutemui Dewi kembali. Aku mencoba tersenyum. Walau kupaksakan, kuberharap ia temukan sebuah jawaban. Aku tidak ingin menambah derita hati ini.

“Ada kabar apa, Wi?”

“Aku abis dari sekolahan ambil surat kelulusan. Kan waktu pembagian kemarin, aku nggak bisa datang, pas ke Semarang. Trus tadi bapak kepala sekolah titip pesan, kamu besok suruh menemuinya di sekolah. Jam 8 pagi”

“Kok, kamu tau kalau aku nggak lulus? tanyaku seketika.

“Semua teman juga sudah tau, Yu..” Dewi menatapku.

“Owh…” lirihku.

Air mata ini mengalir juga. Setelah beberapa hari ini aku menangis, di hadapan Dewi, tangisku pecah kembali. Kini, aku merasa bukan Ayu yang dulu, peraih beasiswa pendidikan saat di kelas X dan XI. Aku hanyalah seorang siswi yang malang. Bahkan, teramat sangat malang.

“Yu, kamu jangan sedih ya! Aku tau kamu murid yang pandai. Tapi ini mungkin belum nasibmu. Ambil saja hikmahnya! Trus jangan lupa, besok ke sekolah!”

Dewi berdiri, memelukku. Aku mengantarkannya hingga pintu. Diapun pergi hingga hilang dari pandanganku.

 

—-=+=—-

 

Aku telah berdiri di atas kursi kayu yang selama ini menemaniku belajar. Dengan rasa kacau, kucoba menarik tali dari selendang yang kupersiapkan tepat di atas tempatku berdiri. Kuat. Kucoba menariknya kembali,  benar-benar kuat.

Aku duduk kembali. Kuraih secarik kertas dan sebuah pulpen. Ucapan rasa sesal dan kesal kutulis sebagai pembuka isi surat tersebut. Lalu permintaan maaf teruntuk ibu, agar memaafkan segala kesalahanku. Karena aku tahu, telah mengecewakannya.

Mataku berkaca-kaca saat pandanganku tertuju pada bingkai yang memuat photo kecilku. Dalam gendongan ibu, aku terlihat lucu. Saat itu, umurku 4 tahun. Dan bapak, berdiri gagah di samping ibu.

“Ah, wajahnya telah lama kurindu. Maafkan aku, Bapak! Aku rindu, Bapak”

Butiran air mata tiada kuasa kubendung lagi. Sesaat, butiran bola-bola air hangat itu membasahi pipiku. Mengalir deras lalu berpindah ke atas kertas yang berada tepat di bawah wajahku. Kuambil beberapa tisu. Kuhapus kesedihanku.

Aku kembali berdiri. “Buat apa bersedih? Aku toh, tidak mungkin lagi mengembalikan masa lalu. Dan masa depan, tak lagi kumiliki. Lebih baik aku mati” batinku.

“Yuuuuu. Yuuu….sedang apa di dalam? Kenapa kamu kunci? Yuuuu. Yuuu. Sedang apa di dalam? Buka, Yuuu!! Buka !!!”

Ibu menggedor-gedor pintu kamarku. Teriakannya membuyarkan lamunanku. Aku seakan terpaku. Aku semakin pilu.

“Yuu…kamu sedang apa? Dengar ibu tidak?.. Yuuu Buka pintunya! Buka!”

Suara ibu meninggi. Berteriak-teriak. Lalu menangis…memanggil-manggil namaku

Aku semakin kacau. Kembali aku menaiki kursi. Berdiri dan kuraih tali itu cepat-cepat. Sesaat kemudian, tali telah melingkari leherku. Aku tak ingin kembali terbayang-bayangi siapapun. Bapak, ibu, teman-teman, dan lainnya, tak boleh mencegahku. Maka, setelah pecah pikiranku, kutendang kursi di bawahku. Aku menggelepar-gelepar. Leherku tercekik kuat. Oksigen yang kuhirup tersumbat hebat. Tak mampu lagi kubernafas. Lama-lama kumelihat dunia seolah-olah berlari menjauhiku. Kucoba menatapnya sebisaku hingga kedua bola mataku kerasakan telah keluar dari tempatnya. Aku menemui ajalku sedemikian sakitnya.

Kubuka kedua mata meski sedikit perih. Namun yang kulihat hanya gelap. Sepi dan senyap. Dan aneh, tiba-tiba kumelihat sosok yang sangat kukenal. Dalam gelap, pakaiannya tampak putih. Wajahnya tanpa ekspresi. Bapak. Ia berdiri dan diam. Memandangku tanpa bara.

