Para guru baru masa pengabdian tahun ajaran 2026–2027 menjalani Pembekalan Guru Baru selama enam hari, mulai Senin, 27 Juli hingga Sabtu, 1 Agustus 2026, di Aula Al Ghozali. Departemen SDM menggelar kegiatan ini untuk menyiapkan para pendidik agar siap menjadi uswah sekaligus pengajar yang baik selama masa pengabdian. Ruangan itu berubah menjadi kelas panjang tempat mereka belajar kembali, kali ini dari kursi yang berbeda. Sebelum berdiri di depan santri, mereka lebih dulu duduk sebagai murid.
Selama enam hari, peserta mengikuti empat belas materi inti yang dipadatkan dalam dua sesi setiap hari, yakni sore pukul 16.00–17.30 dan malam pukul 20.00–21.30, ditambah dua sesi pagi pada Jumat. Kelompok materi pertama menyentuh sisi teknis keguruan, mulai dari penyusunan perangkat ajar dan administrasi TMI, kesekretariatan, hingga pelaporan keuangan organisasi. Bagian ini menegaskan satu hal sederhana, bahwa niat baik seorang pendidik perlu ditopang oleh ketertiban kerja. Guru yang rapi mencatat dan merencanakan akan lebih tenang saat berdiri di depan kelas.

Kelompok materi berikutnya bergeser ke wilayah yang lebih dekat dengan kehidupan santri. Peserta dibekali pemahaman tentang kepengasuhan, tugas wali kamar, kepemimpinan, kepesantrenan di tingkat guru, serta keutamaan shalat berjamaah. Ada pula sesi khusus mengenai bahaya khalwat dan pergaulan yang melampaui batas, materi yang menempatkan guru sebagai penjaga sekaligus contoh. Susunan ini memperlihatkan bahwa tugas guru pesantren berlanjut jauh setelah jam pelajaran usai, di asrama, di masjid, dan di setiap perjumpaan dengan santri.
Sisi keilmuan dan ruhani mendapat porsi tersendiri melalui materi kuliah, majlis ‘ilmi, ta’lim, serta pengajaran Al-Quran dan tajwid. Dua materi bahkan digelar terpisah antara peserta putra di FO Kampus 3 dan peserta putri di Aula Al Ghozali, agar pembahasan bisa menyesuaikan medan tugas masing-masing. Wakil Pengasuh Ust. Assoc. Prof. Dr. H. Musthafa Zahir, Lc., M.A. turun langsung membawakan materi tentang struktur organisasi pesantren pada Rabu sore. Kehadiran pimpinan di kursi pemateri menandakan pembekalan ini dipandang sebagai fondasi, bukan formalitas pembuka tahun ajaran.
Jika ditarik benang merahnya, seluruh materi bermuara pada satu kesimpulan yang berulang: kemampuan mengajar dan kepribadian seorang guru berjalan beriringan. Pesantren memberi bobot yang setara antara keterampilan menyusun perangkat ajar dan kedisiplinan dalam ibadah serta pergaulan. Guru yang tinggal bersama santri sepanjang hari mengajar melalui caranya berbicara, berpakaian, dan menepati waktu. Di titik itulah istilah uswah hasanah menemukan maknanya, yakni keteladanan yang lahir dari perilaku sehari-hari.

Rangkaian pembekalan ditutup pada Sabtu malam, 1 Agustus 2026, pukul 21.30 oleh panitia. Harapannya, para peserta mengenal dan memahami pesantren secara lebih dalam dan luas sebelum benar-benar memikul amanah di tahun ajaran baru. Enam hari memang waktu yang singkat untuk membentuk seorang pendidik, namun cukup untuk menanam niat dan arah. Bagi keluarga santri dan masyarakat luas, doa serta dukungan bagi para pendidik muda ini menjadi bagian penting dari perjalanan mereka.
