Pujian Tulus untuk Teman yang Berhasil — Kebiasaan Kecil yang Lebih Sulit Dilatih dari yang Terlihat

Pujian Tulus untuk Teman yang Berhasil — Kebiasaan Kecil yang Lebih Sulit Dilatih dari yang Terlihat

Perhatikan anak-anak di ruang tunggu sekolah saat hasil ulangan dibagikan. Sebagian langsung pamer nilai. Sebagian menutup kertas jawaban dengan rapi. Dan sebagian kecil — biasanya jumlahnya paling sedikit — menepuk bahu teman yang dapat nilai lebih tinggi sambil bilang, bagus sekali, saya senang kamu dapat itu.

Kelompok yang terakhir ini yang jarang dibahas. Padahal kebiasaan mereka itu salah satu kebiasaan paling sulit dilatih pada anak.

Sekilas, memuji teman yang berhasil terlihat hal mudah. Tapi kalau dicermati, ada banyak lapisan di baliknya. Untuk bisa memuji dengan tulus, seseorang perlu merasa aman dengan posisinya sendiri. Ia perlu tidak takut kalah. Ia perlu bisa melihat keberhasilan orang lain tanpa merasa kekurangannya sendiri jadi lebih kelihatan. Ia perlu punya kebiasaan memperhatikan hal baik, bukan hal kurang. Dan ia perlu tidak terburu-buru menutupi kekagumannya.

Kenapa memuji tulus itu sulit, meski kelihatannya sepele?

Ada beberapa rintangan batin yang jarang disadari.

Pertama, rasa takut tergeser. Anak yang dari kecil dibandingkan dengan teman — secara terbuka maupun diam-diam — belajar menganggap keberhasilan sebagai kompetisi. Kalau temannya berhasil, itu berarti posisinya terancam. Dalam kondisi seperti itu, memuji terasa berat karena ia merasakan dirinya sedang mengakui kekalahan. Jadi dipuji pun diucapkan setengah hati, dengan senyum yang tidak benar-benar sampai di mata.

Kedua, latar belakang kompetitif. Banyak lingkungan sekolah dirancang dengan ranking, bintang, dan pemeringkatan. Tanpa sadar, anak belajar bahwa hanya ada tempat terbatas untuk orang berhasil. Kalau temannya naik, ia merasa dirinya turun. Memuji dalam konteks ini berat.

Ketiga, kurangnya contoh. Kalau orang tua dan orang dewasa di sekitar anak jarang terlihat memuji orang lain dengan tulus, anak tidak punya model. Ia hanya lihat pola biasa — memuji anak sendiri, memuji anggota keluarga, tapi jarang memuji orang lain yang berhasil lebih dari dirinya. Tanpa model ini, kebiasaan memuji tulus tidak mudah tumbuh.

Keempat, kebiasaan membandingkan. Anak yang sering membandingkan dirinya dengan teman cenderung sulit merayakan teman. Karena saat temannya berhasil, yang muncul di kepalanya bukan kekaguman, tapi pertanyaan — kenapa saya tidak begitu.

Empat hal ini saling menguatkan. Dan hasilnya adalah sikap yang dilihat dalam banyak ruang — ucapan selamat formal yang tidak hangat, ekspresi datar di hadapan kabar baik teman, dan kesulitan tersembunyi untuk tulus ikut senang atas keberhasilan orang lain.

Kenapa kebiasaan ini penting untuk masa depan anak?

Karena ini bukan sekadar etika. Kebiasaan memuji tulus berkaitan dengan kualitas banyak hal dalam hidup dewasa.

Anak yang bisa tulus merayakan teman cenderung tumbuh jadi orang yang hangat. Orang hangat menarik banyak orang baik di sekelilingnya. Lingkungan sosialnya terbangun dengan sendirinya. Jaringan kerjanya, jaringan pertemanannya, bahkan jaringan keluarganya cenderung lebih kuat.

Ia juga lebih sehat secara mental. Orang yang terbiasa merayakan orang lain jarang tersiksa oleh rasa iri yang kronis. Dan rasa iri yang kronis — kalau tidak diolah — bisa menjadi akar banyak kegelisahan di usia dewasa.

Secara karier, orang yang bisa memuji tulus lebih mudah dipercaya jadi pemimpin. Karena pemimpin yang baik butuh kemampuan melihat kebaikan orang lain dan mengungkapkannya. Atasan yang pelit memuji timnya kehilangan bagian besar dari potensi kepemimpinannya. Sementara atasan yang tulus mengakui kerja baik bawahannya membangun kesetiaan yang sulit dibeli.

Dan dalam hubungan personal yang panjang — dengan pasangan, dengan anak sendiri nanti — kemampuan memuji tulus adalah fondasi hubungan yang tahan lama. Pernikahan dan keluarga yang kuat sering ditopang oleh kebiasaan kecil saling mengakui kebaikan masing-masing.

Di mana budaya saling memuji bisa tumbuh secara natural?

Di komunitas di mana kebersamaan lebih nyata daripada kompetisi.