Saat aku belum sempat berbuat apa-apa. Sosok bapak berbalik. Diam sesaat dan berjalan.

“Bapak. Bapak. Bapaaakkk, ini aku. Ayu!” teriakku

Namun seolah tidak mendengar. Bapak tetap berjalan. Aku berdiri dan mengejarnya.Tapi sosok itu malah menghilang tanpa bayang.

“Bapaaakkk. Ini Ayu. Bapak kemana? Ini Ayu. Ini Ayu!”

Aku menangis tersedu dan meronta. Aku menjelajah duka. Tidak jauh dari tempatku, bayang sosok bapak muncul kembali. Kali ini, bapak terlihat lebih tua. Tidak saja pakaiannya yang putih, namun rambutnya pun telah memutih. Aku yakin, sosok itu pasti bapak. Tapi, lagi-lagi bapak hanya berdiri dan diam. Kenapa bapak tidak mendekatiku?

“Bapak. Ini Ayu! Ini Ayu!”

Bapak malah berbalik dan meninggalkanku. Diam tanpa kata-kata, tidak seperti yang kuinginkan. Aku ingin bapak menyambutku. Membelai rambut kemudian memelukku.

“Bapak, ini Ayu” kukeraskan suaraku agar bapak mendengarnya.

Bapak berhenti. Menoleh. Tanpa hitungan detik, bapak berbalik pergi kembali. Lalu hilang, entah kemana.

“Bapak…. Bapak….. Bapak!”  aku memanggilnya, namun tetap saja sia-sia. Aku semakin mengeraskan suaraku. Aku kalap kali ini. Aku tidak mau kehilangan kali kedua. Aku berdiri dan mengejarnya.

Tiba-tiba saja aku terbangun. Nafasku terengah-engah.  Kurasakan gerah yang teramat sangat. Kuusap  sekitar leherku, basah. Aku melihat jam beker, jam 6 sore. Kualihkan pandanganku ke jendela, kudapati remang menyelimuti senja. Sayup-sayup kemudian kutangkap kumandang  azan Maghrib dari masjid raya yang berada di seberang jalan.

“Ya, Allah, aku mimpi buruk. Aku bertemu bapak. Tapi kenapa bapak enggan menemuiku?” aku merenung. Kitaran pertanyaan tanpa jawaban memenuhi benakku. Mimpi adalah bahasa yang sulit kupahami maksudnya. Selaksa makna yang tiada pernah bisa kueja. Apakah ini berhubungan dengan keputusasaanku menatap dunia selanjutnya, setelah kumenyerah pada kata ketidaklulusan.

 

—-=+=—-

 

Aku berdiri tepat di depan pintu kantor kepala sekolah. Aku tidak mau lagi berprasangka, namun keyakinanku tetap saja enggan menggerakkan tanganku untuk mengetuk pintu. Kini keyakinan itu malah terselimuti partikel-partikel keraguan. Berulang kali kukuatkan perasaan, semakin kuat pula dorongan ketakutan.

“Ya Allah, kumohon kekuatan, bukan ketakutan” pintaku mengiba. Aku jadi berpikiran, kalau Tuhan melihat apa yang kulakukan, apa yang hendak dikatakan?

Kuhimpun pundi-pundi kekuatan.

“Tok, tok,tok….Assalamu’alaikum”

Tanpa kumenunggu, jawaban dari dalam menyahut.

“Wa’alaikumussalam”. Suara yang sangat kukenal akhir-akhir ini. Suara yang kerap menasihatkan tentang kesungguhan dan ketekunan saat kumenghadapi ujian. Hingga tekadku demikian bulat untuk menyongsong keberhasilan. Namun, itu hanya angan-angan, setelah kuterima surat  ketidaklulusan. “Ya Tuhan, hikmah apa yang ingin Engkau berikan?”

“Siapa?” tanyanya kemudian dari dalam ruangan.

“A…Ayu, Pak” jawabku panik, sebab aku tak bisa mengingkari perasaanku. Namun kubersyukur, aku masih bisa mengendalikan sedikit keadaan.

“Ya. Masuk!” perintahnya mempersilakan.

Kubuka pintu, pelan. Duduk seperti biasa di belakang meja tugasnya, bapak kepala sekolah memandangku. Kudapati pemandangan yang tidak jauh berbeda dari seminggu lalu di pembagian surat itu, saat kumerasakan sikapnya tidak bersahabat lagi. Sekarang kutahu kenapa sikapnya seperti itu? Karena aku telah mengecewakannya.

