Pondok Pesantren Darunnajah menggelar sujud syukur bersama menyusul pengumuman kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel.
Momen penuh khidmat ini menjadi ungkapan rasa syukur atas berakhirnya penderitaan saudara Muslim di Gaza yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, sekaligus menjadi pembelajaran bagi santri tentang pentingnya Ukhuwah Islamiyah dan kepedulian terhadap sesama umat Islam di seluruh dunia.
Sujud syukur dilaksanakan pada Jumat pagi, 10 Oktober 2025, di Masjid Jami Darunnajah tepat setelah pelaksanaan shalat subuh berjamaah.
Seluruh santri hadir memenuhi masjid. Momen ini menjadi bagian dari tausiyah rutin yang disampaikan langsung oleh K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs., Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah.
“Umat Islam satu sama lain seperti satu tubuh, meskipun tidak kenal. Kita umat Islam di Indonesia, saudara-saudara kita umat Islam di Gaza, Palestina,” tegas Kyai Hadiyanto dalam tausiyahnya.
Beliau mengingatkan bahwa rasa sakit yang dialami saudara seiman di Gaza adalah rasa sakit bersama, terlepas dari jarak ribuan kilometer yang memisahkan.
Kesyukuran atas gencatan senjata ini harus diiringi dengan doa dan kepedulian berkelanjutan terhadap proses rekonstruksi Gaza.
Dalam kesempatan yang sama, Kyai Hadiyanto juga mengajak santri untuk merenungkan tragedi yang menimpa Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo.
Runtuhnya bangunan pesantren yang merenggut 67 nyawa menjadi pengingat bahwa ujian datang dalam berbagai bentuk.
Namun, di tengah tragedi itu, muncul sosok inspiratif bernama Haikal, santri Al-Khoziny yang melantunkan sholawat istigfar ketika tertimpa reruntuhan musholla.
Kisah Haikal dijadikan teladan tentang kekuatan iman yang tidak rapuh oleh materi.
“Bangunan bisa rubuh, tapi iman tak runtuh. Sebuah fenomena luar biasa dari santri,” ujar Kyai Hadiyanto.
Beliau mengibaratkan keteladanan Haikal dengan Sahabat Bilal bin Rabah yang tetap mengucapkan “ahad, ahad” di tengah siksaan berat. Kedua kisah ini menyatu dalam pesan universal tentang keteguhan spiritual yang menginspirasi jutaan orang.
Tausyiah pagi itu juga menekankan pentingnya al-itqon atau profesionalisme dalam setiap pekerjaan. Kyai Hadiyanto memberikan contoh konkret dari pengalaman Pesantren Darunnajah yang mempersiapkan pondasi dan struktur bangunan dengan matang ketika hendak menambah lantai Masjid Darunnajah.
“Kita sebagai umat Islam setiap melaksanakan sesuatu harus itqon, harus profesional,” tegasnya. Prinsip ini menjadi pengingat bahwa menjaga keselamatan adalah bagian dari tanggung jawab dan ibadah.
Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Jami Darunnajah ketika seluruh santri bersujud bersama sebagai ungkapan syukur.
Momen ini memiliki makna mendalam, mengajarkan bahwa kesyukuran bukan hanya diucapkan dengan lisan, melainkan diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata.
Para santri diharapkan tidak hanya bersyukur, tetapi juga terus mendoakan dan berkontribusi bagi pemulihan Gaza serta kemaslahatan umat Islam di manapun berada.
Para santri diajak untuk tidak hidup dalam ruang hampa, melainkan selalu peka terhadap kondisi umat Islam di seluruh dunia.
Tradisi tausyiah rutin yang meneruskan sunnah para pendiri pesantren seperti KH Mahrus Amin dan KH Jamhari terus dijaga untuk memastikan penanaman nilai-nilai tauhid, akhlak, dan kepedulian sosial berjalan konsisten.
Kesepakatan damai Gaza menjadi momentum bagi seluruh umat Islam untuk merefleksikan makna persaudaraan dan solidaritas.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan keteguhan iman.
Melalui kegiatan seperti sujud syukur bersama ini, nilai-nilai tersebut terus ditanamkan dan diharapkan menjadi bekal santri dalam menghadapi dinamika kehidupan di masa depan.




