Public Speaking ala Santri: Melatih Keberanian Lewat Muhadharah Public Speaking ala Santri: Melatih Keberanian Lewat Muhadharah

Public Speaking ala Santri: Melatih Keberanian Lewat Muhadharah

Public Speaking ala Santri: Melatih Keberanian Lewat Muhadharah

Berdiri di depan teman sendiri sering terasa lebih menegangkan daripada berbicara di hadapan orang asing. Tantangan itulah yang dihadapi para santri putra dalam kegiatan muhadharah, latihan berpidato yang menjadi sarana menumbuhkan keberanian. Di atas mimbar, setiap santri belajar menyusun gagasan, mengatur suara, dan menyampaikannya dengan runtut. Keberanian itu tidak datang tiba-tiba, melainkan tumbuh dari kesediaan untuk mencoba berulang kali.

Muhadharah adalah tradisi latihan pidato yang dikenal luas di dunia pesantren. Dalam kegiatan yang digelar di Pesantren Darunnajah 2 Cipining pada [hari, tanggal], santri putra mendapat giliran tampil sebagai pembicara. Mereka menyampaikan pidatonya di hadapan teman-temannya. Format ini memberi ruang bagi setiap santri untuk benar-benar berlatih, bukan menjadi penonton.

Pada umumnya, persiapan muhadharah dimulai jauh sebelum santri naik ke mimbar. Santri memilih tema, menyusun kerangka, lalu melatih cara penyampaiannya. Mereka belajar membuka pidato dengan salam yang mantap, menjelaskan isi dengan jelas, dan menutupnya dengan pesan yang mudah diingat. Tahapan ini membantu mereka memahami bahwa pidato yang baik lahir dari persiapan yang matang.

Di balik latihan itu ada alasan yang sederhana. Berbicara di depan umum menuntut kesiapan mental, dan kesiapan mental hanya bisa dibangun lewat pengalaman. Santri yang semula gugup, suaranya bergetar, atau lupa bahan pidatonya, akan terbiasa menghadapi perasaan tersebut seiring seringnya mereka tampil. Rasa takut tidak harus dihilangkan lebih dulu, tetapi dihadapi sedikit demi sedikit.

Nilai ini sejalan dengan teladan para nabi. Al-Qur’an mengisahkan doa Nabi Musa AS sebelum menghadapi Fir’aun: memohon agar dadanya dilapangkan, urusannya dimudahkan, dan kekakuan lidahnya dilepaskan supaya kaumnya memahami perkataannya (QS. Thaha: 25–28). Doa ini menunjukkan bahwa menyampaikan pesan di hadapan orang lain adalah perkara besar. Keberanian dimulai dari usaha yang sungguh-sungguh dan permohonan pertolongan kepada Allah.

Pesan Rasulullah SAW juga menguatkan pentingnya kemampuan menyampaikan. Dalam hadis riwayat Bukhari, beliau meminta umatnya menyampaikan ajaran walau hanya satu ayat. Bagi santri, muhadharah menjadi latihan awal menuju tanggung jawab itu. Hari ini mereka berpidato di depan teman sebaya, kelak mereka akan berbicara di tengah masyarakat yang lebih luas.

Yang tidak kalah penting adalah penghargaan terhadap proses. Santri yang terbata-bata di awal tetap melangkah ke mimbar berikutnya dengan bekal pengalaman baru. Kesalahan menjadi bahan belajar, dan setiap penampilan menjadi catatan kemajuan. Dengan cara pandang ini, hasil akhir bukan satu-satunya ukuran keberhasilan, sebab perjalanan menuju keberanian juga bernilai.

Muhadharah turut melatih santri menjadi pendengar yang baik. Ketika satu santri tampil, yang lain duduk menyimak, menghargai, dan belajar dari cara temannya berbicara. Suasana saling mendukung ini menumbuhkan kepercayaan diri bagi yang tampil. Dari sini terbentuk kebiasaan berbicara dengan santun dan mendengar dengan penuh perhatian.

Pada akhirnya, muhadharah mengajarkan bahwa keberanian dapat dilatih. Pesantren menyediakan mimbar, santri mengisinya dengan keberanian untuk mencoba, dan orang tua serta masyarakat dapat menguatkannya dengan dukungan. Mari beri anak-anak kita kesempatan berbicara, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar. Dukungan kecil hari ini dapat menjadi bekal besar bagi mereka untuk menyampaikan kebaikan di masa depan.