Dia bukan tipe santri yang suka berdiri di depan banyak orang, tapi kata-katanya di atas kertas bisa menjangkau lebih banyak jiwa dari pidato manapun. Di muhadharah, suaranya nyaris tidak terdengar sampai barisan ketiga. Tapi tulisan-tulisannya di mading pesantren dibaca sampai habis oleh setiap orang yang lewat. Ada kekuatan diam yang sangat besar dalam diri santri ini.
Tidak semua orang berdakwah lewat suara. Tidak semua orang harus menjadi khatib atau muballigh. Ada jalan dakwah yang lebih sunyi tapi tidak kalah dalamnya. Jalan yang dipilih santri ini. Menulis. Menyusun kata demi kata yang mengajak orang berpikir, merenungkan, dan berubah. Tanpa teriak. Tanpa gembar-gembor.
Penemuan bahwa menulis adalah caranya berdakwah datang secara perlahan. Bukan momen eureka yang dramatis. Tapi rangkaian pengalaman kecil yang akhirnya membentuk kesadaran besar. Bahwa dia tidak perlu menjadi orang lain untuk memberi manfaat. Dia bisa menjadi dirinya sendiri dan tetap berkontribusi lewat cara yang paling autentik.
Bagaimana Santri Ini Menemukan Kekuatan Tulisannya?
Awalnya, menulis adalah pelarian. Saat teman-teman berlatih pidato dengan penuh percaya diri, dia merasa tertinggal. Kemampuan public speaking-nya jauh di bawah rata-rata. Tapi ketika diminta menulis esai untuk tugas, hasilnya selalu menjadi yang terbaik di kelas. Ustadznya menyadari ini dan mulai mengarahkannya.
Tugas pertama yang diberikan khusus untuknya adalah menulis artikel untuk mading dalam tiga bahasa. Hasilnya luar biasa. Tulisan bahasa Arabnya puitis dan mendalam. Tulisan bahasa Inggrisnya jernih dan informatif. Tulisan bahasa Indonesianya mengalir dan menyentuh. Dari situ, pintu menulisnya terbuka lebar.
Dia mulai menulis secara rutin. Tentang kehidupan di pesantren. Tentang pelajaran yang dia dapat dari pengajian. Tentang pengamatan hariannya terhadap orang-orang di sekitarnya. Setiap tulisan semakin matang. Semakin dalam. Semakin mampu menggerakkan perasaan pembaca.
Teman-temannya mulai menunggu tulisan terbarunya. Ada yang bilang setelah membaca tulisannya tentang arti sabar, dia jadi lebih bisa menerima kondisinya yang jauh dari rumah. Ada yang bilang tulisannya tentang persahabatan membuatnya lebih menghargai teman-teman sekamarnya. Umpan balik seperti ini menjadi motivasi terkuat untuk terus menulis.
Mengapa Tulisan Bisa Menjadi Medium Dakwah yang Sangat Efektif?
Pidato menjangkau orang yang hadir di satu tempat dan waktu. Tulisan menjangkau orang di banyak tempat dan banyak waktu. Artikel yang ditulis hari ini bisa dibaca minggu depan, bulan depan, bahkan bertahun-tahun kemudian. Jangkauan ruang dan waktu ini menjadikan tulisan medium dakwah yang sangat powerful.
Tulisan juga memberikan ruang bagi pembaca untuk merenungkan pesannya dengan kecepatan sendiri. Di pidato, pendengar harus mengikuti kecepatan pembicara. Di tulisan, pembaca bisa berhenti, memikirkan, membaca ulang, dan merefleksikan. Kedalaman pemrosesan ini sering menghasilkan dampak yang lebih bertahan lama.
Bagi santri yang introvert, menulis adalah cara berdakwah yang paling natural. Dia tidak perlu memaksakan diri menjadi extrovert yang energik di panggung. Dia bisa menjadi dirinya sendiri, di ruangan yang tenang, dengan pena dan kertas. Dan pesan yang lahir dari autentisitas selalu lebih kuat dari pesan yang lahir dari pemaksaan.