Kucoba tetap tegar.

Setelah aku duduk di depannya, ia menatapku lekat-lekat seolah telah lama tidak berjumpa. Dengan tetap menyembunyikan kata-kata, ia memandangku sedemikian lama. Entah karena kesal atau yang lainnya, ia membuang pandangannya ke langit-langit. Aku tetap diam. Membisu dan tak berani mengeja hatinya. Sudah terlalu penat aku dengan kondisi ini. Aku turut menyimpan gumpalan kekesalan.

“Begini…” ia membuka kata-kata, namun sesaat menggantungkannya kembali. Air mukanya berubah, lebih emosional. Akupun tetap diam seribu bahasa.

“Dari wilayah kita, 10 Madrasah Aliyah, satu-satunya yang tidak lulus adalah …kamu” urainya kemudian.

Aku semakin menunduk. Saat semakin dalam kukuatkan perasaan, sesenggukanku semakin mengklimaks.

“Maafkan saya, Pak!” kataku parau.

“Saya tidak mengira. Apa kamu sedang punya masalah? “

Aku hanya menggeleng. Kuseka kedua mataku yang payah oleh linangan air mata. Air mata ini telah terkuras berhari-hari. Kenapa hari ini, seorang yang sangat kuhormati justru kembali mengalirkannya. Kuraba kedua mataku, sudah semakin sembab.

“Ya sudah, 3 hari lagi, kamu ikuti ujian ulangan. Ulangan ini, hanya untuk satu materi yang kamu belum lulus. Bahasa Indonesia. Jam 7, kamu sudah harus sampai sini. Bapak antar kamu ke tempat ujian”

“Iya, Pak, terima kasih” aku mencoba tersenyum. Kuberanikan menatapnya, lagi-lagi ekspresi kekecewaan yang ia perlihatkan.

“Ya sudah, kamu boleh pergi!”

“Mari, Bapak! “ aku bergegas berdiri. Cepat-cepat kuinginkan pergi. Riak-riak jiwa tak lagi kusembunyikan bersama duka. Metafora-metafora luka biarlah tak lagi berkecamuk mengiringi kata. Teringat aku akan sajak Chairil Anwar yang mengisahkan duka. Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari. Hingga hilang pedih perih.

 

—-=+=—-

 

“Bu, Ayu berangkat” izinku pada ibu  yang tengah asyik menjahit beberapa bajunya menggunakan jarum jahit. Dengan kaca mata minusnya, ibu sering kali melewati hari–hari tuanya. Kaca mata itu, menurut ibu, telah menjadi saksi kenangan saat bersama bapak.

Suatu hari di saat bapak masih hidup, bapak meminta ibu untuk menjahit satu baju dinasnya yang sobek. Setelah beberapa hari, baju itu hendak digunakan, namun bapak kaget karena belum dijahit juga. Kontan saja, bapak menegur ibu, tapi ibu malah menangis.

Bapak jadi penasaran. Dengan sehalus mungkin bapak mengajak ibu bicara. Sebenarnya telah beberapa kali ibu mencoba memasukkan benang ke dalam jarum untuk menjahit namun tidak pernah berhasil. Ibu jengkel dan menangis. Singkat cerita, ternyata tanpa sepengetahuan bapak, ibu memeriksakan matanya dan hasilnya minus.

Untuk membeli kaca mata yang harganya tidak murah, ibu tidak mampu. Dan untuk bilang ke bapak, ibu merasa kasihan. Karena memang saat itu mereka sedang banyak pengeluaran dan gaji bapak belum seberapa. Makanya ibu bingung dan menangis.

Mendengar kejujuran ibu, bapak tersenyum masam. Kemudian bapak meminta maaf atas tegurannya masalah baju yang belum dijahit itu. Bapak bilang kalau nanti punya uang, akan membelikan ibu kaca mata. Dan tepat pada ulang tahun ibu, bapak memberikan hadiah kaca mata itu. Makanya, itu kaca mata spesial dari bapak.

“Kok ngalamun, Yu?… Iya hati-hati! Kalau sudah selesai, langsung pulang ya!” perkataan ibu mengagetkanku.

