Rahasia Menjadi Pembicara Hebat

“Perlu diingat anak-anakku! Amalan yang tidak akan pernah putus sampai kapanpun adalah 1) Shodaqoh jariyah 2) Anak yang sholeh 3) Ilmu yang bermanfaat. Maka dari itu apabila kita ingin menjadi manusia yang beruntung, kita harus punya 3 bekal tersebut” pesan Ustadz Katena Putu Ghandi, S. Pd.I mengutip hadits nabi dalam pelatihan HCTI di pesantren Darunnajah Cipining.

Pelatihan HCTI (Hutbah, Ceramah, Ta’lim, dan Imamah) diadakan untuk pertama kalinya di pesantren Darunnajah Cipining dengan melibatkan kelas XI-XII MA dan 2-3 SMK sebagai peserta, Selasa (22/2/11) Kegiatan yang mengacu kepada HCTI sebenarnya sejak awal telah menjadi konsentrasi pesantren yang kemudian digulirkan dalam konsep pelatihan pidato (muhadloroh). Namun seiring dengan kondisi dan kebutuhan pesantren, meskipun muhadloroh masih tetap dipertahankan untuk kelas VII MTs hingga kelas X MA, perlu kiranya HCTI ini diselenggarakan kembali.

Lebih lanjut, Ustadz Katena selaku kepala biro Dakwah & Humas dalam session presentasinya di depan para santri peserta HCTI mengurai soal bagaimana cara agar para santri sebagai generasi muda mampu melakukan hutbah, ceramah, ta’lim sekaligus imamah bila terjun di masyarakat nantinya. “Selain kita harus memerhatikan tema yang akan dipilih, jangan lupa pula kita harus memperhatikan busana yang akan dipakai, karna itu juga sangat berpengaruh sebagai bentuk Kreativitas” lanjutnya.

Sebagai contoh, Ustadz Katena kemudian menunjuk salah  satu di antara peserta untuk mempraktikkan cara berkhutbah dengan baik dan benar sebagaimana uraiannya sebelumnya. Pada kesempatan ini terpilihlah Dicki Fajar Nugraha santri dari kelas XII MA. Usai praktik, komentar, kritik, dan saran diberikan sebagai evaluasi.

Pada session ke-2, Ustadz Muklisin Ibnu Muhtarom, S.H.I yang menjabat staf pembinaan da’i di biro dakwah & humas mengambil peran. Nara sumber  memberikan materi tentang Seni Retorika. Berbagai macam materi pun dijelaskan secara detail, dari bagaimana menjadi hotib yang baik, cara-cara mengambil perhatian orang lain agar bisa fokus terhadap materi yang disampaikan, mengurangi rasa nervous atau grogi ketika berhadapan langsung dengan orang banyak, hingga mengetahui perasaan para hadirin baik antusias maupun acuh tak acuh.

Di akhir presentasi, nara sumber juga menunjuk dua orang perwakilan dari putra dan putri untuk mempraktikkan sistem HCTI ini. Semoga dengan di adakannya pelatihan ini dapat menambah wawasan dan ilmu para peserta sehingga mereka dapat menjadi generasi muda yang bermanfaat untuk bangsa, negara, dan agama. Amin  (WARNA/Putri Khoirunnisa).