Santri yang Terbiasa Menyelesaikan Perselisihan Sendiri — Kematangan Sosial yang Terbentuk Alami

Santri yang Terbiasa Menyelesaikan Perselisihan Sendiri — Kematangan Sosial yang Terbentuk Alami

Dua anak yang berselisih di asrama tidak bisa pulang ke rumah masing-masing untuk menenangkan diri karena mereka tidur di kamar yang sama. Mereka akan bertemu saat makan, saat shalat, saat belajar, dan saat tidur. Tidak ada cara menghindar. Perselisihan harus diselesaikan karena bila tidak, hidup akan sangat tidak nyaman bagi keduanya.

Bagi orang tua siswa MTs atau SMP yang mempertimbangkan pesantren, aspek penyelesaian konflik jarang menjadi pertimbangan. Asumsi yang sering muncul adalah bahwa konflik antar anak sebaiknya diselesaikan dengan campur tangan orang dewasa. Padahal kemampuan menyelesaikan perselisihan sendiri menjadi keterampilan sosial yang sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam berbagai hubungan sepanjang hidupnya.

Kehidupan asrama menghadirkan konflik sebagai bagian yang tidak terhindarkan. Puluhan anak dengan latar belakang dan kepribadian berbeda hidup bersama dua puluh empat jam. Gesekan pasti terjadi. Yang membedakan adalah bagaimana gesekan itu diselesaikan.

Detail Kecil yang Sesungguhnya Sangat Menentukan

Bila diperhatikan lebih dalam, ada beberapa perbedaan kecil antara konflik di sekolah biasa dan konflik di asrama yang sesungguhnya sangat menentukan hasil pembelajarannya.

Perbedaan pertama adalah bahwa di sekolah biasa, anak bisa pulang. Setelah bertengkar dengan teman, ia pulang ke rumah dan bertemu keluarga yang mendukungnya. Ia bisa bercerita kepada orang tua yang biasanya berpihak padanya. Ia bisa menenangkan diri dan besoknya menghindari teman itu.

Di asrama, tidak ada tempat pulang. Setelah bertengkar, mereka tetap harus tidur di kamar yang sama. Ketegangan tidak bisa dihindari. Hidup menjadi tidak nyaman bagi keduanya sampai persoalan diselesaikan.

Perbedaan kedua adalah bahwa di sekolah biasa, orang tua sering ikut campur. Orang tua yang mendengar anaknya diperlakukan tidak baik biasanya bereaksi. Kadang mereka menghubungi guru, kadang menghubungi orang tua anak yang lain. Konflik antar anak berubah menjadi konflik antar orang tua.

Di asrama, orang tua tidak ada. Anak harus menyelesaikan sendiri atau meminta bantuan ustadz. Namun ustadz biasanya mendorong mereka menyelesaikan sendiri terlebih dahulu.

Perbedaan ketiga adalah bahwa di asrama, ada kepentingan bersama untuk berdamai. Hidup bersama menjadi jauh lebih mudah bila hubungan baik. Kepentingan ini mendorong kedua pihak mencari penyelesaian.

Perbedaan keempat adalah bahwa di asrama, ada saksi dan penengah alami. Teman sekamar yang lain biasanya ikut mendorong penyelesaian karena mereka juga terganggu oleh ketegangan.

Perbedaan kelima adalah bahwa di pesantren ada kerangka nilai yang mendorong perdamaian. Ajaran tentang memaafkan, tentang larangan mendiamkan sesama Muslim lebih dari tiga hari, dan tentang keutamaan berdamai menjadi dorongan yang nyata.

Perbedaan-perbedaan ini membuat konflik di asrama menjadi kesempatan belajar yang jauh lebih efektif dibanding konflik di sekolah biasa.

Kemampuan yang Terbentuk

Kemampuan pertama adalah mengelola emosi sendiri. Ketika marah, anak harus menenangkan diri sendiri karena tidak ada orang tua yang menenangkan. Ia belajar bahwa marah akan berlalu bila diberi waktu.

