Lonceng bangun berbunyi, namun beberapa santri putra masih berat membuka mata. Jadwal pesantren yang padat memang menuntut stamina. Tidur yang cukup menjadi kunci agar santri mampu mengikuti pelajaran, ibadah, dan kegiatan sepanjang hari. Karena itu, istirahat dipandang sebagai bagian penting dari pendidikan.
Kehidupan santri dimulai sejak sebelum subuh dan berakhir pada malam hari. Di antaranya terdapat pelajaran, ibadah, kegiatan ekstrakurikuler, dan waktu belajar mandiri. Di lingkungan Pesantren Darunnajah 2 Cipining, jadwal ini disusun agar santri memperoleh waktu istirahat yang memadai.
Tubuh membutuhkan tidur untuk memulihkan tenaga. Santri yang kurang tidur biasanya lebih mudah mengantuk di kelas, sulit berkonsentrasi, dan mudah tersulut emosi. Daya ingat juga dapat menurun, padahal hafalan dan pemahaman pelajaran sangat bergantung pada kondisi otak yang segar.
Islam menempatkan tidur sebagai nikmat. Surah An-Naba ayat 9 menyebut bahwa Allah menjadikan tidur untuk istirahat. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa tubuh memiliki hak atas pemiliknya, sebagaimana diriwayatkan Bukhari. Pesan ini mendorong keseimbangan antara ibadah, belajar, dan istirahat.
Menjaga pola tidur membutuhkan kebiasaan. Santri perlu belajar mengatur waktu agar tugas selesai sebelum larut malam. Mereka juga dianjurkan tidak menunda pekerjaan sampai jam istirahat. Kemampuan mengelola waktu ini menjadi keterampilan hidup yang berguna jauh melampaui masa di pesantren.
Beberapa kebiasaan yang membantu santri tidur lebih berkualitas antara lain:
- Menyelesaikan tugas dan belajar sebelum jam istirahat.
- Menjauhkan gawai dan hal yang mengganggu menjelang tidur.
- Berwudu dan berdoa sebelum tidur.
- Menjaga kebersihan tempat tidur agar nyaman.
- Tidur dan bangun pada jam yang teratur.
Pembina asrama berperan mengawasi ketertiban jam tidur. Mereka mengingatkan santri yang masih berbincang larut malam, namun tetap dengan pendekatan yang bersahabat. Teguran yang lembut membuat santri memahami alasannya sehingga mengikuti aturan dengan sadar.
Bagi santri yang bangun malam untuk ibadah, tidur lebih awal menjadi semakin penting. Dengan begitu, mereka tetap segar saat bangun untuk tahajud dan tidak kelelahan di siang hari. Keseimbangan ini mencerminkan ajaran Islam yang moderat dan tidak memberatkan.
Kebiasaan tidur siang singkat juga membantu sebagian santri memulihkan tenaga. Rasulullah SAW menganjurkan qailulah, yaitu istirahat sejenak di tengah hari. Beberapa menit istirahat dapat membuat tubuh kembali bugar sehingga santri lebih siap mengikuti kegiatan sore. Tentu pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal kegiatan di pesantren.
Asupan makanan yang seimbang dan olahraga teratur turut menunjang kualitas tidur. Santri yang aktif bergerak di siang hari cenderung lebih mudah tertidur di malam hari. Karena itu, kebiasaan tidur sebaiknya dilihat sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang menyeluruh, mencakup makan, bergerak, dan beristirahat.
Tidur yang cukup adalah investasi bagi kesehatan dan prestasi. Para orang tua dapat membantu dengan membiasakan anak tidur teratur saat liburan, agar ritmenya tidak terganggu ketika kembali ke asrama. Mari jadikan istirahat sebagai bagian dari ikhtiar menuntut ilmu secara sehat dan berkelanjutan.
