Pernah tidak kita merasa aneh karena bangun jam tiga pagi bukan untuk belajar, tapi untuk makan?
Suara weker berbunyi pelan. Mata masih berat. Tapi kaki sudah bergerak ke dapur asrama karena satu alasan — sahur. Bukan sahur Ramadhan. Ini hari Senin biasa. Dan entah kenapa, nasi hangat yang dimakan dalam keadaan setengah sadar itu punya rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kenapa puasa Senin Kamis terasa berbeda kalau dilakukan bersama?
Di rumah, puasa sunnah sering menjadi urusan pribadi. Tidak ada yang tahu, dan godaan membatalkan begitu mudah. Tapi di pesantren, ketika kita menahan lapar, teman di sebelah juga menahan lapar. Tidak perlu kata-kata penyemangat. Kehadiran mereka sudah cukup.
Puasa Senin-Kamis menjadi kebiasaan yang tumbuh bukan karena paksaan, melainkan karena lingkungan. Kalau satu kamar puasa, yang lain ikut. Bukan tekanan sosial. Lebih tepat disebut gravitasi kebaikan.
Apa yang terjadi pada tubuh saat rutin berpuasa?
Dunia kesehatan modern menyebutnya intermittent fasting. Metabolisme membaik, kadar gula darah lebih stabil, sel-sel tubuh melakukan regenerasi. Santri yang berpuasa Senin-Kamis dan Ayyamul Bidh sudah melakukan ini jauh sebelum istilah itu populer.
Yang membedakan adalah niatnya. Bukan sekadar diet. Ada dimensi lain yang membuat puasa ini bekerja pada level yang lebih dalam.
Bagaimana menahan lapar melatih sesuatu yang tidak terlihat?
Saat lapar, emosi jadi lebih tipis. Kesabaran diuji setiap menit. Puasa bukan hanya menahan perut dari makanan. Puasa melatih kita menahan lisan dari kata-kata yang tidak perlu. Menahan pikiran dari keluhan.
Setiap kali kita berhasil melewati satu hari tanpa makan dan tanpa mengeluh, kita sedang membangun pengendalian diri. Keterampilan yang paling dibutuhkan di dunia nyata nanti.
Momen mana yang paling membekas?
Bukan saat sahur. Bukan saat menahan lapar. Justru saat berbuka.
Sore menjelang maghrib. Duduk bersila bersama teman-teman sekamar. Di depan masing-masing ada segelas air putih dan beberapa butir kurma. Adzan berkumandang. Air putih itu terasa seperti minuman terbaik sepanjang hari.
Nikmat tidak ditentukan oleh harga atau kemewahan. Nikmat ditentukan oleh seberapa kita menghargai apa yang ada di depan kita.
Di Darunnajah 2 Cipining, puasa sunnah bukan program wajib yang diabsen. Justru di situlah kekuatannya. Ketika seseorang memilih berpuasa karena kesadaran sendiri, yang terbentuk adalah karakter. Bukan sekadar kebiasaan.
Kakak kelas yang sudah lulus sering bilang, kebiasaan puasa sunnah adalah satu hal yang paling mereka syukuri dari masa pesantren. Karena puasa mengajarkan bahwa kebahagiaan itu sederhana.
Hubungi WhatsApp 0812111180 untuk bicara lebih dalam. Satu percakapan singkat bisa membuka perspektif yang selama ini belum terpikirkan.