Porseka atau pekan olah raga, seni, dan pramuka menjadi ajang pembinaan bakat santri di pesantren Darunnajah Cipining. Kegiatan Porseka ini dilaksanakan pada setiap awal tahun pembelajaran sejak berdirinya pesantren beberapa tahun silam. Sebagai mome
ntum tahunan, acara pembukaan Porseka selalu dibarengkan dengan upacara apel tahunan yang diikuti oleh seluruh santri dari tingkat PAUD, TK/RA, MI/SD, SMP, MTs, hingga jenjang MA dan SMK.
Tahun 2012 menjadi tahun ke-25 diselenggarakannya Porseka. Pembukaan Porseka 25 dilaksanakan di lapangan upacara kampus 2, Ahad, 16 September 2012. Ketua Koordinator pramuka, Haq Qolbin Fathona bertugas sebagai pemimpin upacara dengan pimpinan pesantren, KH Jamhari Abdul Jalal selaku pembina upacara.
Kesuksesan upacara pembukaan Porseka 25 salah satunya didukung oleh para petugas yang mengisi acara seperti pasukan pengibar bendera Porseka (Paskibra), kelompok paduan suara, pasukan Drum band, pasukan khusus pramuka (pasus), pasukan inti seni bela diri Darunnajah Cipining (paskin SBDC), dan kelompok persatuan senam Darunnajah (Persada). Berikut adalah ulasan khusus satu persatu:
Pasukan Drum Band
Sebagai pasukan terdepan dan pembuka jalan, pasukan ini memiliki daya tarik yang cukup valid. Tidak saja permainan musik mereka yang memang bersuara menyentak-nyentak, perpaduan dan kekompakan para santriwari yang gemar ‘pukul memukul’ ini tampak apik dan proporsional.
Pasukan yang beranggotakan kurang lebih 52 personil ini mengaku giat berlatih guna tampil secara eksklusif di pembukaan Porseka 25. Adapun pasukan drum band dikawal oleh 6 penanggung jawab dari koordinator pramuka bagian Ankusani (Andalan koordinator bagian kesenian) dengan komposisi 3 orang bertindak sebagai mayoret, yaitu Martina Fandasari, Laras Sintya, dan Fisty Yusriana. Ketiga mayoret ini bertugas untuk mengatur dan merapikan barisan dan formasi pasukan. Sedangkan Siti Maria Ulfa yang menjadi gitapati bertanggung jawab pada pergantian-pergantian lagu yang dibawakan. Sementara itu, sebagai pemimpin calergat, yaitu pengiring tarian drum band, adalah Ayu Febrianti dan Nuni Chaerini. Pasukan drum band sendiri terdiri dari 1 triple, 2 belma, 2 bass, 2 simble, 20 pianika, 16 drum, dan 9 penari calergat.
Dalam penampilannya di arena upacara, pasukan drum band membentuk formasi XXV yang menunjukkan apresiasi mereka dalam Porseka 25 ini. Formasi kedua mereka membentuk tanda SMILE. Dalam pembuatan kedua formasi tersebut mereka mengiringinya dengan lagu sik asik dari Ayu Tingting, dilanjutkan dengan Mars Darunnajah, Lupa lupa Ingat dari Kuburan, dan ditutup dengan Bunga Jempa asal daerah Aceh.
Usut punya usut, pasukan drum band punya resep tersendiri dalam mensukseskan penampilannya ini. Mereka mengatakan bahwa dalam setiap penampilannya mereka jadikan penampilan itulah penampilannya yang terakhir. Efeknya sungguh terbukti, seluruh pasukan tampil maksimal.
Mereka juga terbuka soal pakaian seragam kebanggaannya. Warna kostum sengaja dipilih biru muda yang dipadukan dengan merah muda. Katanya, kedua warna tersebut terlihat lembut dan kalem. Untuk kerudung, mereka menambahkannya dengan ikatan kepala biar variatif sedikit. Di pihak mayoret dan gitapati, kostum dipilih warna merah muda bersinergi dengan coklat yang diakuinya sebagai warna anggun. Alhasil, penampilan mereka relatif berhasil dalam mencuri perhatian peserta dan tamu undangan pembukaan Porseka 25.
