Pindah ke Pesantren di Tengah Jalan — Yang Menentukan Anak Cepat Menyusul atau Tidak

Pindah ke Pesantren di Tengah Jalan — Yang Menentukan Anak Cepat Menyusul atau Tidak

Anak yang bergabung di tengah jenjang memang harus mengejar beberapa hal. Yang jarang diperhitungkan adalah bekal yang sudah dibawanya dari perjalanan sebelumnya.

Apa yang membuat keputusan pindah terasa lebih berat?

Keputusan pindah jarang datang tiba-tiba, meski dari luar sering terlihat begitu. Biasanya ia terkumpul pelan-pelan selama beberapa bulan, dari percakapan yang berulang di meja makan sampai pertimbangan yang ditimbang berkali-kali sebelum akhirnya diucapkan.

Alasannya bermacam-macam dan hampir semuanya masuk akal. Ada keluarga yang harus berpindah kota karena pekerjaan. Ada yang baru merasa mantap setelah melihat sendiri bagaimana anak berkembang dua tahun terakhir. Ada pula yang sejak awal ingin memasukkan anaknya ke pesantren tetapi menunggu sampai anak sendiri siap mengatakan iya.

Yang membedakan keputusan pindah dari keputusan memilih sejak awal hanya satu, yaitu adanya perbandingan. Anak sudah punya teman, sudah tahu ritme sekolahnya, dan sudah membentuk kebiasaan. Semua itu harus disusun ulang.

Jarak itu bisa ditutup. Yang menentukan adalah apakah tempat barunya menyediakan jalannya.

Apakah pesantren memang menerima anak yang pindah?

Pesantren yang menerima santri pindahan lebih banyak daripada yang diperkirakan, termasuk Darunnajah 2 Cipining yang menerima anak dari sekolah negeri maupun madrasah. Tersedia pula Kelas Intensif selama satu tahun untuk anak yang baru bergabung di jenjang atas, dan program non-asrama pada jenjang MTs, SMP, MA, serta SMK bagi keluarga yang ingin memulai dengan lebih perlahan.

Apa saja yang sebenarnya harus dikejar anak?

Jarak yang harus ditempuh anak pindahan biasanya lebih sempit daripada yang dibayangkan orang tua, dan letaknya tidak selalu pada pelajaran yang tertera di rapor.

Bahasa Arab hampir selalu menjadi bagian yang paling terasa. Anak yang datang dari sekolah umum belum mengenal nahwu dan sharaf, sementara teman seangkatannya sudah dua atau tiga tahun mempelajarinya. Inilah alasan Kelas Intensif ada. Satu tahun penuh dipakai untuk membangun dasar bahasa Arab dan pengetahuan keislaman sampai anak dapat mengikuti kelas reguler bersama yang lain.

Bagian kedua berkaitan dengan cara hidup, bukan dengan pelajaran. Mencuci pakaian sendiri, mengatur barang di lemari yang tidak besar, mengikuti jadwal yang tidak bisa ditawar, tidur di kamar bersama banyak orang. Anak yang selama ini hidupnya diatur dari rumah membutuhkan beberapa pekan untuk terbiasa, dan biasanya bagian inilah yang membuat bulan pertama terasa berat.

Yang ketiga berkaitan dengan pergaulan. Masuk ke angkatan yang sudah saling mengenal sejak lama memang tidak mudah bagi anak mana pun. Kamar asrama biasanya membantu banyak di sini, karena kedekatan tumbuh lebih cepat di tempat tidur bertingkat daripada di ruang kelas.

Pelajaran umumnya sendiri jarang menjadi masalah besar, karena Kurikulum Nasional yang dipakai sama dengan yang sudah dipelajari anak di sekolah sebelumnya. Matematika, IPA, IPS, dan bahasa Inggris berjalan dengan cakupan yang serupa.

Bahasa Inggris bahkan sering menjadi pijakan yang menguntungkan. Di sini Arab dan Inggris dipakai bergiliran tiap pekan untuk percakapan sehari-hari, sehingga anak yang sudah terbiasa berbahasa Inggris dari sekolah sebelumnya memiliki satu pekan dari dua yang terasa lebih ringan. Modal itu biasanya menumbuhkan keberanian yang kemudian terbawa ke pekan berbahasa Arab.

