Potret Kemandirian Santri
Menu

Potret Kemandirian Santri

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

By Amiq Ahyad

Kepada santrinya, pak Zarkasyi selalu berpesan supaya menjadi pribadi yang madiri. Pesan ini kemudian tercermin dari pola mengelola pondok. Semua aktifitas dan kebutuhan santri dikelola oleh santri sendiri.Dicukupi oleh santri sendiri dan santri mencukupi kebutuhan sendiri. Dari sisi ekonomi, pola semacam ini tentu saja membawa implikasi yang dahsyat, sebab kapital pada akhirnya sangat minim yang ke luar dari lingkungan Gontor.

Ketika santri membutuhkan lauk pauk tambahan, maka santri mengelola Walapa (warung lauk pauk), ketika santri membutuhkan kafetaria, santripun kemudian mengelola Qifṭīr (kafetaria), begitu juga ketika santri membutuhkan buku pelajaran dan kebutuhansehari hari lainnya, santripun kemudian membuka Kopel (Koperasi Pelajar). Tentu saja santri Gontor tidak menjual produk yang dia buat, tapi cukup menjadipenjual barang yang dijual masyarakat sekitarnya. Masyarakat sekitar Gontor diperkenankan menjadi supplier barang yang dibutuhkan para santri dan kemudian santri akan menjual barang mereka. Dengan demikian santri Gontor melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar pondok tanpa harus mengganggu aktifitas belajar mereka.

Usaha yang dikelola santri dibawah payung OPPM.Organisasi Pelajar Pondok Modern Gontor. Organisasi tersebut setingkat denganOSIS di sekolah menengah di luar pondok. Unit usaha tersebut menjadi bagiandari organisasi kesiswaan. Jadi, aktifitas mereka adalah legal dan bukanmenjadi aktifitas pengelolanya semata. Kata pak Zar aktifitas aktifitas tersebut merupakanbagian dari pendidikan santri selama 24 jam.

Dengan konsumen sebanyak 1500 orang santri (waktu itu, mungkin sekarang menjadi 3 kali lipat), santri mengelola kapital antara 100 juta hingga 150 juta beragam sesuai lalu lintas kapital yang terjadi di masing masing bagian. Suatu saat pak Zar ditanya,bagaimana mengajari santri setingkat SMA untuk mengelola usaha dengn kapital sebegitu besar dan memiliki keuntungan yang terus meningkat setiap tahunnya?Apakah ada training managemen modern yang diberikan kepada para santrinya? Apa Pondok Gontor tidak membutuhkan akuntan yang akan mendidik santri bagaimanamengelola kapital sehingga menghasilakan sebuah neraca keuangan yang wajartasnpa syarat. Pak Zar di depan santrinya dengan mengatakaan bahwa beliau bangga dengan kejujuran santrinya sebab prinsip manajemen modern adalah kejujuran. Dan itu dimiliki oleh santri Gontor lewan pendidikan Gontor. Saya ingat betul khutbah beliau di BPPM suatu ketika, dan saya tidak pernah akan lupa.

Saya akan bercerita tentang sebuah unit usaha santri yang menurut saya sangat unik. Yaitu Qism Kāwi. Bagian ini kalau kita terjemahkan menjadi Laundry. Waktu saya menjadi santri (1978-1984), yang menjadi pengelola adalah kawan saya Ahmad Najib dan Edy Santoso. Keduanya sekarang menjadi pengusaha yang sukses. Najib menjadi pengusaha konveksi dangarmen, sedangkan Edy Santoso menjadi pengusaha Bakery. Qis Kāwi menjadi cikal bakal Laundry kiloan yang tidak kita sangka begitu menjamur sekarang ini. Kedua kawan saya mungkin juga tidak pernah menyangka kalau aktifitas mereka 30 tahun yang lalu menjadi unit usaha yang menjanjikan bagi sebagian pelaku ekonomi.

Santri Gontor memang memilik waktu yang cukup untuk mencuci dan menyetrikan pakaian kotornya. Tapi tidak semua mau melakukannya. Nah santri yang lebih memprioritaskan belajar ketimbang mencuci, Qism Kāwī adalah solusi terbaik. Pada saat ujian (Imtiḥān) unit usaha ini kan menjadi unit usaha yang akan kebanjiran konsumen. Termasuk saya, tentu saja.

Santriakan membawa pakaian kotornya ke unit usaha santri ini, dulu terletak di depan Rayon Indonesia Satu. Gedung yang menjadi markas Qism Kāwī adalah gedung Iraq. Ada dua jenis layanan yang diberikan; mencuci plus setrika, atau hanya mencuci saja.Tentu saja harga berbeda untuk dua jenis layanan tersebut. Kemudian pengelolakan bemberi tanda berupa kain kecil yang diberi nama kemudian nama tersebutdikaitkan di salah satu baju dengan terlebih dahulu di kaitkan ke sebuahpeniti. Kemudian secara berkala, pagi dan sore akan ada orang yang mengambildan mengantarkan cucial kotor dan yang sudah bersih. Bapak bapak yang mengambildan mengantarkan adalah penduduk desa Gontor yang menyediakan jasa ataskebutuhan santri. Maka apabila kita lari pagi, kemudian melewati rumah pendudukyang di halaman rumahnya terdapat banyak baju yang dijemur, bisa dipastikan bahwa mereka memiliki jaringan kerja dengan Qism Kāwī. Ini tampakan luar yang paling jelas bagi mereka mereka yang melihat Gontor sebagai potensi pasar bagi jasa mereka.

Ketika Gontor ingin meluaskan area pondok maka tidak punya pilihan kecuali harus menggusur sebagian penduduk sekitar. Terdapat pertentangan serius oleh penduduk sekitar. Pak Zar pernah bercerita, untuk memindahkan penduduk  yang tanahnya diperlukan pondok menerapkanganti untung. Mereka akan dibangunkan rumah bertembok (meskipun rumahnya terbuat dari anyaman bambu, gedhek) kemudian diberi sawah seluas tanang yang dibutuhkan pondok. Tapi bagi penduduk yang akan dipindah, menjauh dari Gontoritu ibarat menjauh dari pasar. Bagi mereka untuk tetapi bisa mensuply kebutuhan santri jauh lebih menguntungkan jangka panjang dari pada hanya sepetak sawah. Ini menurut saya pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar Gontor yang gagal dilihat oleh aktifis LSM seperti Dawam Rahardjo.

Surabaya,26 Juni 2013
ã Amiq Ahyad

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Webinar Tapak Suci Motivasi Santri Dalam Berlatih

Tapak suci sebagai salah satu varian seni bela diri pencak silat, yang memiliki ciri khas dan bisa menunjukan identitas yang kuat dengan ciri khas tersendiri,

blank
Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8 Cidokom Bogor

Penyuluhan Kesehatan Dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah

Cidokom Pos – Tepat Senin (27/07). Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8 Cidokom mengadakan Penyuluhan Kesehatan Dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bersama alumni Darunnajah angkatan 36