
Kamis malam, 20 Agustus 2026, seusai shalat Isya, Masjid Kampus 3 belum juga kosong. Santri dari kelas satu hingga kelas enam tetap di tempat, bersama para asatidz dan seluruh elemen pondok. Mereka bertahan untuk satu keperluan: istighosah dan doa bersama menjelang Apel Tahunan Pekan Olahraga dan Seni dalam rangka Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy. Sebuah agenda besar akan dimulai, dan malam itu semua memilih memulainya dengan menyebut nama Allah.
Kegiatan berlangsung lancar dari awal hingga akhir. Lantunan doa dibaca serentak, mengisi ruang masjid dengan suara yang seragam di bawah cahaya lampu. Santri mengikuti setiap bacaan dengan tertib dan penuh semangat, meski hari telah berganti malam. Tidak ada kendala berarti yang tercatat, baik pada tahap persiapan maupun saat pelaksanaan berlangsung.
Peserta kegiatan mencakup:
- Seluruh santri dari kelas satu sampai kelas enam
- Kalangan asatidz dan pengurus pondok
- Seluruh elemen pondok yang terlibat dalam persiapan Apel Tahunan
Panitia menilai penyelenggaraan tahun ini lebih mudah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kemudahan itu terasa terutama pada proses pengumpulan anggota panitia dan koordinasi dengan kalangan asatidz. Waktu yang biasanya habis untuk menunggu dan mengulang instruksi kali ini bisa dipakai untuk hal lain. Koordinasi yang rapi membuat acara dimulai dan selesai sesuai rencana.
Tujuan kegiatan ini sederhana namun mendasar. Seluruh rangkaian Apel Tahunan Pekan Olahraga dan Seni diharapkan berjalan lancar dan mendapat ridha Allah SWT. Harapan itu disampaikan bersama-sama, dalam satu majelis, oleh orang-orang yang akan menjalani rangkaian acara tersebut. Doa menjadi titik berangkat sebelum tenaga dan waktu dicurahkan di lapangan.
Pemilihan waktu malam hari memberi warna tersendiri. Selepas Isya, aktivitas belajar dan latihan sudah mereda, sehingga santri datang dengan pikiran yang lebih tenang. Suasana masjid pun terasa lebih hening dibanding siang hari. Dalam keheningan seperti itu, doa terasa lebih dekat dan lebih mudah diresapi.
Di sinilah letak makna yang layak direnungkan. Dalam tradisi pesantren, kerja besar dimulai dari kesadaran bahwa hasil akhir berada di tangan Allah, bukan dari kepercayaan diri semata. Istighosah mengajarkan santri sebuah urutan yang benar: berdoa, lalu berusaha, lalu menyerahkan hasilnya kembali. Pelajaran ini akan terus mereka bawa jauh setelah masa belajar di pondok berakhir.
Ada nilai lain yang tumbuh dari malam itu. Ketika santri kelas satu duduk berdampingan dengan santri kelas enam dan para guru, batas jenjang untuk sementara hilang. Semua menghadap arah yang sama dan membaca kalimat yang sama. Kebersamaan semacam ini menjadi modal penting bagi kegiatan yang menuntut kerja tim seperti Pekan Olahraga dan Seni.
Semangat peserta terlihat sepanjang acara. Santri mengikuti jalannya istighosah dengan sungguh-sungguh, tanpa perlu banyak arahan tambahan. Respons positif juga datang dari pihak-pihak yang terlibat dalam persiapan. Suasana malam itu memberi gambaran awal tentang bagaimana rangkaian acara selanjutnya akan dijalani.
Setelah kegiatan selesai, fokus panitia kembali kepada pekerjaan teknis yang belum rampung. Sejumlah persiapan masih harus diselesaikan sebelum Apel Tahunan resmi dibuka. Doa bersama malam itu menjadi penanda bahwa tahap berikutnya sudah boleh dimulai.
Kepada seluruh santri dan keluarga besar Pesantren Darunnajah 2 Cipining, mari lanjutkan semangat malam ini ke dalam kerja nyata. Selesaikan bagian tugas masing-masing tepat waktu, jaga kekompakan antarangkatan, dan iringi setiap langkah dengan doa. Apel Tahunan Pekan Olahraga dan Seni akan menjadi milik bersama jika dikerjakan bersama. Mari pastikan rangkaian acara ini berjalan lancar dari hari pertama hingga hari terakhir.
