Kunjungan ini bertepatan dengan perayaan Dies Natalis (Milad) ke-54 Pesantren Darunnajah Islamiyah, pada 12 Maret 2015. (Catatan: Teks kedua pada naskah aslinya merupakan variasi penyebutan nama “Sa’d bin Hafizh”, namun yang benar secara resmi adalah Prof. Dr. Sa’d bin Nashir Al-Syatsri).
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan salawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan para nabi dan rasul. Amma ba’du:
Pertama, saya memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kalian. Kami ingin kalian menjadi para pemimpin yang akhlaknya diteladani. Kami ingin kalian menjadi cahaya petunjuk yang dengannya Allah memberi manfaat kepada seluruh umat, bukan hanya di Indonesia. Kalian, wahai para santri/pelajar sekalian, dapat menjadi pemimpin yang menuntun umat menuju kebaikan dan kebajikan. Kalian bisa menjadi salah satu sebab stabilnya keadaan negara, meningkatnya ekonomi dan berkembangnya harta, serta menjadi sebab terwujudnya kerja sama, kasih sayang, dan keharmonisan di antara manusia.
Status kalian yang hanya seorang diri tidak menghalangi kalian untuk menjadi pemimpin. Bukankah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dulunya seorang diri? Bukankah para imam Islam generasi awal semuanya berawal dari satu orang? Bukankah para pemimpin dunia dulunya juga berawal dari satu orang? Oleh karena itu, fakta bahwa kalian hanya seorang diri tidak berarti kalian tidak mampu menjadi pemimpin dan panutan bagi umat.
Sebagian dari kalian mungkin berkata, “Hartaku sedikit, bagaimana aku bisa mengubah keadaan umat dengan harta yang sedikit ini?” Maka kami jawab: Begitu pula dengan para imam terdahulu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak memiliki harta ketika beliau memulai dakwah kepada Allah Azza wa Jalla. Demikian pula para imam Islam yang memiliki pengaruh besar di tengah umat; mereka tidak memiliki harta yang banyak. Namun, ketika mereka mendedikasikan diri karena Allah, Allah menganugerahkan kepada mereka kejayaan dunia—sehingga dunia dan harta pun datang tunduk kepada mereka.
Sebagian dari kalian mungkin berkata, “Aku adalah seorang anak yatim, bagaimana mungkin seorang yatim bisa memimpin umat?” Bukankah Muhammad shallallahu alaihi wasallam juga seorang anak yatim, sebagaimana firman Allah Ta’ala: (Bukankah Dia mendapatinya sebagai seorang yatim, lalu Dia melindunginya) [QS. Ad-Duha: 6]? Bukankah banyak dari para imam generasi awal yang merupakan anak-anak yatim? Imam Ahmad adalah seorang yatim. Oleh karena itu, status sebagai anak yatim tidak akan menghalangi kalian untuk memimpin umat.
Bagaimana cara menjadi pemimpin umat dalam urusan agama, ekonomi, atau sosial mereka? Terdapat lima sifat; jika kalian mengamalkannya, Allah akan memudahkan jalan bagi kalian untuk memimpin umat.
Sifat Pertama: Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: (Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia pun berbuat kebaikan) [QS. An-Nisa: 125]. Jadikanlah diri kalian semata-mata karena Allah, niscaya Allah akan menolong kalian, sebagaimana firman-Nya: (Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian) [QS. Muhammad: 7]. Bukankah Allah adalah Zat yang mengatur alam semesta? Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia cukup berfirman kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah ia. Oleh karena itu, mengapa hati kita tidak bersandar kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya, padahal Dialah pengatur alam semesta? Sekiranya seluruh manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepada kalian dengan sesuatu yang tidak ditetapkan Allah untuk kalian, mereka tidak akan mampu melakukannya. Dan sekiranya mereka berkumpul untuk membahayakan kalian dengan sesuatu yang tidak ditetapkan Allah atas kalian, mereka tidak akan bisa membahayakannya sedikit pun.