Paskibra
Pasukan pengibar bendera atau paskibra adalah pasukan inti dalam pelaksanaan upacara pembukaan. Mereka berjumlah 25 orang, mengenakan pakaian setelan PDH berwarna biru muda untuk kemeja yang berlengan pendek dan berdasi menambah rasa ‘PD’ mereka. Dipadu dengan celana panjang berwarna biru lebih tua. Seragam mereka dilengkapi pula dengan sepatu vantopel hitam, kaos tangan berwarna putih serta mengenakan peci hitam. Di sisi muka bagian atas terpampang burung Garuda.
Dengan tampak elegan, keduapuluh pasukan ini masuk dalam devail barisan nomor urut 2 menuju lapangan upacara. Tegar Wahyu Saputra yang bertindak sebagai pemimpin barisan mengatur dengan mengambil alih aba-aba. Saat bertugas mengibarkan bendera, mereka memasuki lapangan upacara dengan posisi bendera Porseka terbentang. Dilanjutkan kemudian dengan membentuk variasi bintang. Dalam kesempatan ini, 3 petugas utama yaitu Ahmad Nida, Abdul Latif dan Miftahul Ulum melipat bendera lalu dibawanya menuju tiang utama untuk dikibarkan bersanding dengan bendera merah putih.
Sesaat kemudian, bendera Porseka secara pelan dan pasti menuju puncak tiang yang kokoh tegak berdiri. Seiring dengan kondisi khidmat para peserta upacara, benrdera pun sukses berkibar di tengah-tengah lapangan upacara. Hal ini menjadi simbol bahwa Porseka ke-25 telah siap dimulai.
Di balik kesuksesan pengibaran bendera porseka, terdapat 2 pelatih yang tiada kenal lelah menggojlok paskibra selama 2 pekan. Keduanya adalah alumni Darunnajah Cipining bernama Akbar Mufid dan Muhammad Hisyam. Di tangan kedua pelatih ini, pasukan mendapat latihan super ketat setelah dinyatakan lolos seleksi.
Pimpinan pasukan, Tegar Wahyu mengatakan bahwa pasukan paskibra adalah santri kelas XI MA. Pada Porseka 25 ini, mereka bertekad memberikan dan menunjukkan yang terbaik dari kompetensi anak-anak kelas XI. Maka sebagai konskuensinya, mereka bersedia dengan tampil beda dari pasukan paskibra pada tahun sebelum-sebelumnya. Hal yang paling tampak adalah seragam mereka yang tidak lagi putih-putih sebagaimana biasanya. Biar tampak beda, katanya.
Pasukan yang mengaku sangat terkesan dan merasa bangga karena bisa jadi itu menjadi satu-satunya event mereka sebagai pasukan paskibra tersebut membagi resep kekompakan mereka. Saling menghargai dan mengevaluasi diri, begitulah mereka mengatakan. Kekompakan adalah pangkal kesuksesan. Hal tersebut sangat tertancap di dada mereka, karena mereka menyadari saat bertugas mereka akan menjadi pusat perhatian seluruh mata peserta upacara.
Soal grogi, mereka punya resepnya. Karena rasa itu telah lebur dengan motto yang berkobar membakar semangat mereka. ‘Jangan Takut Salah, Jangan Takut Kalah, Jangan Takut Jatuh, Jangan Takut Mati, Takut Mati Jangan Hidup, Takut Hidup Mati sekalian’.
Kelompok Paduan Suara
Tim yang bersuarakan emas ini beranggotakan 32 orang dengan 2 dirijen bernama Yunita Andini dan Andini Wulandari. Tugas mereka cukup urgent yaitu mendamaikan suasana dengan lirik-lirik indah penuh makna yang dinyanyikan dengan khidmad sepenuh rasa. Beberapa lagu yang dibawakannya adalah Indonesia Raya, Hymne Oh Pondokku, Mars Darunnajah, Mens Sana In Corpore Sano, Mars Porseka, dan ditutup dengan Derap Porseka.
Anak-anak asuhan Ustadz Nursodik ini mengaku bangga dan sangat berkesan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan lancar. Meski merasa deg-degan sekaligus kepanasan, mereka sanggup tampil dengan performa terbaiknya.
