Pondok tidak peranah tidur (dn9)

Ibu Tak akan tidur – Ibu Tak akan tidur

Kuk…. Kruyuk… Kuk kruyuk, bukan, ini bukan suara kokok ayam jago melainkan suara perut kami.
“Apakah kalian lapar ?” tanya orang penuh nanar
“Oh tentu tidak wahai saudara” jawab kami dalam senyum
“Lalu apakah itu ? ”
” ini suara perut para syuhada, ini suara perut orang pintar, apakah kau tahu siapa itu orang pintar ? ”
“Mmm pasti yang memiliki akademis baik”
“Oh tidak tentu, orang yang selalu merasa lapar ialah orang pintar”
Kulihatnya bungkam semakin bingung
“Bukan, bukan yang kau bayangkan apa maksudku, lebih tepat ialah yang berpuasa” jelasku seraya berlalu dari nya yang ku tinggal bingung.

Lihatlah, raut wajah ibuku terlihat muram nan sedih apa gerangan wahai ibu … Terus ku langkahkan kaki ini, ku sisir kaki mu ibu dari madinah, makkah menuju pusara mu ialah masjid nan elok rupanya meski terkadang terpercik air menghampirimu dikala turun hujan, rasa penasaranlah mendorong langkahku terus telusuri. Ku intai tangan kanan palestine ku intip tangan kiri Abdurrahman hingga badan Andalusia, tak lupa pula hinggap di kepala ibu ialah persinggahan Bapak Kyai. Ku temukan jawaban, inilah sebabnya hingga terlihat seorang melewati samping ku ialah sang pendobrak nan menggerakan santri yang masih tertidur pulas berharap mimpi nan indah dirasa, tanpa sadari sesosok tokoh tak asing masuk ke dalam mimpi membangunkan tidurnya seraya berbisik ” This is not a dream ….. Weak up sister take the Wudhu and go to the mosque”
Bukan kepalang terpaksa mimpi dibatalkan jantung berdegug kencang dan langsung bangkit, namun sebagian masih menikmati mimpi hingga bel ke dua berbunyi ” I count until ten
One…. Two…. And the last …. ” buyarlah semua tergesa menuju pusara ibu.

Ku tengok seperempat senyum ibu mulai merekah hingga azan menggema. Terus syahdu terdengar kitabullah terlafadz oleh mereka yang mahir. Kusampingkan telinga, sebagian mereka terbata-bata melafadzkan “Qa…” Q.. Q… Qa” “Qa” sembari memegang lehernya, pantang menyerah dengan kitab Iqra nya.
Hingga matahari terus menjulang dilidah Pamulang ini. Ku tengok setengah senyum ibu memekar lagi ah alangkah indahnya.

Kini datang lagi suara serupa dalam mimpi bukan dia tetapi temannya yang bersua, “hayya ukhty tasyaro’na idzhabna ila almadrasati” bukan main inilah panggilan alam selanjutnya, siapa hendak melanjutkan mimpi ini lah yang kan menghampiri mu dalam mimpi ” man yataakhor fa’alaiha ‘iqoob” semakin melengking terdengar. Sang pemimpi pun berhambur menuju kelas masing-masing.

Kini matahari tepat diatas mustika kami sampai tak terlihat sebuah bayangan .
Meliankan bayangan Qismul amni yang sergap membimbing kami kepada pusara ibu. Tak kuasa kami ke dapur pun di tutup . Bukan, bukan tidak ada makanan, melainkan sunnah kami pada hari senin. Ku tengok ibu tiga per empat senyum sudah merekah.

Kini matahari terlihat mulai condong. Secondong pohon petai tertiup lebatnya hujan berangin kemarin sore, terlihat disampingnya qism sihah wa nadhofah tengah mengawasi santri piket. Tiada berkeluh meski sesekali meringis dalam peluh.

Kruk… Kruyuk. Kruk… Kruyuk
“Hai sudah kah kau bercerita”
“Kenapa?”
“Adzan maghrib kian dekat, bersiaplah Ifthar”
Ku mengangguk tanda setuju
Terlihat senyum ibu hampir sempurna, hampir ….

Kini matahari telah terbenam, siang berganti malam tiba saatnya pemimpi menikmati mimpi yang belum terselesaikan tadi pagi .
Dalam mimpinya datanglah sesosok ibu seraya berkata ” Ibu tak akan pernh tidur nak “.
المعهد لا ينام ابدا