Sifat Kedua: Menentukan tujuan yang ingin kalian capai demi mendapatkan ridha Allah. Puncaknya adalah berupaya agar pengikut kalian di hari kiamat berjumlah banyak. Karena jika banyak golongan yang mengikuti kalian di atas kebenaran, pahala dan kedudukan kalian di sisi Allah akan semakin tinggi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” Oleh karena itu, mulailah dari sekarang untuk menentukan tujuan kalian: Di bidang apa kalian ingin memimpin umat? Jangan meremehkan diri sendiri. Jika kalian mulai bersiap-siap sejak hari ini, diri kalian akan siap untuk memimpin umat di jalan atau bidang yang kalian inginkan. Kiai Mahrus Amin selama 50 tahun tidak pernah menyangka pesantren Darunnajah akan sebesar ini. Beliau memulainya dengan kesungguhan, kerja keras, menetapkan tujuan, sehingga Allah memberikan manfaat melalui perantaraannya. Maka dari itu, tetapkanlah tujuan kalian mulai dari sekarang.
Sifat Ketiga: Menjalani kehidupan yang serius guna mencapai tujuan tersebut. Jauhilah membuang-buang waktu! Jika kalian menyia-nyiakan waktu, kalian akan kehilangan kesempatan emas. Oleh karena itu, berkerjalah untuk menggapai tujuan kalian. Jauhilah kesia-siaan dan permainan. Mulailah hidup dengan penuh kesungguhan dari sekarang, bertawakallah kepada Allah, perbanyaklah mempelajari Al-Qur’an yang agung serta Sunnah Nabi. Dengan cara itu, kalian akan memanfaatkan setiap detik dalam hidup kalian untuk hal-hal yang mengarah pada pencapaian tujuan kalian.
Sifat Keempat: Perbanyaklah menjalin kemitraan/kerja sama yang mendukung kalian. Setiap kali kalian menemukan orang yang membantu kalian di atas kebenaran, sambutlah tangannya dan jadilah satu padu dalam mewujudkan tujuan kalian. Allah berfirman: (Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran) [QS. Al-Ma’idah: 2]. Oleh karena itu, siapa pun yang ingin membantu kalian dalam mencapai tujuan luhur ini, bukalah pintu bagi mereka, serta bekerja samalah dengan mereka.
Sifat Kelima: Jangan menoleh kepada hal-hal yang dapat menurunkan semangat kalian. Akan ada orang-orang yang membicarakan kalian, mungkin ada yang menulis celaan dan ejekan terhadap kalian di surat kabar atau media sosial, serta ada pihak yang mencoba menghalangi kalian dari mencapai tujuan. Namun, lihatlah bagaimana kisah para nabi alaihissalam; umat mereka dahulu juga memperolok-olok mereka.
Allah Ta’ala berfirman: (Dan sungguh, beberapa rasul sebelum engkau pun telah diperolok-olokkan, sehingga orang-orang yang mencemoohkan itu dikurung (dihukum) oleh azab yang dahulu selalu mereka perolok-olokkan) [QS. Al-An’am: 10].
Oleh karena itu, jangan pedulikan mereka. Allah berfirman menirukan perkataan Nuh alaihissalam: (Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejek kamu sebagaimana kamu mengejek (kami) [QS. Hud: 38]. Dan Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: (Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)) [QS. Al-Hijr: 95].
Jika kalian bersama Allah, mereka tidak akan mampu mencelakai kalian. Demi Allah, seandainya seluruh dunia bersatu untuk menghentikan langkah seorang pejuang kebenaran, mereka tidak akan pernah sanggup mengalihkannya dari mencapai tujuan dan cita-citanya.
Saya memohon kepada Allah agar menjadikan kalian para imam yang diteladani dalam kebaikan. Saya memohon kepada Allah agar menjadikan kalian pemimpin bagi para pemimpin yang menuntun umat menuju kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat. Saya memohon kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar mengangkat derajat kalian dan meninggikan kedudukan kalian. Saya memohon kepada Allah agar meridhai kalian dengan keridaan yang setelahnya tidak ada kemurkaan selamanya. Saya memohon kepada Allah agar membalas pihak-pihak yang mengelola Pesantren Darunnajah dengan kebaikan di dunia dan akhirat.
Demikianlah yang Allah ketahui. Semoga salawat dan salam yang limpah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka.
