Wardan [13/09/13]. Pukul 05.05 WIB usai tunaikan sholat subuh berjamaah, seperti biasa santriwan dan santriwati bergegas membuat barisan rapih untuk simak tausiyah Jumat.
Namun pada kesempatan ini, Bapak Kiyai tidak berkenan memberikan pencerahan, mengingat harus menghadiri pernikahan dari cucu dari Pendiri Pesantren Darunnajah, dan juga putri dari KH. Drs. Musthofa Hadi Hirzin, M.Ag (fungsionaris Yayasan Darunnajah) yang dilaksanakan Jumat, 13 September 2013.
Adalah Kepala Biro Dakwah dan Humas, Ustadz Katena Putu Ghandi, S.Pd.I sebagai pengganti Bapak Pimpinan pada kesempatan tersebut, dengan mengambil tema “Menjadi Muslim Sejati”.
Menurut beliau, bahwa menuntut ilmu khususnya mempelajari, memahami serta mempraktikkan ilmu agama wajib hukumnya. Pentingnya menuntut ilmu sudah Allah SWT tegaskan dalam al-quran, sehingga wahyu pertama kali turun untuk membaca dan belajar, dengan mendapat kerelaan Tuhan.
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang telah menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan kalam (tulis dan baca), Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahui.”
Rasulullah sendiri juga menyabdakan, “Menuntut ilmu wajib hukum bagi setiap muslim dan muslimat.”
Dengan demikian, seorang muslim haruslah pandai, tidak bodoh dan dengan pemaknaan yang berbeda adalah, setiap muslim wajib memerangi keterbelakangan pendidikan, baik terbelakang terhadap pemahaman ilmu pengetahuan dan lebih-lebih terhadap pemahaman terhadap ilmu agama.
Hakikat orang jahil, itu membahayakan, bukan saja terhadap orang lain, tetapi juga pada diri sendiri. Segala amal perbuatan haruslah dimengetahui tata caranya, syarat dan rukunnya. Bagaimana jika tidak mengetahui atau tidak memahaminya, maka yang terjadi adalah perbuatan sia-sia.
Tidak hanya faktor internal saja merongrong jiwa muslim, sebagaimana hawa nafsu tak terkendali. Tidak kalah hebatnya adalah orang-orang musyrik senantiasa berperang terus-menerus tanpa henti, tak kenal lelah, sehingga mereka (orang muslim) mengikuti ajaran agamanya.
Sebagaimana telah Allah ingatkan dalam al-Qur’an dalam surat al-baqoroh ayat 120 sebagai berikut :
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ.
Artinya “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridlo kepadamu, sebelum kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, Sesungguhnya petunjuk Allah itu petunjuk (yang sebenarnya) dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong lagi bagimu.”
Secara tegas dalam ayat tersebut, bahwa mereka yahudi dan nasrani senantiasa menjadi faktor external penghambat kemajuan, kekhusukan kita dalam mentauhidkan Allah SWT.
Maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus pandai, mendapat hidayah, petunjuk hidup, obor dalam hatinya dalam kegelapan, sehingga jangan sampai obor tersebut padam setelah dinyalakan, terus dijaga dengan sekuat tenaga, sehingga Allah akan senantiasa menjadi pelindung dan penolongnya.
Sebab, untuk menjadi seorang yahudi dan nasrani tidak harus masuk agama mereka, tetapi mengikuti ajarannya, tata cara hidup, gaya menyerupai mereka, tingkah laku mirip mereka sudah masuk dalam kategori. “Man Tasyabbaha bi Qoumin fahuwa Minhum.”
Dalam keseharian kita, sering jumpai hal-hal kecil, dianggap sepele, tidak masuk dalam kategori “syari’ah”, hanya sekedar sunnah saja, makan dan minum sambil berdiri, laksana hewan.
Ini pada hakikatnya ajaran syetan, dan jelas Rasulullah sabdakan dalam sebuah haditsnya, “Jangan kalian (sekali-kali) minum sambil berdiri.” Minum saja tidak boleh, terlarang, apalagi pekerjaan lebih besar dari sekedar menenggak air, secara logika jauh dilarang.
Di antara sebagian besar ummat Islam “terdata dalam KTP”, dalam praktiknya jauh dari nilai-nilai ajaran Islam. Gaya dan pola hidupnya tidak mencerminkan keislaman. Hal inilah yang mereka sukai, tidak perlu ikrarkan masuk dan tunduk terhadap agamanya, meainkan cukup pola piker, ide, stylenya seide dengan mereka.