Dalam Porseka 25 ini, mereka mengenakan kostum casual. Namun itu baru setengahnya, setengahnya lagi adalah percaya diri. Begitulah mereka mengatakan. Pakaian serba putih dipermanis dengan rompi berwarna hitam. Kemudian jilbab yang dibuat berlapis menghiasi kepala dengan ikatan pita biru muda sebagai variasi. Kedua dirijen menggunakan kostum berbeda yaitu berupa rompi abu-abu dengan pakaian dasar ungu untuk Yunita Andini dan pakaian biru muda berompi warna hitam untuk Andini Wulandari.
Pasukan SBDC
Pasukan ini tampak berbeda. Dari namanya saja, telah terlihat kalau spesialisasi mereka adalah soal ‘jurus menjurus’ dan ‘tonjok-menonjok’. SBDC adalah akronim dari seni beladiri Darunnajah Cipining yang dibimbing langsung oleh Ustadz Anwar Maulana. Jadi, personil dari pasukan ini adalah para jagoan silat alias pendekar. Lihat saja dari pakaiannya, dengan berseragam hitam-hitam atau serba merah, mereka cukup disegani. Ditambah dengan ikat kepala yang bermotif batik, penampilan mereka laksana Si Pitung lahir kembali. Apalagi kalau bicara sabuk, akan lebih jelas tingkatan mereka.
Dalam perhelatan Porseka 25 ini, SBDC menurunkan 32 atletnya. Sebanyak 21 atlet secara serempak mempraktikkan jurus Wiraloka yang kerap kali jurus ini dipertandingkan hingga tingkat nasional. Menyusul kemudian para pelatih dari para pengurus SBDC yang memamerkan kemampuan dan kelihaiannya bermanuver dengan jurus toyanya. Masih penampilan jurus, kini giliran Tunggal baku yang diperlihatkan oleh Indra Firmansyah cukup memikat. Tidak kalah seru, demo fighting yang diperagakan Rizky Hadi vs Rifaldi sangat memukau peserta upacara.
Kejutan oleh anak-anak SBDC selanjutnya semakin klimaks. Konsentrasi dapat memunculkan kekuatan. Keberanian adalah pemecah segala masalah. Keyakinan adalah sumber kekuatan serta keberanian. Bukankah mukmin yang kuat lebih disukai daripada mukmin yang lemah? Begitulah aksi dari filosofi yang didemokan atlet-atlet kecil ini. Dengan penuh keyakinan setiap mereka beraksi memecahkan genting menggunakan kepalan tangan. Kemudian disempurnakan dengan pemukulan toya ke tubuh para pesilat sehingga didapati toya-toya tersebut terpatah-patah bercerai berai. Ini menunjukkan penampilan mereka berhasil. Berhasil membuat mata terbelalak yang dilanjutkan dengan bergumam ‘wow’.
Ketua paskin (pasukan inti) SBDC, Iqbal Maulana menjelaskan, kekuatan para atlet adalah iman. ‘Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah’. Lebih lanjut Iqbal memaparkan bahwa akhlak disini dapat diartikan membawa diri. pesilat haruslah pandai dalam membawa dan menempatkan diri. Rusaknya akhlak para pesilat yang paling dekat adalah kesombongan. Padahal sejatinya, silat bukanlah untuk mencari musuh atau lawan, namun berguna untuk menjaga diri. termasuk menjaga diri adalah menjaga agar tetap sehat. Maka, silat di pesantren bentuknya adalah olah raga.
Soal penampilan, Iqbal menyatakan atraksi SBDC di Porseka 25 sesuai target. Alhamdulillah, mendapat respon sangat baik dari peserta dan undangan upacara. Melalui Warta Darunnajah Cipining, Iqbal memohon doa agar prestasi SBDC semakin baik. Prestasi terakhir yang diraih oleh SBDC adalah 3 emas yang diperoleh pada moment POPKAB Kabupaten Bogor 2012. Dalam waktu dekat, 2 pesilat SBDC akan mengikuti turnamen di PORKAB Kabupaten pada bulan Oktober nanti. Mohon doa semoga dapat meraih emas.
