Setiap ba’da dzuhur selama bulan Ramadhan, Pimpinan Pesantren Darunnajah Cipining yang akrab dipanggil dengan Pak Kyai, memberikan tausiah Ramadhan kepada seluruh Santri yang bertempat di masjid jamik Darunnajah Cipining. Kegiatan ini menjadi rutinitas sekaligus prioritas mengingat betapa pentingnya pelajaran-pelajaran moral dan tuntunan ibadah dalam kaitannya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt yang merupakan tujuan dari pada ibadah puasa itu sendiri.
Materi yang dipilih Pak Kyai adalah mengenai Shalat-shalat sunnah dan keutamaannya. Mulai dari Shalat sunnah mutlak, hingga shalat sunnah muqayyad. Shalat sunnah muqayyad inipun sangat luas ruang lingkupnya, shalat ini di klasifikasikan menjadi dua macam; yakni Muakkad dan Ghairu Muakkad. Atau istilah lainnya yaitu Ab’ad dan Ai’ad. Pak kyai pun menyertakan hadits-hadits yang shahih sebagai landasan dasar hukum. Terutama hadist yang menyebutkan keutamaan dan fadhilah jika melaksanakannya.

Namun pada pertemuan tanggal 25 Agustus, pertemuan ke-4 Ramadhan ini ada keistimewaan tersendiri. Yaitu Pak Kyai menyenandungkan Shalawat yang diikuti oleh seluruh Santri putra dan putri. Shalawat yang dibaca adalah Shalawat Nariyah. Shalawat yang pada umumnya sudah dikenal oleh hampir seluruh umat islam. Yang mengejutkan, walaupun para Santri sudah hafal bacaan Shalawat Nariyah ini di luar kepala, ternyata tidak mudah dalam mengikuti Shalawat yang di contohkan oleh pak Kyai ini. Karena memang bacaan yang biasa dibaca oleh Santri dan masyarakat umum terdapat beberapa kesalahan tajwid. Itulah alasannya mengapa Pak Kyai mengajak para Santri untuk bershalawat bersama.
Secara bergiliran, Pak Kyai memberikan kesempatan kepada masing-masing kelas. Mulai dari Santri SMP, Santri MTs, Santri SMK, Santri MA, seluruh Santri Putra, seluruh Santri putri dan kemudain seluruh Santri bersama-sama membaca dan menyenandungkan Shalawat bersama-sama. Yang pada akhirnya mereka dapat membaca Shalawat Nariyah dengan indah dan bacaan yang benar.
Disela-sela tausiah Pak Kyai, beliau mengungkapkan kehawatirannya terhadap kesalahan bacaan ini. Sangat disayangkan, karena kesalahan bacaan seperti ini tidak mendapatkan perhatian dari ulama lokal setempat. Pak Kyai juga merasa malu jika ada Santri Darunnajah yang masih salah dalam membaca Shalawat ini. Apalagi jika yang mendengar adalah orang yang faham dengan bahasa arab, tentuakan akan sangat lucu jadinya.
Siapa duga, ternyata dalam tausiah yang sederhana ini Pak Kyai menyampaikan pesan yang sangat Agung, Pelajaran yang sangat mahal, pelajaran mengenai bagaimana cara kita untuk mencintai Nabi Muhammad saw. Dan salah satu cara kita mencintai nabi Muhammad saw adalah dengan membaca sholawat. Shalawat adalah permohonan kita kepada Allah swt untuk kesejahteraan Nabi Muhammad saw. Shalawat bukan semata doa, tetapi itu adalah suatu etika kita sebagai ummat yang baik kepada Nabinya. Shalawat sangat dianjurkan dalam Islam, karena sesungguhnya Allah dan Para Malaikat-Nya juga bershalawat kepada Nabi Muhammad saw.
Membaca shalawat sangat besar pahalanya. Menurut sebuah keterangan yang bersumber dari hadits nabi saw, jika kita memohon kesejahteraan untuk nabi Muhammad saw dengan bershalawat satu kali, maka Allah akan membalas kita dengan kebaikan 10 kali. Itu berarti jika kita membaca Shalawat 100 kali, maka Allah akan memberikan kita kebaikan sebanyak 1000 kali. Wallahu A’lam.
Di akhir tausyiah, Pak Kyai berpesan kepada seluruh Santri Darunnajah agar dapat memberikan contoh yang baik dimayarakat, memberikan teladan yang positif dalam segala hal. Sehingga Santri-santri Darunnajah menjadi anak yang shalehah, berakhlak mulia, menjadi kebanggaan orang tua, dan berguna bagi bangsa dan Agama. [kang DR].