Kemampuan kedua adalah menyampaikan keberatan dengan cara yang tepat. Anak belajar bahwa marah-marah tidak menyelesaikan apa pun. Yang efektif adalah menyampaikan apa yang mengganggunya dengan cara yang tidak menyerang.

Kemampuan ketiga adalah mendengarkan sudut pandang lain. Dalam perselisihan, biasanya kedua pihak merasa benar. Anak belajar bahwa orang lain juga punya alasan yang masuk akal dari sudut pandangnya.

Kemampuan keempat adalah mengakui kesalahan. Ini yang paling sulit. Mengakui bahwa kita salah membutuhkan keberanian dan kerendahan hati. Namun tanpa pengakuan ini, konflik jarang benar-benar selesai.

Kemampuan kelima adalah memaafkan. Sama sulitnya dengan mengakui kesalahan. Memaafkan berarti melepaskan dendam meski kita merasa berhak marah. Ajaran Islam sangat menekankan hal ini dan santri mempraktikkannya.

Kemampuan keenam adalah mencari titik temu. Kadang kedua pihak benar dari sudut pandangnya. Yang dibutuhkan bukan menentukan siapa yang benar melainkan mencari cara agar keduanya bisa hidup bersama dengan nyaman.

Kemampuan ketujuh adalah menjaga hubungan setelah konflik. Berdamai bukan sekadar berhenti bertengkar melainkan memulihkan hubungan. Ini menuntut usaha dari kedua pihak.

Kemampuan kedelapan adalah menengahi konflik orang lain. Santri senior atau pengurus asrama sering diminta menengahi perselisihan adik kelas. Ini melatih keterampilan yang sangat berharga.

Peran Orang Tua yang Perlu Diperhatikan

Peran orang tua sangat menentukan apakah pembelajaran ini terjadi atau justru terhambat.

Peran pertama adalah menahan diri untuk tidak langsung ikut campur ketika anak bercerita tentang konflik. Dorongan untuk membela anak sangat kuat. Namun ikut campur menghilangkan kesempatan belajar.

Yang lebih baik adalah mendengarkan dengan empati lalu bertanya apa yang menurut anak bisa ia lakukan. Membantu anak berpikir tentang penyelesaian, bukan menyelesaikan untuknya.

Peran kedua adalah tidak langsung mempercayai satu versi cerita. Anak yang bercerita pasti menyampaikan dari sudut pandangnya. Ada sisi lain yang tidak ia sampaikan, kadang karena tidak menyadarinya.

Peran ketiga adalah mendorong anak menyelesaikan langsung dengan pihak yang berselisih. Bukan melalui perantara, bukan melalui orang tua, melainkan berbicara langsung.

Peran keempat adalah mengajarkan cara meminta maaf dan memaafkan. Ini keterampilan yang harus dicontohkan. Orang tua yang tidak pernah meminta maaf kepada anaknya akan sulit mengajarkan hal ini.

Peran kelima adalah berkoordinasi dengan ustadz pembimbing bila konflik berlarut atau melibatkan hal yang serius. Ada batas di mana campur tangan memang diperlukan.

Peran keenam adalah mengapresiasi ketika anak berhasil menyelesaikan konflik sendiri. Ini pencapaian yang layak dihargai.

Bagi orang tua siswa MTs atau SMP yang mempertimbangkan pesantren, kemampuan menyelesaikan perselisihan sendiri menjadi salah satu pembelajaran paling berharga. Anak yang terbiasa menyelesaikan konflik tanpa campur tangan orang tua biasanya menjadi orang dewasa yang lebih matang dalam berbagai hubungan.

Kemampuan menyelesaikan perselisihan seperti yang dibahas di sini memang terbentuk dari pengalaman langsung, bukan dari nasihat. Yang efektif adalah keadaan yang menuntut penyelesaian karena tidak ada cara menghindar. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan lingkungan yang mendorong penyelesaian yang sehat bagi anak yang dititipkan di sana. Tentu setiap keluarga juga punya cara sendiri untuk membangun kematangan sosial anak.

Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh

Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.