Seorang santri, pesantrenlah harus mengikuti sunnah Rasulullah. Harus membiasakan sedari kecil untuk melakukan hal-hal sebagai ajaran rasul. Memaknai sunnah sebagai seorang “Muhaddisun”, bukan memandang “bila dikerjakan mendapat pahala dan ditinggalkan tidak apa-apa”, akan tetapi “Ihtiyath”, sebagai pedoman hidup dan untuk dijalankan dan lestarikan sampai kiyamat.
Nabi Muhammad ingatkan dalam sebuah hadisnya : “Akan datang pada manusia satu zaman, dikala itu Islam tidak tinggal melainkan namanya, dan al-Qur’an tidak tinggal melainkan tulisannya, masjid-masjidnya bagus namun kosong dari petunjuk, ulama’-ulama’nya termasuk manusia paling jelek yg berada di bawah langit, karena dari mereka timbul beberapa fitnah dan akan kembali kepadanya. (HR.Baihaqi dari Ali).
Dalam hadits itu menjelaskan bahwa kelak akan datang suatu masa, dimana Islam tinggal namanya, al-Qur’an tinggal tulisannya, masjidnya banyak dan bermegah-megahan, tapi kosong dari petunjuk, ulama’nya manusia paling jelek, mengkomersilkan dan menjadi fitnah bagi masyarakat.
Mengapa bisa terjadi demikian? Karena kelak akan banyak orang yang mengaku beragama Islam tapi perbuatannya tidak mencerminkan keislaman. Hanya namanya saja yg Islam.
Islam diperalat sebagai identitas, symbol untuk mendapatkan surat-surat penting, untuk mempermudah perkawinan, meraup suara di ajanag pemilu, menarik simpati, mengepul masa dan lain sebagainya.
Oleh karenanya, di sana-sini banyak dijumpai orang “yang mengaku muslim” masih mendurhakai syariatnya. Shalatnya seenaknya sendri, bahkan ada yang shalat seminggu sekali atau setahun 2 kali. Mengerjakan puasa berat sekali, ada saja alasan dibuat-buat. Begitu pula zakatnya, tidak ingat bahwa harta yang dikuasai itu sebagian haknya anak yatim, sail atau haknya fakir miskin.
Tapi ibadah haji, kadang-kadang diutamakan dan diusahakan secepatnya. Dengan bangga dating dari haji namanya diubah sedemikian rupa, pakai sorban dan songkok putih di kepala. Sedang perilakunya masih tetap seperti sedia kala.
Isyarat Rasulullah ini rasanya sudah ada gejala-gejala datangnya. Minat mempelajari agama islam makin berkurang, malahan orangtua memasukkan sekolah pada anaknya dikaitkan dengan ekonomi cerah di masa dating, sekolah, ilmu sebagai mesin penting pencetak uang “profit oriented”. Tidak bertujuan mendalami ajaran Islam secara benar untuk disebarluaskan pada masyarakat awam.
Salah satu kunci membentengi diri, dan juga sebagai pembeda yang jelas antara mulim dan nonmuslim adalah sholat. Maka seorang santri, muslim harus betul-betul menegakkan, menjaga dan memperbaiki sholatnya. Dijaga terus-menerus kualitasnya, sampai visi sholat terlaksana, tergapai.
Sebab sholat sebagai tolok ukur, indikator keberhasilan mukmin, baik di dunia dan akhirat. Jika sholatnya bagus, sempurna, maka seluruh amalannya turut sempurna, namun sebaliknya, jika tidak maka amalannyapun mengikutinya.
أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح سائر عمله، وإن فسدت فسد سائر عمله (رواه الطبراتي)
Setiap muslim dan “santri” wajib memiliki kunci masuk ke syurga, sholatnya harus sempurna, baik dan tentunya mardlotillah “mendapat lesence dari Allah” Lihat surat al-ma’un. Bagaimana Musholli terdera kecelakaan, “neraka wail”, di dunia maupun akhirat. Itu karena mereka tidak khusyu’ atau lalai terhadap sholatnya.
Sholat tidak dijadikan sebagai petunjuk, melainkan sebatas ritual saja, nilai-nilai yang terkandung didalamnya tidak dilaksanakan. Tidak mengerti, bahwa sholat adalah kunci syurga dunia dan akhirat. “Mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat.” Sabar adalah amalan dan usahanya, sedangkan sholat adalah mengharapkan dzat yang Maha Agung untuk mengabulkannya.
Dalam sholat kita berkeluh kesah, lebai “bercucuran dan berderai air mata di malam hari” kepada Allah, dengan harapan ridlonya.
