IKPM-DN3 (Ikatan Keluarga Pesantren Al-Manshur Darunnajah 3) IKPM-DN3 (Ikatan Keluarga Pesantren Al-Manshur Darunnajah 3)

Saatnya Berbuka Puasa

Santri Kelas VII Saat Berbuka Puasa

Kira-kira 1 jam menjelang Maghrib, semua santri Darunnajah Cipining telah siap dengan posisi membentuk halaqoh (berkumpul dalam kelompok). Masing-masing mengambil posisi yang telah ditentukan oleh ketua kamar. Ada yang menempati ruang dalam kamar, ada pula yang lebih nyaman berada di terasnya. Kondisi yang telah berlangsung semenjak hari pertama Ramadhan.

Setiap kali Ramadhan, pasti terdapat hal yang telah berubah. Terlebih bagi santri kelas VII MTs dan kelas takhasus yang baru mengenyam pendidikan hampir 2 bulan di pesantren tercinta. Ramadhan lalu, mereka masih berkumpul untuk berbuka dan makan sahur di antara anggota keluarga. Kini, di sekeliling mereka hanya teman-teman dan dewan guru.

Perasaan sedih, haru dan rindu tiada mampu terbohongi. Wajah-wajah mungil santri baru tersebut nampak menyimpan asa bila ditekuni. Namun, kewaijban menuntut ilmu adalah jalan mulia yang mengantarkan ke batas masa depan nan gemilang. Kesadaran akan itulah yang menguatkan mereka tetap pada pendirian berada di pesantren bersama yang lain.

Syukurnya, mereka tidak tenggelam terlampau dalam dengan keadaan seperti itu. Mereka tetap ceria dengan melakukan berbagai aktivitas yang belum pernah mereka temukan di rumah. Justru kisah-kisah seru kian hari kian tercatat di benak mereka. Kisah ketika harus berdesak-desakan membeli satu dua buah kue untuk berbuka di kantin. Kisah ketika harus mencuci sendiri piring, sendok, dan gelas yang akan mereka gunakan untuk makan. Karena di rumah, mereka tiada akan pernah menemukan.

Bahkan terkadang, mereka harus berebutan sesuatu dengan teman lain untuk mengejar waktu demi sebuah keinginan dan kedisiplinan. Pernah juga terpaksa pinjam, karena barang yang ingin mereka pakai, hilang. Tidak indah memang, namun itu semua menjadi kenangan yang tiada akan pernah terlupakan, karena itu benar-benar terjadi dan mereka telah mengalaminya.

Setiap sore, sembari menunggu saat berbuka, mereka duduk bersama. Satu dari mereka bertugas mengawali sebuah acara. Satu demi satu, petugas (MC) memanggil bergiliran para santri yang juga bertugas belajar berpidato. Meski pengetahuan masih terbatas, namun semangat terus membara. Mereka teriakkan kata dengan percaya diri, ucapkan ayat dengan fasih dan bangkitkan semangat teman yang lain.

Tidak ada yang istimewa, namun bagi mereka ini saat yang sangat luar biasa. Sembari menunggu saat berbuka puasa, mereka gunakan waktu sebaik-baiknya. Kebahagian mereka kian terasa saat adzan Maghrib berkumandang dari masjid. Dengan sama-sama berdoa untuk berbuka, mereka batalkan puasa dengan hidangan seadanya. Memang tidak semewah di rumah, namun bahagia, kebersamaan, silaturahmi, keberkahan, dan kenikmatan pasti mereka dapatkan di saat itu.

Mereka bisa saling berbagi dan memberi untuk kemudian menerima dan menikmati. Inilah kebahagian yang telah dijanji oleh sang Rasul kekasih Ilahi, kebahagiaan saat berbuka puasa dan kebahagiaan saat nanti bertemu dengan Sang Maha Kuasa. Oh…nikmatnya……saat berbuka puasa tiba……..(Billah).