Apa yang menentukan cepat atau lambatnya menyusul?

Anak yang menyusul dengan cepat biasanya memiliki dua hal, dan keduanya bisa disiapkan sejak sebelum berangkat.

Yang pertama adalah kejelasan alasan. Anak yang tahu persis kenapa ia pindah, dan ikut dilibatkan dalam pembicaraannya, jauh lebih tahan menghadapi bulan-bulan awal. Anak yang merasa dipindahkan tanpa penjelasan cenderung menghabiskan energinya untuk mempertanyakan keputusan itu, bukan untuk menyesuaikan diri.

Yang kedua adalah sikap orang tua pada masa penyesuaian. Anak pindahan hampir selalu melewati satu fase ingin pulang. Ini normal dan hampir semua santri baru mengalaminya, tidak peduli kapan ia bergabung. Keluarga yang sudah menyepakati sikapnya lebih dulu, termasuk bagaimana menanggapi telepon pada malam-malam yang berat, biasanya melewati fase itu lebih cepat.

Ada satu hal lagi yang sering terlewat, yaitu memberi anak waktu sebelum menilai keputusan. Dua bulan pertama hampir tidak pernah mewakili keadaan yang sebenarnya, karena pada masa itu anak masih menghabiskan sebagian besar tenaganya untuk hal-hal dasar. Penilaian yang lebih jujur biasanya baru bisa dibuat setelah satu semester berjalan.

Kabar baiknya, anak pindahan datang membawa bekal yang tidak dimiliki anak yang mondok sejak kecil. Usianya lebih matang, kemampuan mengatur dirinya lebih terbentuk, dan pemahamannya tentang alasan ia berada di sana lebih utuh. Tidak sedikit anak pindahan yang justru mengejar lebih cepat daripada perkiraan siapa pun, karena ia tahu sedang mengejar sesuatu.

Apa yang perlu disiapkan sebelum benar-benar pindah?

Persiapan yang paling menentukan justru terjadi jauh sebelum berkas apa pun diisi, dan sebagian besar tidak berhubungan dengan administrasi.

Mengajak anak melihat langsung biasanya mengubah banyak hal. Anak yang sudah berjalan sendiri di antara asrama, kelas, dan lapangan datang dengan gambaran yang nyata, bukan dengan bayangan yang dibentuk dari cerita orang lain. Darunnajah 2 Cipining membuka pintunya setiap hari bagi keluarga yang ingin datang melihat, tanpa janji temu lebih dulu, dan menyediakan tempat menginap bagi yang datang dari jauh.

Menanyakan penempatan kelas sejak awal juga menghemat banyak kebingungan. Setiap anak pindahan punya titik berangkat yang berbeda, sehingga jalurnya perlu dibicarakan satu per satu, termasuk apakah sebaiknya melalui Kelas Intensif lebih dulu atau langsung masuk kelas reguler.

Berkas dari sekolah sebelumnya sebaiknya diurus lebih awal karena prosesnya melibatkan pihak lain yang punya jadwalnya sendiri. Mengurusnya jauh hari membuat kepindahan tidak berkejaran dengan tahun ajaran.

Di luar semua itu, satu hal yang sering menenangkan orang tua adalah mengetahui bahwa anak tidak akan sendirian melewatinya. Wali kamar berdiam di lingkungan pesantren dan menemani keseharian santri, dan biasanya merekalah yang paling dulu tahu ketika ada anak baru yang sedang kesulitan. Klinik tersedia kapan saja, dan tidak ada pembatasan tanggal untuk menengok, cukup mengikuti jam kunjung yang berlaku.

Bagaimana mengetahui jalur yang paling tepat untuk anak sendiri?

Anak pindahan tidak bisa disamaratakan. Anak kelas tujuh yang pindah pada semester kedua menghadapi keadaan yang berbeda dari anak yang baru bergabung setelah lulus SMP, dan keduanya membutuhkan jalur yang berbeda pula.

Karena itu jalur setiap anak pindahan lebih baik dibicarakan satu per satu, mencakup jenjang, penempatan kelas, dan berkas yang perlu disiapkan. Percakapan seperti itu bisa dimulai lewat WhatsApp di wa.me/62812111180. Datang langsung sambil membawa anak biasanya membuat sisa keraguan lebih cepat menemukan jawabannya.