Santri Awali Pekan Ujian Lisan

Tibalah saatnya, para santri Pondok Pesantren Darunnajah Cipining di akhir masa ajaran tahun 2011-2012. Guna mengukur keberhasilan mereka dalam KBM, pesantren menyelenggarakan 2 sesi ujian, yaitu ujian lisan (oral examination/imtihan syafahi)  khusus untuk bahasa Arab, Inggris, dan Ibadah amaliah untuk santri non asrama serta ujian tertulis (writing examination/imtihan tahriri) untuk semua materi pelajaran.

Memasuki pekan ujian lisan yang akan berlangsung selama sepekan ke depan (2 s.d. 7 Juni), tadi pagi secara serentak diadakan upacara pembukaan yang diikuti oleh 1002 santri dari semua jenjang pendidikan (SMP, MTs, MA, SMK) panitia ujian dan jajaran dewan guru. Menurut keterangan ketua panitia, Ustadz Husnul Mubarok, agenda ujian lisan dilaksanakan 3 hari untuk bahasa Arab dan 3 hari setelahnya adalah bahasa Inggris. Bagi santri non asrama, 2 hari untuk materi bahasa Arab, 2 hari untuk bahasa Inggris, dan 2 hari setelahnya untuk Ibadah Amaliah.

Di depan para santri, Direktur TMI (Tarbiyatul Mu’allimien wal Mu’allimat Al-Islamiyah) merangkap kepala MA, Ustadz Musthofa Kamal, M.Pd yang bertindak sebagai pemimpin upacara menghimbau kepada seluruh santri agar serius menyikapi ujian ini, karena ujian ini menjadi penentu bagi mereka, apakah mereka sukses dengan naik kelas atau tidak. Bil imtihaani yukromul mar’u au yuhaanu. Dengan ujian, seseorang akan menjadi mulia atau hina.

Selanjutnya, beliau juga mengharapkan agar para santri tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang mengganggu ujian. Hendaknya, ujian dilakukan dengan hati yang tenang dan persiapan yang matang. Guna mendukung kesuksesasan ujian mereka, dalam kesempatan itu mereka juga berdoa bersama-sama yang dipimpin oleh Ustadz Muhlisin Ibnu Muhtarom, SHI.

Menghindari berbagai pelanggaran dan gangguan teknis dan non teknis selama ujian berlangsung, ketua panitia ujian juga berkesempatan membacakan tata tertib. Untuk menjaga ketertiban ujian, panitia membentuk bagian komisi disiplin sebagai penanggung jawab.

Sesuai penjelasan pimpinan pesantren, KH Jamhari Abdul Jalal, Lc esensi diadakannya ujian lisan di pesantren adalah guna meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa asing santri, mengingat bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa resmi pergaulan di pesantren. Karena secara teknis, ujian lisan ini dengan sistem santri memasuki ruangan ujian dan akan berhadapan dengan 2 penguji dari dewan guru. Selama ujian, komunikasi yang berlangsung adalah bahasa resmi sesuai jadwal ujian.

Selain itu, ujian lisan juga untuk menyiapkan ujian tertulis. Karena selama santri mempersiapkan materi ujian lisan, mereka mempersiapkan pula materi ujian tulis khususnya materi-materi berbahasa Arab dan Inggris.

Sementara itu, prasarat santri diperbolehkan mengikuti ujian adalah dengan telah selesainya kewajiban mereka seperti hapalan Ibadah Amaliah dan pelunasan keuangan. Ibadah Amaliah adalah program hapalan santri dari surat-surat pilihan yang diambil dari Al-Qur’an, hapalan do’a-do’a harian, bacaan sholat dan membaca Al-Qur’an, baik mujawadah (tilawah) maupun murotal beserta penguasaan tajwidnya. Hapalan Ibadah Amaliah santri disetorkan kepada wali kelas atau wali kamar.

Dari sisi penguji, guna menyamakan persepsi dan standar pemberian nilai oleh para penguji, panitia ujian menyelenggarakan pembekalan penguji yang langsung diisi oleh pimpinan pesantren, agenda ini telah dilaksanakan pada hari Kamis, 31 Mei.

Dalam mengantarkan kesuksesan santri dengan perolehan yang maksimal, pesantren dalam hal ini panitia ujian mengkondisikan belajar santri seefektif mungkin. Belajar santri dikonsentrasikan di masjid putra dan putri dengan waktu seusai sholat Isya, Ashar, dan Shubuh. Bertindak sebagai pengawas belajar adalah dewan guru secara terjadwal. (red-Wardan)