Dalam berbagai macam episode kehidupan, manusia sering kali mencari pengakuan. Terlebih lagi, dalam era yang dipenuh dengan aktivitas untuk mengunggah dan berbagi seperti sekarang ini.
Terkadang kita membuka sedikit wilayah privasi kepada publik, dengan harapan mendapat pengakuan. Bahkan, tanpa diminta pun kita akan dengan sukarela membeberkannya.
Walaupun motifnya tidak selalu hanya mencari pengakuan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu mungkin menjadi salah satu alasan. Yaitu, sebuah Pengakuan. Dan sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut, karena hal itu adalah hal yang sangat manusiawi.
Dorongan untuk diakui sebagai bagian dari sesuatu pun timbul. Dorongan untuk dianggap sama dengan orang lain, bahwa “aku” juga memiliki keistimewaan seperti orang lain. Dorongan tersebut bisa berasal dari perasaan tidak aman (insecure). Merasa bahwa diri harus setara dengan orang lain, merasa perlu untuk menegaskan keberadaan kita.
Tak terasa, kita sudah memasuki dan melewati hari-hari di bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan ini ada salah satu amal ibadah yang memusnahkan dorongan untuk pengakuan diri. Dimana kita diminta untuk memberikan yang terbaik tanpa perlu mengunggah atau membagikan amalan tersebut.
Apa itu? Puasa.
Siapa yang benar-benar dapat menilai kualitas puasa kita? Kita bisa mengatakan bahwa kita sedang berpuasa, namun itu hanya sebatas perkataan. Tidak seperti gerakan dalam shalat, atau jumlah zakat maupun infaq yang telah kita berikan. Mengenai kualitas puasa itu sendiri, hanya Allah yang mengetahuinya.
Itulah mengapa puasa menjadi ibadah yang sangat intim. Hanya Allah dan hamba-Nya saja yang mengetahuinya. Tidak ada perhitungan pahala yang berlaku untuk ibadah puasa ini.
Allah Swt menegaskan bahwa puasa dinilai secara langsung oleh-Nya. Tidak ada hitungan yang dibutuhkan, dengan kata lain, pahala puasa tidak bisa dinominalkan, pahala puasa tanpa menggunakan hitungan (بغير حساب).
Maka, hilanglah dorongan untuk mendapat pengakuan oleh manusia, yang ada hanya pengakuan dari Yang Maha Sejati: Allah SWT. Pengakuan dari-Nya dapat menghasilkan keridhaan. Jika Dia telah meridhai, maka apa lagi yang kita butuhkan?
Seseorang berpuasa atas kesadarannya sebagai hamba. Ia tak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga merayu diri agar hati dan panca indra ikut berpuasa. Mengikis keinginan untuk diakui, dan memutlakkan hati agar segala ibadah sejatinya untuk mendapatkan pengakuan dari Allah SWT.
Seseorang berpuasa atas kesadaran sebagai hamba. Ia tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga merayu dirinya agar hati dan panca indra ikut berpuasa. Mengikis keinginan akan pengakuan manusia, dan memurnikan hati agar segala ibadah sejatinya untuk mendapatkan pengakuan dari Allah SWT.
Puasa Ramadhan membimbing manusia menuju pengakuan yang sejati. Biarlah sunyi di mata manusia, karena kerelaan dan pengakuan Allah adalah yang utama di atas segalanya.
Wallahua’lam.
4 Ramadhan 1445 H.