Public Speaking yang Terlatih Sejak Remaja di Pesantren dan Dampaknya di Karir

Di pesantren, berdiri di depan orang banyak dan berbicara bukan kegiatan opsional yang bisa dihindari. Ini kewajiban yang harus dijalani setiap santri tanpa kecuali. Muhadharah — latihan berpidato tiga bahasa — memaksa setiap santri naik panggung secara bergiliran, menghadapi ratusan pasang mata, dan menyampaikan sesuatu yang harus didengarkan oleh semua orang di ruangan. Proses itu terasa sangat menakutkan di awal. Tapi setelah dilakukan berkali-kali selama bertahun-tahun, ketakutan itu perlahan berubah menjadi keterampilan yang sangat berharga.

Latihan public speaking di pesantren berbeda dari latihan di sekolah umum. Di sekolah, presentasi mungkin terjadi beberapa kali dalam satu semester. Di pesantren, santri berbicara di depan umum hampir setiap pekan — dari muhadharah resmi sampai kultum singkat di masjid, dari memimpin doa sampai menyampaikan pengumuman di depan seluruh asrama. Frekuensi yang tinggi itu menciptakan jam terbang yang tidak dimiliki oleh anak seusia mereka di luar pesantren.

Kita yang pernah melewati proses itu tahu bahwa ketakutan berbicara di depan umum tidak hilang dalam semalam. Pidato pertama selalu penuh keringat dingin dan kalimat yang tersendat. Pidato kelima masih terasa gugup. Pidato kesepuluh mulai terasa lebih natural. Pidato kelima puluh sudah terasa seperti percakapan biasa. Proses bertahap itu tidak bisa dipercepat — hanya bisa dijalani satu pidato demi satu pidato.

Yang membuat latihan public speaking di pesantren lebih efektif dari pelatihan formal adalah tekanannya yang sangat nyata. Penonton bukan orang asing yang sopan dan tidak mengenal pembicara. Penonton adalah teman-teman sendiri — orang yang akan bertemu lagi di kantin, di kelas, di asrama. Kalau pidatonya jelek, mereka akan ingat. Kalau pidatonya bagus, mereka juga akan ingat. Tekanan sosial dari dikenal oleh penonton membuat setiap penampilan terasa punya taruhan yang nyata.

Pidato di pesantren juga dilakukan dalam tiga bahasa — Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris. Tingkat kesulitannya berlipat ganda karena santri bukan hanya harus mengatasi ketakutan berbicara di depan umum, tapi juga harus melakukannya dalam bahasa yang bukan bahasa ibunya. Orang yang berhasil melewati tantangan itu memiliki kepercayaan diri berbicara yang levelnya sangat tinggi — karena kalau sudah bisa berpidato dalam bahasa asing di depan ratusan orang, presentasi dalam Bahasa Indonesia di depan sepuluh orang terasa sangat ringan.

Dampak kemampuan public speaking dari pesantren terlihat sangat jelas di dunia profesional. Alumni pesantren sering menjadi orang yang paling berani mengajukan pendapat di rapat. Paling tenang saat presentasi di depan klien. Paling natural saat harus berbicara di acara formal tanpa persiapan panjang. Kemampuan itu bukan bakat — itu jam terbang yang sudah dimulai sejak usia belasan tahun.

Banyak alumni yang berkarir di bidang yang membutuhkan kemampuan komunikasi tinggi — jurnalistik, hukum, dakwah, politik, pendidikan, bisnis — bercerita bahwa fondasi kemampuan berbicara mereka dibangun di panggung muhadharah pesantren. Panggung sederhana dengan mikrofon yang kadang bermasalah dan penonton yang kadang mengantuk — tapi dari panggung itulah keberanian bicara pertama kali dipupuk.

Di Darunnajah 2 Cipining, muhadharah tiga bahasa menjadi bagian dari program rutin yang sudah berjalan selama puluhan tahun. Setiap santri mendapat giliran tampil secara berkala, memastikan bahwa kemampuan berbicara di depan umum terbentuk merata di seluruh santri tanpa kecuali.

Kemampuan berbicara di depan umum mungkin terasa menakutkan bagi kebanyakan orang dewasa. Tapi bagi seseorang yang sudah dilatih sejak remaja — yang sudah berdiri di depan ratusan orang puluhan kali sebelum usia dua puluh — rasa takut itu bukan lagi penghalang. Itu hanya perasaan yang sudah sangat familiar dan sudah tahu cara mengatasinya.

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang program pendidikan di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.