“Iya..Assalamu’alaikum!”. Aku mencium tangan ibu dan pergi tanpa menunggu jawaban darinya. Ibu adalah orang yang sangat kusayangi, karena dialah satu-satunya harta nan paling berharga milikku. Dalam hatiku yang terdalam, aku selalu berdoa’a untuk sang ibu, semoga limpahan karunia dan rahmat selalu Allah curahkan padanya. Diam-diam hatiku berkata, “Maafkan aku, Ibu!”

Dua jam aku berada di angkot, akhirnya sampai juga di Merdeka Bogor. Tepat di depan  Plaza Jembatan Merah, aku turun dan masuk ke dalam. Aku langsung menuju Gunung Agung yang terletak di lantai dua. Beberapa kali datang ke tempat ini, membuatku sangat hapal seluk beluk toko buku favorit ini.

Aku mulai memilih-milih buku di dereten NORI—Novel Remaja Islam. Satu, dua judul kucermati lebih teliti. Lalu aku kembalikan lagi. Pada buku kumpulan cerpen dari komunitas penulis fiksi Bogor yang berwarna hijau,  kutambatkan pilihanku.

Aku kembali memutari bagian buku motivasi. Setelah lama melihat, aku pun tidak tertarik untuk membeli. Kemudian aku menuju rak majalah. Aku memilih majalah anak remaja. Saat tengah asyik-asyiknya kumembaca satu demi satu ‘headline’ dari setiap majalah yang kusisir dengan tanganku, tidak sengaja pandanganku jatuh pada majalah yang tertulis jelas di  covernya sebuah judul berbunyi “Tidak Lulus UN, Bukan Akhir Dari Segalanya”.

“Judulnya nyindir saya banget, nih” batinku. Rasa penasaran menyergap benakku. Kubawa majalah itu duduk di tempat baca. Aku mulai membolak-balik judul yang tertulis di cover pada halaman aslinya. Pada halaman 5, kutemukan juga tulisan komplitnya.

Kolom Kajian Utama. Ditulis oleh seorang profesor pakar pendidikan jebolan UI. Aku semakin mengkonsentrasikan bacaanku. Kata demi kata kubaca dengan seksama. Seolah-olah aku tidak ingin meninggalkan ejaannya. Setiap frasa mengikat makna. Larikan-larikan kalimat yang telah terbaca, mengukuhkan motivasiku.

Dalam tulisannya, sang profesor mengawali dengan pembahasan plus minus kebijakan pemerintah terkait UN. Bab ini membuatku memahami kontroversi yang terjadi terkait pelaksanaan UN. Aku langsung menuju  permasalahan selanjutnya.  Sementara di luar plaza, sang surya telah tergelincir ke tepi barat. Siluet  keemasan kian merona menandakan hari mendekati batas senja.

“Pak profesor benar juga, nih. Memang tidak seharusnya aku berputus asa” bisikku dalam-dalam. Aku tersentak, saat menoleh, seorang perempuan paruh baya tengah tersenyum dan meminta maaf atas ketidaksengajaannya menabrakku. Kualihkan pandanganku pada sebuah dinding letak sebuah jam berbentuk kotak bermotif bunga-bunga terpasang. Pukul 5 sore.

Aku buru-buru membawa majalah dan buku kumpulan cerpen tadi ke tempat kasir. Setelah membayar, kuayunkan kedua kakiku keluar plaza. Mobil angkot jurusan Jasinga yang baru terisi beberapa penumpang berhenti di depanku, tanpa menunggu,  kuturut masuk dan duduk. Mobil angkot kembali melaju seolah berpacu dengan waktu. Sementara itu hatiku berpijar cahaya baru.  Selaksa do’a kubaca. Ruang-ruang gelap pada jiwaku, kusentuh kembali dengan segenggam asa.

Bapak memanggilku. Aku mendengarnya. Aku kenal suaranya. Kumencari pada sumber suara. Sosok itu kembali hadir menyapa. Aku kini melihatnya.

“Bapak…ini Ayu”. Bapak tersenyum sambil mengangguk. Kini wajahnya demikian berseri laksana rembulan di malam purnama. Aku pun tersenyum. Tapi, lagi-lagi bapak kembali tanpa bayang. Ia menghilang.

Aku terbangun menemukan titik sempurna kesadaran.

“Ah, aku mimpi bapak lagi”

Laju mobil angkot semakin kunikmati penuh keyakinan. Melaju menembus harapan. Kini aku siap membangun dunia masa depan.

 

—-=+=—-

(Semoga menjadi inspirasi, UN bukanlah segala-galanya. Masih ada rencana indah untuk setiap kita dari setiap kegagalan yang terjadi__red)