Persada
Kelompok ini baru saja lahir, yaitu tahun 2011 kemarin. Kelompok yang digawangi langsung oleh Ustadz Ichsan ini langsung mendapat respon cukup atraktif dari para santri. Lihat saja mottonya yang berbunyi ‘Berani salto tak takut keseleo, takut keseleo jangan salto, takut salto keseleo saja’ (^-^). Apa pendapat Anda?
Keberanian, kelincahan, kelenturan, dan kekuatan menjadi hal yang tidak boleh ditawar dalam hal ini. Setelah mengadakan fit and proper test, kelompok ini menerima 38 anggota dari santri kelas VIII hingga XII. Dalam beberapa kesempatan, kelompok ini telah berhasil meyajikan atraksi yang berbeda. Termasuk dalam moment Porseka 25. Mereka berkesempatan mendemokan berbagai variasi demo dari rod, kayang, hingga sleep up.
Dapat tampil dan meramaikan pembukaan Porseka 25, para pesenam mengaku senang. Mereka senang karena memberi penampilan berbeda yang pada tahun-tahun sebelumnya belum ada. Ini menjadi penampilan yang jarang, begitu mereka berpendapat. “Kalau Anda ketagihan, tunggu kami di kesempatan berikutnya!” pesan mereka.
Menurut penjelasan Ustadz Ikhsan, tujuan diadakannya Persada untuk membentuk santri-santri yang sehat jasmani dan rohani. Selain itu, dalam kelompok ini dikenalkan juga berbagai macam gerakan senam lantai, kelenturan, dan macam-macam salto. Salto? Siapa takut?
Passus Pramuka
Pramuka Darunnajah Cipining yang bernomor gudep 03.001-03.002 semakin eksis. Pada moment besar sekelas apel tahunan pesantren yang berbarengan dengan pembukaan Porseka 25, mereka turut berpartisipasi memamerkan kreativitas dan berbagai prestasi.
Di moment porseka kali ini, koordinator pramuka menurunkan sekurang-kurangnya 40 personilnya yang terbagi dalam 4 regu. Keempat regu tersebut memiliki keistimewaan masing-masing. Dalam penampilannya, mereka mengenakan pakaian andalan. Regu Macan Kampus 1 (asrama putra) sangat percaya diri dengan pakaian seragam pramuka lengkap serta rompi berwarna hitam. Sebagian memakai topi namun sangat dominan menggunakan slayer yang diikatkan di kepala. Mereka juga kelihatan ‘kece’ dengan kaca mata hitamnya.
Regu Macan Kampus 2 (nonasrama putra) cukup berseragam pramuka untuk celana sedangkan atasannya memakai kaos hijau berlengan panjang. Slayer yang juga diikatkan ke kepala mereka menunjukkan kalau mereka tidak kalah ‘beken’ dengan Macan Kampus asrama. Sementara itu, regu Mawar Kampus (asrama putri) lebih berani lagi dalam berpenampilan. Dengan memakai topi koboi dan bersayap ala batman berwarana hitam dan merah yang melengkapi seragam pramuka, mereka ingin tampak berbeda. Ini juga memiliki maksud mereka bukanlah pramuka biasa. Penampilan kalem ditunjukkan oleh regu Seroja (nonasrama putri). Pakaian pramuka yang dilengkapi dengan topi membuat mereka tak kalah semangat, sedikit variasi mereka kenakan kalung dari slayer.
Keempat pasus tersebut menampilkan aneka ragam kecakapan dan permainan pramuka. Semuanya dikolaborasi dengan yel yel penyemangat dan step dance. Berbagai variasi LKBB tak luput mereka persembahkan yang hal ini menambah riuh tepuk tangan peserta upacara.
Ka. Koordinator pramuka putri, Dena Putri, mewakili teman-temannya dalam memberikan kesan terhadap penampilannya mengaku sangat termotivasi untuk menampilkan sesuatu yang berbeda dengan penuh kesemangatan, kekompakan dan percaya diri. “Penampilan di Porseka 25 lebih asik, seru, keren, dan berbeda dari tahun sebelumnya”. (Wardan/Billah)