Ruang Makan Pesantren Tempat Kebersamaan Lebih Mengenyangkan dari Nasi

Pernah tidak, kita merindukan sebuah tempat bukan karena makanannya, tapi karena siapa yang duduk di sebelah kita saat makan?

Ada satu ruangan di pesantren yang jarang diceritakan. Bukan kelas, bukan masjid, bukan lapangan. Ruang makan. Tempat yang kalau kita pikirkan sekarang, ternyata menyimpan lebih banyak cerita dari yang kita sadari waktu masih di sana. Di situlah kita pertama kali belajar bahwa duduk bersama orang lain tiga kali sehari, setiap hari, selama bertahun-tahun, bisa mengubah cara kita memahami arti keluarga.

Kenapa makan bersama di pesantren terasa berbeda dari makan di rumah?

Di rumah, kita makan kapan saja. Kadang sendiri di depan televisi, kadang sambil pegang ponsel. Tapi di pesantren, makan adalah kegiatan bersama. Bel berbunyi, kita bergerak ke arah yang sama, duduk di bangku yang sama, menghadap nampan yang sama. Sebelum tangan menyentuh sendok, doa dibaca bersama. Suara ratusan santri mengucap bismillah dalam satu waktu — itu bukan sekadar kebiasaan. Itu ritual yang membentuk kita tanpa kita tahu sedang dibentuk.

Satu meja biasanya diisi enam sampai delapan orang. Campuran. Ada yang baru masuk, masih canggung, belum hafal nama teman semejanya. Ada kakak kelas yang sudah tahu persis porsi nasi siapa yang selalu kurang. Ada yang pendiam, cuma makan lalu pergi. Ada yang bicaranya tidak berhenti dari suapan pertama sampai piring kosong. Kombinasi ini tidak kita pilih. Tapi justru karena tidak kita pilih, kita belajar sesuatu yang tidak bisa diajarkan di kelas mana pun.

Apa yang sebenarnya terjadi di meja makan selain makan?

Percakapan. Macam-macam. Kadang soal pelajaran fiqih yang tadi pagi bikin bingung satu kelas. Kadang soal guru matematika yang cara mengajarnya ternyata mulai masuk akal setelah sebulan. Kadang soal rindu rumah yang tidak pernah diucapkan langsung, tapi kelihatan dari cara seseorang mengaduk nasinya terlalu lama tanpa dimakan. Kita belajar membaca orang lain dari hal-hal kecil seperti itu.

Lauknya sama untuk semua orang. Tidak ada menu khusus, tidak ada pilihan. Tapi dari situlah muncul dinamika yang sederhana dan jujur. Seseorang menggeser lauknya ke piring teman yang terlihat masih lapar. Tidak pakai kata-kata, tidak pakai drama. Hanya geseran kecil yang artinya besar.

Bagaimana kebiasaan sederhana ini membentuk karakter yang bertahan lama?

Ada sesuatu yang terjadi ketika kita terbiasa makan bersama orang lain setiap hari selama bertahun-tahun. Ego kita mengecil. Bukan hilang, tapi mengecil. Kita jadi lebih sabar menunggu giliran. Lebih peka ketika seseorang di sebelah kita sedang tidak baik-baik saja. Lebih mudah memulai percakapan dengan orang yang baru kita kenal.

Santri yang sudah lulus sering bilang hal yang sama. Bukan pelajaran yang paling mereka rindukan pertama kali. Tapi suasana makan bersama. Ribut-ributnya. Tawa yang muncul tiba-tiba karena cerita yang sebenarnya tidak lucu. Doa setelah makan yang kadang separuh orang sudah berdiri duluan. Momen-momen tidak sempurna itu justru yang paling lengkap dalam ingatan.

Kenapa rasa kebersamaan itu sulit ditemukan di tempat lain?

Kita sering mencari rasa belonging di tempat-tempat yang rumit. Padahal kadang, rasa itu sudah ada di meja makan yang sederhana, di antara orang-orang yang setiap hari memilih untuk hadir di waktu yang sama, di tempat yang sama, tanpa alasan lain selain karena memang begitulah cara hidup di sini.

Di Darunnajah 2 Cipining, ruang makan bukan sekadar tempat mengisi perut. Ruang itu adalah ruang kelas tanpa papan tulis, tempat pelajaran dan pelajaran hidup melebur jadi satu tanpa perlu silabus. Adab sebelum makan, syukur sesudah makan, dan di antara keduanya — kebersamaan yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dipercepat, hanya bisa dijalani hari demi hari bersama orang-orang yang akhirnya kita sebut saudara.

Kalau kita sedang memikirkan tempat terbaik untuk anak tumbuh, mungkin pertanyaannya bukan di mana dia akan belajar paling banyak. Tapi di mana dia akan punya orang-orang yang duduk di sebelahnya setiap hari, yang peduli apakah dia sudah makan, yang tahu kalau dia sedang tidak baik-baik saja hanya dari cara dia memegang sendok.

Tempat seperti itu ada. Dan ceritanya bisa didengar langsung lewat WhatsApp 0812111180. Karena pada akhirnya, yang mengenyangkan bukan hanya nasi di piring. Tapi mengetahui bahwa kita tidak pernah makan sendirian.