Santri yang Terbiasa Menjaga Kebersihan Ruang Bersama — Tanggung Jawab Kolektif yang Nyata
Sebuah kamar mandi yang digunakan puluhan orang akan menjadi sangat kotor bila tidak ada yang merasa bertanggung jawab membersihkannya. Setiap orang berpikir bahwa itu bukan tugasnya. Setiap orang menunggu orang lain yang membersihkan. Akhirnya tidak ada yang membersihkan dan semua menderita karena kekotoran yang mereka ciptakan bersama.
Bagi orang tua siswa MTs atau SMP yang mempertimbangkan pesantren, kebiasaan menjaga kebersihan bersama jarang menjadi pertimbangan. Asumsi yang sering muncul adalah bahwa kebersihan adalah urusan petugas kebersihan. Padahal kemampuan merasa bertanggung jawab atas milik bersama menjadi karakter yang sangat menentukan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kehidupan asrama menghadirkan pelajaran ini secara nyata setiap hari. Kamar, kamar mandi, ruang belajar, masjid, dan halaman digunakan bersama. Kondisinya bergantung pada apakah penghuninya merasa bertanggung jawab.
Perbandingan dengan Anak yang Tidak Pernah Mengalaminya
Bila dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mengalami tanggung jawab kolektif, perbedaannya terasa dalam berbagai hal.
Anak yang tumbuh dengan segala sesuatu diurus orang lain biasanya tidak menyadari bahwa kebersihan membutuhkan kerja. Bagi mereka, lantai yang bersih adalah keadaan alami. Mereka tidak pernah memikirkan siapa yang membersihkannya dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Anak seperti ini biasanya juga tidak berhati-hati dalam menjaga kebersihan. Membuang sampah sembarangan, meninggalkan piring kotor, atau mengotori tanpa membersihkan menjadi hal yang biasa karena mereka tahu ada yang akan mengurusnya.
Ketika anak seperti ini kemudian hidup mandiri, muncul persoalan. Kamar kosnya berantakan. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Ia tidak terbiasa merawat tempat tinggalnya.
Anak yang terbiasa menjaga kebersihan bersama memiliki kesadaran yang berbeda. Ia tahu bahwa kebersihan tidak terjadi dengan sendirinya. Ada yang harus mengerjakannya. Bila ia mengotori, ia yang harus membersihkan.
Anak seperti ini juga lebih berhati-hati. Ia tidak membuang sampah sembarangan karena ia tahu dirinya atau temannya yang akan memungutnya. Ia membersihkan setelah menggunakan sesuatu.
Ada juga perbedaan dalam cara memandang milik bersama. Anak yang tidak pernah mengalami tanggung jawab kolektif cenderung tidak peduli pada milik bersama. Fasilitas umum dirusak, taman kota dikotori, karena merasa itu bukan miliknya.
Anak yang terbiasa merawat milik bersama memiliki kepedulian yang berbeda. Ia memahami bahwa milik bersama adalah milik semua orang termasuk dirinya. Merusaknya berarti merugikan diri sendiri dan orang lain.
Kesadaran ini sangat penting untuk kehidupan bermasyarakat. Banyak persoalan di Indonesia berakar dari lemahnya rasa memiliki terhadap milik bersama. Fasilitas umum tidak dirawat. Lingkungan dikotori. Semua merasa itu bukan tanggung jawabnya.
Cara Kebiasaan Ini Terbentuk
Cara kebiasaan ini terbentuk di pesantren terjadi melalui beberapa mekanisme.
Mekanisme pertama adalah sistem piket. Setiap santri mendapat giliran membersihkan area tertentu. Ada jadwal yang jelas dan ada tanggung jawab yang jelas. Bila tidak dikerjakan, akan terlihat dan ada konsekuensinya.
Mekanisme kedua adalah pengawasan sesama. Teman sekamar akan menegur bila ada yang tidak mengerjakan tugasnya. Tekanan sosial ini efektif karena tidak ada yang ingin dianggap tidak bertanggung jawab.
Mekanisme ketiga adalah akibat yang langsung dirasakan. Kamar mandi yang kotor mengganggu semua penghuninya termasuk yang tidak membersihkan. Kepentingan bersama mendorong semua orang ikut menjaga.
Mekanisme keempat adalah kerja bakti bersama. Beberapa kali dalam sebulan biasanya diadakan pembersihan menyeluruh yang melibatkan semua santri. Kegiatan ini membangun kebersamaan sekaligus rasa memiliki.
Mekanisme kelima adalah ajaran agama tentang kebersihan. Dalam Islam, kebersihan memiliki kedudukan yang tinggi. Menjaga kebersihan menjadi bagian dari ibadah, bukan sekadar urusan estetika. Kesadaran ini memberi motivasi yang lebih dalam.
Mekanisme keenam adalah teladan dari senior dan ustadz. Ketika santri melihat senior dan ustadz ikut membersihkan, mereka memahami bahwa ini bukan pekerjaan rendah yang bisa dihindari.
Mekanisme ketujuh adalah kebanggaan pada kamar atau asrama sendiri. Beberapa pesantren mengadakan penilaian kebersihan antar kamar. Kompetisi sehat ini mendorong santri menjaga kamarnya.
Nilai yang Terbentuk
Nilai pertama adalah rasa memiliki terhadap milik bersama. Ini menjadi nilai yang paling mendasar dan paling berdampak.
Nilai kedua adalah kesediaan mengerjakan pekerjaan yang tidak menyenangkan. Membersihkan kamar mandi bukan pekerjaan yang menyenangkan. Namun harus dikerjakan. Kesediaan mengerjakan hal seperti ini adalah karakter yang penting.
Nilai ketiga adalah penghargaan terhadap kerja kebersihan. Anak yang pernah membersihkan sendiri menghargai orang yang bekerja membersihkan. Ia tidak memandang rendah petugas kebersihan.
Nilai keempat adalah kesadaran bahwa perbuatan kita berdampak pada orang lain. Mengotori ruang bersama merugikan semua orang. Kesadaran ini membentuk kepekaan sosial.
Nilai kelima adalah kerja sama. Membersihkan area yang luas menuntut kerja sama. Santri belajar membagi tugas dan bekerja bersama.
Nilai keenam adalah kebersihan sebagai bagian dari iman. Ajaran ini dipraktikkan setiap hari sehingga menjadi kesadaran yang mendalam, bukan sekadar hafalan.
Nilai ketujuh adalah kedisiplinan menjalankan tugas meski tidak diawasi. Piket harus dikerjakan meski tidak ada yang melihat. Ini menjadi ujian amanah yang berulang.
Bagi orang tua siswa MTs atau SMP yang mempertimbangkan pesantren, kebiasaan menjaga kebersihan bersama menjadi pembelajaran yang membentuk karakter sosial. Anak yang merasa bertanggung jawab atas milik bersama biasanya menjadi warga masyarakat yang peduli dan tidak merusak.
Kebiasaan menjaga kebersihan bersama seperti yang dibahas di sini memang terbentuk dari tanggung jawab yang nyata, bukan dari ceramah tentang kebersihan. Yang efektif adalah keadaan di mana anak merasakan langsung akibat dari menjaga atau tidak menjaga. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan lingkungan yang membentuk tanggung jawab kolektif bagi anak yang dititipkan di sana. Tentu setiap keluarga juga punya cara sendiri untuk membangun kepedulian anak pada milik bersama.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.