Tidak seperti gaulnya zaman sekarang melalui “jejaring sosial” facebook. Semua keluh kesah dicurahkan, ditumpahkan di dalamnya, sehingga seluruh teman, handai tolan, kolega mengetahuinya. Hal di mana selama ini tabu untuk diperbincangkan, kini secara terang benderang diungkapkan dan bahkan dilihat. “Tuhan Kini Berpindah Kepada Dinding Facebook “.
Bisa jadi ini jerat-jaring yahudi untuk menggiring ummat muslim untuk berbondong “meratap pada dinding “wall” sebagai luapan kegalauan, kegelisahan, ketiada berdayaan atas hidupnya.”
Corat-coret di dinding itulah pembiasaan mereka, dan sedikit-demi sedikit, melalui berbagai cara, dengan salah satunya adalah melalui jejaring sosial.
Maka jika ada yang santriwan/santriwati makan dan minum sambil berdiri, mereka laksana syetan atau hewan, turut serta dalam kebiasaan dan budaya mereka. Termasuk pula di dalamnya adalah makan tercecer, tidak dihabiskan, terbuang sia-sia dan percuma.
Mereka itulah orang-orang yang menyalahi aturan dan keberadaan jati dirinya, betapa tidak, jelas-jelas Allah dipuji dengan sebaik-baik pujian, “Fii ahsani taqwim”, “Sebaik-baik ciptaan”, tercipta sebagai makhluk paling sempurna di antara makhluk, baik di bumi maupun di angkasa.
Gaya pacaran muda-mudi juga demikian, makin dilegalkan-melegalkan antarorangtua dan anak. Seorang anak secara tegas diperbolehkan oleh orangtua untuk berpacaran dengan alasan sudah memasuki gerbang usia dewasa, atau “up seventeen”.
Islam adalah agama yang relevan sepanjang masa, laik di manapun dan kapanpun berada. Dari segi tata-busana saja Islam menerapkan terdepan dan paling modern, menutup aurat (ada batasannya), bandingkan coba dengan busana-busana “katanya lagi trend”, busana termodern tetapi “ dalam masa zaman priitif” “You Can See Lek” atau disingkat “CEL” dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih “Kamu bisa melihat kelek”.
Islam anjurkan pacaran, bahkan secara tegas Nabi perintahkan, yang terpenting lima rukun harus ada dan harus terpenuhi : 1) Calonnya ada, dari golongan manusia bukan makhluk astral, ataupun lainnya, tidak pula sejenis, melainkan lawan jenis, juga seiman, dll. 2) Sepengetahuan orangtua, tidak back setreet, main belakang, petak umpet. 3) Diketahui oleh satu kampung, masyarakat luas agar tidak menjadi fitnah (al fitnatu asaddu minal qotli) 4) Harus ada tanda bukti cinta, minimal seperangkat alat sholat, atau cincin emas, berlian melingkar di tangan 5) Ada sumpah setia (ijab qobul) antarkedua orang yang akan pacaran tersebut, baru dikatakan syah pacarannya.
“Wahai pemuda, siapa diantara kalian sudah mampu (ba’ah/berumah tangga) menikahlah, sesungguhnya itu bisa mempersempit pandangan (terhadap kejahatan) dan menjaga kemaluan, tetapi jika tidak mampu, berpuasalah, sesungguhnya yang demikian adalah penawar atau obatnya.”
Demikianlah sesungguhnya Rasulullah ajarkan bagi ummatnya, bagaimana menjaga diri untuk senantiasa fitrah, suci sejak terlahir sampai kepada menghadap kembali kepada Tuhannya.
Menata dan melaksanakan hal-hal terkecil dengan terperinci, hati-hati, sehingga hal-hal besar menjadi suatu pekerjaan mudah dan serasa ringan. Bahwa manusia diberi peringatan “Syetan adalah musuh nyata”, untuk itu wajib kiranya berperang melawannya.
Allah berpesan, Islam sebagai agama pilihan, mau masuk terserah dan meninggalkan demikian pula, silahkan “Lakum dinukum waliyadin”. Tetapi perlu diingat, jika sudah masuk ke dalam Islam, mengikrarkan kalimat syahadat, maka secara totalitas harus masuk, mengikuti aturan mainnya. “Udkhulu fis-silmi kaffah”
Untuk itu, dalam diri benak santri harus ada KATA perang melawan syetan, tidak sekedar menjaga untuk pindah agama (dari Islam) ke yang lain, tetapi harus pula memperhatikan dan menjauhi perilaku-perilaku yang menjadi pembiasaan mereka. [Mr. Song]