Dari Alumni: Kenangan Manis Belajar Di Pesantren

Yang saya hormati Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Cipining KH. Jamhari abdul Jalal, Lc. Yang saya banggakan Para Asatidz dan Asatidzah. Dan yang saya cintai para santri Pesantren Darunnajah Cipining.

Bagi saya teman-teman di Pesantren Darunnajah Cipining adalah luar biasa, solider, peduli dan baik hati. Pesantren adalah miniatur dari kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan yang akan kita dapati diluar pesantren. Di pesantren kita belajar bergaul, membangun persahabaan dan menghargai perbedaan dengan bijaksana.

Sungguh enak berada di pesantren yang penuh dengan kenyamanan dan ketentraman. Kita diajarkan untuk berusaha hidup mandiri (mandi sendiri, tidur sendiri, makan sendiri) he he sudah besar masa disuapin.

Peraturan-peraturan di Pesantren Darunnajah Cipining awalnya terasa berat bagi santri yang sudah terbiasa manja dengan orangtuanya. Namun hal itu akan hilang dengan sendirinya, Karena pesantren adalah sarana penggemblengan pribadi yang kuat, mandiri dan berprinsip.

Santri-santri di Pesantren Darunnajah Cipining fokus menyelesaikan studinya dengan nilai mumtaz atau minimal jayyid jiddan. Berharap bisa sekolah di universitas bonafit, atau bahkan ke luar negeri. Ke timur tengah misalnya, mengikuti jejak Pak Kyai.

Dunia pesantren menjadi daya tarik tersendiri bagi para santri yang masih didalam maupun yang sudah menjadi alumni. Persahabatan dan pertemanan yang ada di dunia pesantren terasa begitu nikmat dan akrab. Rasa rindu dan rasa kangen tak pernah terlepas dari para alumninya untuk sekedar mengenang dan mereview kenangan-kenangan manis selama belajar di pesantren.

Akhirnya, pesan untuk para santri yang saat ini masih menjalani pendidikan: Jalanilah kehidupanmu di pesantren dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Tanamkan pada diri teman-teman keteguhan dan semangat. Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Allah akan memberikan kita jalan yang terbaik kalau kita bercita-cita yang baik.

Hanya dengan kesungguhan kita akan mencapai apa yang dicita-citakan. “MAN JADDA WAJADA” (Begitu kata ustadz diawal pelajaran Mahfudzhat). Terima kasih banyak. Fastabiqul Khairaat!