Salah satu tempat yang kultur ini hidup adalah asrama pesantren. Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, santri tidak hanya belajar bersama, tapi juga tinggal bersama. Kegiatannya panjang — dari subuh sampai malam — dan selalu dikelilingi teman sebaya dan kakak kelas dan adik kelas yang akrab.

Dalam struktur hidup seperti ini, kompetisi memang ada — misalnya saat lomba tahfidz, saat pemilihan ketua OSIS, saat ujian. Tapi kompetisi ini berjalan di atas fondasi kebersamaan yang lebih kuat. Karena yang menang dan yang kalah akan tetap tidur di kamar yang sama, makan di meja yang sama, solat berjamaah di masjid yang sama keesokan hari. Kemenangan satu orang tidak bisa dinikmati sendirian — ia dibagikan, dirayakan bersama, dan menjadi kebanggaan kolektif.

Ini sebabnya saat salah satu santri lolos seleksi beasiswa ke luar negeri, teman sekamarnya ikut senang dengan tulus. Bukan pura-pura. Saat salah satu menang lomba pidato bahasa Arab, teman seangkatannya memeluk dan mengucapkan selamat dari hati, walau mereka ikut lomba yang sama. Saat salah satu jadi juara umum kelas, teman terdekatnya menjadi yang paling bangga, walau nilainya sendiri tidak setinggi itu.

Kebiasaan ini tumbuh karena ada sesuatu yang lebih besar dari kemenangan individual — nilai ukhuwah yang terus diingatkan di banyak kegiatan, dari kultum pagi sampai obrolan santai malam. Ukhuwah, atau persaudaraan, mengajarkan bahwa keberhasilan saudara adalah keberhasilan kita sendiri. Dan ini bukan slogan — ia terasa dalam keseharian.

Ada satu tradisi kecil yang menunjukkan ini. Saat salah satu santri mendapat kabar baik — misalnya diterima di universitas impian — berita itu cepat menyebar. Teman-teman di kamar datang mengucapkan selamat. Kakak kelas yang dulu membimbingnya ikut senang. Ustadz yang mengajar memberi apresiasi. Bahkan santri dari angkatan lain yang hanya kenal sekilas mengucapkan selamat saat berpapasan. Kemenangan satu orang jadi kegembiraan banyak orang. Dan ini menular.

Anak yang tumbuh dalam kultur ini belajar tanpa diajari secara formal bahwa memuji tulus itu biasa. Merayakan teman itu biasa. Ikut bangga pada kehebatan saudara itu biasa. Setelah beberapa tahun, kebiasaan ini menjadi karakter.

Apa yang terjadi saat anak ini bertemu dunia luar?

Saat lulus dan masuk lingkungan baru — kuliah, kerja, komunitas — kebiasaan ini terbawa. Ia tidak bisa mendadak jadi pelit memuji. Ia secara refleks mengakui keberhasilan teman.

Di kampus, ia menjadi teman yang dekat dengan banyak orang. Di tempat kerja, ia menjadi rekan yang tidak merasa terancam saat kolega lain naik. Di komunitas, ia sering jadi penghubung yang menjaga keharmonisan.

Orang-orang di sekitarnya merasakan kehangatan ini. Banyak pintu yang terbuka bukan karena ia pintar, tapi karena ia hangat. Dan dalam jangka panjang, kehangatan sering menjadi pembeda antara orang berhasil yang kesepian dan orang berhasil yang dicintai.

Apa yang bisa dicoba di rumah?

Mulai dari menunjukkan. Saat ada kabar baik tentang saudara, ipar, atau tetangga, ungkapkan kegembiraan dengan nyata di depan anak. Tidak harus panjang. Sekadar, wah senang sekali ya dia dapat itu, semoga berkah. Kalimat pendek yang tulus membekas lebih dari ceramah panjang.

Jangan bandingkan anak dengan teman-temannya. Ini bagian yang sulit karena sering terjadi tanpa sadar. Tapi anak yang sering dibandingkan sulit merayakan temannya — karena setiap keberhasilan teman dirasa menjadi ancaman pada posisinya di mata orang tua.

Ajari mengucap selamat. Saat teman anak ulang tahun, berhasil, atau menang lomba, ajak anak menelepon atau mengirim pesan ucapan. Pertama-tama mungkin terasa kaku. Tapi dilatih beberapa kali, anak jadi lebih nyaman.

Kalau di rumah dirasa tidak cukup menumbuhkan ini, komunitas yang memang mengusung kebersamaan sebagai nilai harian — seperti pesantren — bisa jadi tempat yang tepat.

Kalau topik semacam ini menyentuh hal yang sedang dicari untuk anak, tim penerimaan santri Pesantren Darunnajah 2 Cipining bisa ngobrol santai kapan saja di wa.me/62812111180.

Dari obrolan seperti ini sering muncul kesadaran baru bahwa yang paling membentuk kehangatan anak bukan sekadar pendidikan akademik, tapi lingkungan di mana ia terbiasa melihat kebaikan orang lain dan merayakannya seperti merayakan keberhasilan sendiri.