RESMI DIBUKA! Di Balik Riuh PORSEKA, Ada Peluh & Cerita Ini 🔥 RESMI DIBUKA! Di Balik Riuh PORSEKA, Ada Peluh & Cerita Ini 🔥

RESMI DIBUKA! Di Balik Riuh PORSEKA, Ada Peluh & Cerita Ini 🔥

Menggetarkan Jiwa! Apel Pembukaan PORSEKA Ke-18 Annakhil Darunnajah 6 Gemuruhkan Gelora Perjuangan dan Spirit Keikhlasan Santri
MUKOMUKO Ahad, 30 Agustus 2026

RESMI DIBUKA! Di Balik Riuh PORSEKA, Ada Peluh & Cerita Ini 🔥

Siapa bilang panggung peradaban hanya milik kota-kota besar? Di bawah naungan langit Mukomuko yang cerah berwibawa, ribuan pasang mata menjadi saksi sejarah. Lapangan Utama Pondok Pesantren Annakhil Darunnajah 6 kembali bergetar dalam kemegahan Apel Tahunan Pekan Olahraga, Seni, dan Pramuka (PORSEKA) Ke-18 sekaligus Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy. Sebuah helatan tahunan yang tak sekadar ajang seremonial, tetapi menjadi manifestasi gelora jiwa dan panggung pendidikan totalitas santri!

Suasana khidmat bercampur semangat membara terasa sejak pagi hari. Barisan rapi para santri dengan seragam dan atribut kontingen menyajikan pemandangan spektakuler. Hadir memenuhi mimbar kehormatan, Wakil Bupati Mukomuko Bapak Rahmadi, AB beserta jajaran pemerintah daerah, para alim ulama, tokoh masyarakat, serta wali santri yang memandang penuh bangga.

RESMI DIBUKA! Di Balik Riuh PORSEKA, Ada Peluh & Cerita Ini 🔥

Lebih dari Sekadar Ritual PORSEKA Adalah Kawah Candradimuka
Suasana semakin magis ketika Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Annakhil Darunnajah 6, Al Ustadz H. Abadi, Lc., M.Pd., menyampaikan orasi dan amanat panggungnya. Suara beliau yang tegas nan penuh ketulusan menggema ke seluruh pelosok lapangan, membakar semangat ribuan santri yang berdiri tegap di bawah terik kebanggaan.

Dalam pidatonya yang sarat makna retoris dan keilmuan, Ustadz H. Abadi menegaskan bahwa PORSEKA dan Khutbatul ‘Arsy bukanlah ajang hiburan murahan atau festival hura-hura semata. Ini adalah panggung ujian mental dan pembentukan karakter kepemimpinan sejati.

“PORSEKA dan Khutbatul ‘Arsy hanyalah puncak gunung es dari syariat pendidikan totalitas kita. Di pesantren ini, kita memegang teguh kaidah: Apa yang engkau lihat, apa yang engkau dengar, apa yang engkau rasakan, dan apa yang engkau lakukan—semuanya adalah PENDIDIKAN!” Jelas Ustadz H. Abadi, Lc., M.Pd.

RESMI DIBUKA! Di Balik Riuh PORSEKA, Ada Peluh & Cerita Ini 🔥

Ciptakan Surga Ketaatan dan Panggung Karya Sendiri!
Dengan gaya bahasa yang kekinian dan membakar jiwa muda, Ustadz H. Abadi melontarkan sentilan retoris yang menusuk kedalaman sanubari para santri. Beliau menantang generasi muda Annakhil untuk tidak menjadi penonton pasif di tengah derasnya arus modernisasi dan polusi gaya hidup luar.

“Wahai anak-anakku santri Annakhil, untuk apa kalian iri melihat konser-konser megah di luar sana? Untuk apa kalian silau dengan gemerlap hiburan dunia luar? Mari kita ciptakan surga ketaatan kita sendiri di pondok ini! Mari buat pentas seni sendiri, demonstrasi olahraga sendiri, keahlian pramuka sendiri, dan inovasi karya sendiri! Kita ciptakan kebahagiaan yang lahir murni dari nikmatnya beribadah dan berkarya karena Allah!”

Tak lupa, dalam nasihatnya yang mendalam, Ustadz H. Abadi memberikan amanat khusus kepada segenap majelis guru dan pengurus pesantren. Beliau menekankan bahwa rapot hakiki sebuah pesantren tidak diukur dari megahnya bangunan fisik, melainkan seberapa kuat pondok menjaga nilai-nilai Islam dan seberapa besar semangat ‘GIVING’ (memberi dan berkorban) mengalir dalam dada setiap pengelolanya.

“Sekecil apa pun amanah yang diberikan kepadamu—baik sebagai pengasuh, kepala sekolah, pembimbing, hingga piket harian,jaga dan laksanakan dengan prinsip ITQAN (sungguh-sungguh). Kerana dari amanah kecil itulah, Allah akan mempercayakan pintu amanah perjuangan yang lebih besar!”

Orasi tersebut ditutup dengan doa khusyuk untuk para wakif dan pendiri pondok yang telah mendahului, disusul petikan kalimat legendaris yang membakar dada seluruh hadirin

“Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Namun manusia beriman mati meninggalkan karya dan ilmu yang bermanfaat. Hidup sekali, hiduplah yang berarti!”

Seusai orasi pembukaan dan pemotongan pita secara simbolis yang dilakukan bersama Wakil Bupati Mukomuko Bapak Rahmadi, AB, lapangan Annakhil disuguhkan dengan berbagai atraksi kolosal kreativitas santri—mulai dari Tari Persembahan, grand Opening, pementasan seni budaya, Pasukan garuda Annakhil hingga Penampilan semi bela diri.

RESMI DIBUKA! Di Balik Riuh PORSEKA, Ada Peluh & Cerita Ini 🔥

Apel Pembukaan PORSEKA Ke-18 ini menjadi bukti nyata bahwa Pondok Pesantren Annakhil Darunnajah 6 terus berdiri kokoh sebagai benteng pencetak kader pemimpin umat yang mutafaqqih fiddin, siap mengabdi untuk kemajuan Kabupaten Mukomuko dan Indonesia!