Ada satu momen yang hampir semua santri pernah alami. Minggu pertama di pesantren, uang saku masih utuh. Minggu kedua, mulai berkurang. Minggu ketiga, kita menghitung lembar demi lembar dengan cara yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Bukan karena jumlahnya sedikit. Tapi karena untuk pertama kalinya, kita benar-benar sendiri dalam memutuskan bagaimana uang itu dipakai.
Di rumah, semua terasa otomatis. Makan tersedia. Sabun selalu ada. Kita tidak pernah berpikir dari mana semua itu datang.
Jauh dari rumah mengubah itu semua. Pelan-pelan. Tanpa ceramah.
Apa yang berubah ketika santri mulai mengelola uang sendiri?
Seorang kakak kelas pernah bercerita, dulu dia selalu beli jajan setiap istirahat tanpa pikir panjang. Setelah sebulan di pesantren, dia mulai membawa botol minum sendiri. Bukan karena disuruh. Tapi karena dia sadar, tiga ribu rupiah setiap hari itu kalau dikumpulkan sebulan, jumlahnya sama dengan ongkos ayahnya berangkat kerja selama seminggu.
Tidak ada yang mengajari perhitungan itu. Kesadaran itu muncul sendiri. Dari jarak. Dari keheningan malam di asrama ketika pikiran melayang ke rumah.
Bagaimana momen menelepon rumah bisa mengubah cara pandang?
Seorang santri menelepon ibunya, hanya untuk bilang uang sakunya hampir habis. Lalu ibunya menjawab dengan suara biasa, tanpa keluhan. Tapi di balik ketenangan itu, ada jeda sebelum ibunya bilang, nanti ibu kirim ya.
Jeda itu yang mengubah segalanya.
Orang tua kita tidak pernah mengeluh. Mereka hanya bilang, yang penting kamu sehat dan belajar yang rajin. Kalimat sesederhana itu, kalau kita dengar dari jauh, rasanya berbeda. Sangat berbeda.
Mungkin kita baru benar-benar mengenal orang tua kita justru setelah jauh dari mereka.
Kenapa santri yang hemat justru yang paling dihormati?
Ada adik kelas yang setiap bulan menyisihkan sebagian uang sakunya. Ketika ditanya, jawabannya sederhana. Dia ingin suatu hari bisa membelikan ibunya sesuatu dengan uang yang bukan dari ibunya sendiri.
Itu bukan cerita luar biasa kalau diukur dari hasilnya. Tapi kalau kita tahu niat itu lahir dari seorang anak berusia dua belas tahun yang baru pertama kali jauh dari rumah, cerita itu jadi sesuatu yang layak dihormati.
Apa yang dibawa pulang santri selain ilmu?
Orang tua sering melihat perubahan kecil. Anak yang dulu selalu minta dibelikan ini dan itu, sekarang bilang, tidak usah, yang ini masih bagus.
Di Darunnajah 2 Cipining, proses itu terjadi setiap hari tanpa perlu dipaksakan. Santri belajar bahwa setiap rupiah yang sampai ke tangan mereka punya cerita di baliknya. Cerita tentang orang tua yang bangun lebih pagi. Tentang lembur yang tidak diceritakan.
Tidak semua pelajaran berharga diajarkan di ruang kelas. Salah satu yang paling mengubah hidup adalah pelajaran tentang betapa berharganya kepercayaan orang tua.
Hubungi WhatsApp 0812111180 untuk bicara lebih lanjut.