Ia baru kelas delapan ketika diminta menjadi pembimbing bagi sekelompok santri baru yang masih kelas tujuh. Tugas yang terasa besar untuk ukuran usianya. Tapi ia mengambilnya dengan serius karena masih ingat betapa besar pengaruh kakak kelas pembimbingnya sendiri saat ia pertama kali masuk pesantren dua tahun lalu.
Mengapa Pesantren Mempercayakan Tugas Bimbingan pada Santri yang Masih Muda?
Pesantren memahami bahwa bimbingan terbaik sering kali datang dari seseorang yang usianya tidak terlalu jauh dari yang dibimbing. Santri kelas delapan masih ingat betul perasaan bingung dan takut saat pertama kali masuk pesantren, sehingga ia lebih memahami apa yang dirasakan adik kelasnya.
Selain kedekatan usia, tugas ini juga menjadi sarana pembentukan karakter bagi sang pembimbing itu sendiri. Dengan membimbing orang lain ia belajar kesabaran, empati, dan tanggung jawab yang tidak bisa didapat dari pelajaran di kelas.
Sistem ini sudah berjalan selama bertahun-tahun dan terbukti efektif dalam membantu santri baru beradaptasi dengan cepat sekaligus mengembangkan jiwa kepemimpinan santri yang lebih senior.
Bagaimana Ia Menjalankan Tugas Bimbingan dengan Penuh Dedikasi?
Setiap pagi ia memastikan adik-adik kelasnya sudah bangun tepat waktu dan siap untuk sholat subuh berjamaah. Ia mengecek satu per satu apakah mereka sudah berwudhu dengan benar dan memakai pakaian yang rapi sesuai aturan pesantren.
Setelah kegiatan formal selesai, ia meluangkan waktu untuk duduk bersama adik kelasnya dan mendengarkan keluh kesah mereka. Ada yang rindu rumah dan butuh dihibur. Ada yang kesulitan mengikuti pelajaran dan butuh bantuan tambahan. Ada yang belum akrab dengan teman sekamarnya.
Ia menangani setiap masalah dengan kesabaran yang mengejutkan untuk ukuran usianya yang masih sangat muda. Ia tidak pernah membentak atau menunjukkan ketidaksabaran meskipun kadang pertanyaan yang sama diulang berkali-kali oleh adik kelasnya.
Apa Dampak Bimbingan Ini bagi Adik Kelas yang Dibimbing?
Adik kelas yang mendapat bimbingan yang baik biasanya beradaptasi dengan lebih cepat dan lebih bahagia selama di pesantren. Mereka merasa memiliki seseorang yang bisa diandalkan di lingkungan baru yang masih asing bagi mereka.
Hubungan yang terbentuk antara pembimbing dan yang dibimbing sering kali bertahan hingga bertahun-tahun setelah keduanya lulus. Banyak alumni yang masih menganggap kakak kelas pembimbingnya sebagai figur yang sangat berpengaruh dalam hidup mereka.
Keberadaan pembimbing juga mengurangi kecemasan orang tua yang baru pertama kali mengirim anaknya ke pesantren. Mengetahui bahwa ada seseorang yang secara khusus memperhatikan anak mereka memberikan ketenangan yang sangat berarti.
Bagaimana Pengalaman Membimbing Membentuk Karakter Sang Pembimbing?
Melalui pengalaman membimbing, ia belajar bahwa setiap orang memiliki kecepatan dan cara belajar yang berbeda. Kesabaran yang ia kembangkan selama membimbing adik kelas menjadi keterampilan yang sangat berharga dalam hidupnya.
Ia juga belajar bahwa menjadi contoh yang baik jauh lebih efektif daripada memberikan nasihat panjang lebar. Adik kelasnya lebih meniru apa yang ia lakukan daripada apa yang ia katakan. Kesadaran ini mengubah caranya menjalani hidup.
Rasa tanggung jawab yang terbentuk dari memperhatikan kesejahteraan orang lain membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka dan peduli. Karakter ini sangat dihargai di lingkungan mana pun ia berada.
Apa Makna Tradisi Bimbingan Santri Muda di Pesantren?
Di Darunnajah 2 Cipining, tradisi bimbingan antar santri menjadi salah satu warisan terbaik yang membentuk generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga peduli dan bertanggung jawab terhadap orang lain.
Setiap santri yang pernah menjadi pembimbing membawa pengalaman yang membentuk jiwa melayani yang akan melekat sepanjang hidupnya.
Bagi orang tua yang ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang penuh bimbingan, hubungi WhatsApp 0812111180 untuk informasi lebih lanjut.