Sejarah Islam sendiri penuh dengan ulama yang dakwahnya lebih melalui tulisan dari pada lisan. Kitab-kitab mereka dibaca oleh jutaan orang selama berabad-abad. Bukti bahwa pena memang bisa menjangkau lebih jauh dari suara.
Bagaimana Pesantren Mendukung Santri yang Punya Bakat Menulis?
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, bakat menulis dihargai sama dengan bakat public speaking. Ada wadah untuk mengembangkannya. Mading, majalah pesantren, lomba menulis, dan tugas-tugas menulis yang rutin diberikan. Semua ini menjadi panggung bagi santri penulis untuk menunjukkan kemampuannya.
Ustadz yang menyadari bakat menulis santrinya biasanya memberikan perhatian khusus. Memberi umpan balik yang mendalam tentang tulisannya. Mengarahkan bacaan yang bisa memperkaya gaya menulisnya. Dan memberikan kesempatan menulis di forum yang lebih luas.
Tradisi penulisan di pesantren, dari insya sampai mading, secara alami mendukung perkembangan penulis muda. Lingkungan yang kaya dengan teks, baik kitab klasik maupun literatur modern, menjadi sumber inspirasi yang tidak habis-habisnya.
Dan yang paling penting, pesantren memberikan konten. Pengalaman hidup di pesantren yang kaya, pelajaran agama yang mendalam, dinamika sosial yang kompleks. Semua ini menjadi bahan tulisan yang sangat berlimpah. Penulis terbaik selalu menulis dari pengalamannya. Dan pesantren menyediakan pengalaman yang sangat kaya.
Apa Dampak Jangka Panjang dari Penemuan Ini?
Santri yang menemukan jalur dakwah lewat tulisan biasanya membawa kemampuan ini ke tahap kehidupan selanjutnya. Ada yang menjadi penulis buku. Ada yang menjadi blogger yang berpengaruh. Ada yang menjadi kolumnis di media nasional. Ada juga yang menulis secara diam-diam, menyebarkan tulisan yang menyentuh hati lewat kanal-kanal sederhana.
Yang tidak kalah penting adalah dampak terhadap harga diri. Santri yang awalnya merasa kurang karena tidak jago bicara di depan umum akhirnya menemukan kekuatannya sendiri. Penemuan ini sangat membebaskan. Dia tidak lagi mengukur dirinya dengan standar orang lain. Dia punya standarnya sendiri. Dan standar itu sudah terbukti berharga.
Di era digital, kemampuan menulis menjadi semakin penting. Konten tertulis mendominasi internet. Media sosial digerakkan oleh kata-kata. Dan orang yang bisa menulis dengan baik punya pengaruh yang sangat besar terhadap opini publik. Santri penulis yang terbentuk di pesantren punya potensi untuk menjadi suara kebaikan di dunia digital.
Dunia membutuhkan lebih banyak penulis yang menuliskan kebaikan. Yang menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, dan harapan. Yang mengajak pembacanya berpikir lebih dalam dan hidup lebih bermakna. Pesantren sedang membentuk penulis-penulis seperti itu.
Apa Pesan untuk Mereka yang Merasa Tidak Cukup Vokal?
Tidak semua orang harus bersuara keras untuk didengar. Ada jalan lain yang sama kuatnya. Menulis adalah salah satunya. Dan di pesantren, jalan ini terbuka lebar bagi siapapun yang mau melangkahinya.
Bagi santri yang merasa tidak berbakat bicara di depan umum, cobalah menulis. Tuangkan pikiranmu di atas kertas. Bagikan kepada teman-teman. Lihat bagaimana kata-katamu bisa menggerakkan hati orang lain. Mungkin itu adalah jalan dakwahmu yang paling autentik.
Dan bagi orang tua, jangan khawatir kalau anak terlihat pendiam. Mungkin dia sedang mencari caranya sendiri untuk berkontribusi. Dan ketika dia menemukannya, hasilnya bisa jauh melampaui ekspektasi siapapun.
Untuk informasi tentang program pengembangan bakat di pesantren, hubungi WhatsApp 0812111180.