Ada anggapan bahwa pesantren hanya fokus pada pendidikan agama dan tidak terlalu peduli dengan momen-momen kebangsaan. Kenyataannya jauh dari itu. Pesantren modern merayakan hari besar nasional dan hari besar Islam dengan cara yang cukup unik — memadukan semangat kebangsaan dan nilai spiritual dalam satu perayaan. Meskipun tentu pelaksanaannya di setiap pesantren berbeda-beda.
Bagaimana pesantren merayakan hari kemerdekaan?
Tujuh belas Agustus di pesantren biasanya bukan hari biasa. Ada upacara bendera yang cukup khidmat — dengan santri yang bertugas sebagai petugas upacara lengkap dengan latihan berminggu-minggu sebelumnya. Bagi banyak santri, menjadi petugas upacara kemerdekaan adalah kehormatan yang diingat bertahun-tahun.
Setelah upacara, biasanya ada rangkaian lomba dan kegiatan yang cukup meriah. Lomba makan kerupuk, balap karung, dan permainan tradisional lainnya yang mungkin terdengar sederhana — tapi di lingkungan pesantren, di mana hiburan tidak datang dari layar, kegiatan-kegiatan ini terasa benar-benar menyenangkan.
Ada juga pesantren yang mengadakan lomba pidato tiga bahasa bertema kebangsaan, pentas seni dengan tema nasionalisme, atau diskusi tentang peran umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan. Ini menunjukkan bahwa pesantren tidak memisahkan identitas keislaman dari identitas kebangsaan — keduanya berjalan bersama.
Apakah semua pesantren merayakan dengan meriah? Bervariasi. Ada yang sangat serius menyelenggarakan peringatan, ada yang lebih sederhana. Tapi kesadaran bahwa pesantren adalah bagian dari bangsa Indonesia — itu cukup kuat tertanam di kebanyakan pesantren modern.
Bagaimana dengan peringatan hari besar Islam?
Hari besar Islam tentu dirayakan dengan lebih mendalam di pesantren. Maulid Nabi biasanya ditandai dengan pembacaan shalawat bersama, kajian tentang kehidupan Rasulullah, dan kadang pentas seni bertema keislaman. Suasananya khidmat tapi tetap hangat.
Isra Miraj, Nuzulul Quran, dan peringatan lainnya juga punya tempat dalam kalender pesantren. Biasanya ada kajian khusus, ceramah dari ustadz, dan kegiatan-kegiatan yang membantu santri memahami makna di balik setiap peringatan — bukan sekadar tahu tanggalnya.
Idul Fitri dan Idul Adha tentu momen yang paling istimewa. Bagi santri yang tidak pulang — biasanya karena rumahnya terlalu jauh — pesantren berusaha menciptakan suasana hari raya yang sehangat mungkin. Sholat ied berjamaah, makan bersama yang lebih istimewa dari biasanya, dan kebersamaan yang kadang justru membuat yang tidak pulang merasa punya keluarga kedua.
Apakah suasana hari raya di pesantren bisa menggantikan hari raya di rumah? Tentu tidak sepenuhnya. Ada kerinduan yang tetap terasa. Tapi banyak santri yang menyebutkan bahwa hari raya di pesantren punya kehangatan tersendiri yang berbeda — bukan lebih baik atau lebih buruk, hanya berbeda.
Apa yang membuat perayaan di pesantren terasa berbeda?
Skala kolektifnya. Ketika ratusan orang merayakan sesuatu bersama — sholat ied bersama, makan bersama, bernyanyi lagu nasional bersama — ada energi yang tidak bisa didapat kalau merayakan sendiri di rumah. Ini salah satu pengalaman yang sering disebut alumni sebagai kenangan yang paling berkesan.
Perayaan di pesantren juga biasanya lebih bermakna karena ada konteks pendidikan di baliknya. Bukan sekadar libur atau pesta. Ada kajian, ada refleksi, ada upaya untuk memahami esensi dari setiap peringatan. Apakah semua santri langsung menghayati ini? Mungkin tidak semua. Tapi paparan terhadap makna yang lebih dalam ini setidaknya memberikan fondasi pemahaman yang bisa berkembang seiring waktu.
Selain hari besar resmi, pesantren juga punya tradisi perayaan internal. Akhirussanah — acara akhir tahun ajaran — biasanya menjadi puncak dari semua kegiatan. Ada pentas seni, perlombaan, dan acara perpisahan untuk santri kelas akhir. Momen ini biasanya sangat emosional dan menjadi salah satu kenangan terkuat dari masa pesantren.
Apakah ada tantangannya?
Ada. Mengorganisir perayaan untuk ratusan orang bukan hal yang sederhana. Logistik makanan, pengaturan kegiatan, dan memastikan semua santri terlibat — ini membutuhkan koordinasi yang besar. Kadang ada yang kurang sempurna. Kadang ada santri yang merasa kurang terlibat. Pesantren berusaha membuat setiap perayaan bermakna untuk semua, tapi dengan ratusan santri dari berbagai latar belakang, ini tantangan yang nyata.
Yang bisa dikatakan: upaya untuk merayakan setiap momen penting — baik nasional maupun keagamaan — dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari identitas pesantren. Bukan sekadar formalitas, tapi bagian dari proses pendidikan yang utuh.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat, merayakan hari besar nasional dan hari besar Islam sebagai bagian dari kalender pendidikan pesantren. Dari upacara kemerdekaan sampai peringatan Maulid Nabi, dari Ramadhan sampai akhirussanah — semuanya diselenggarakan dengan semangat kebersamaan. Belum sempurna dalam segala aspek, tapi upaya untuk menjadikan setiap perayaan bermakna terus dilakukan.
Kalau ingin merasakan suasana pesantren di momen-momen tertentu, bisa mengatur kunjungan melalui WhatsApp 0812111180.
Ada momen-momen yang hanya bisa dipahami kalau dilihat langsung. Dan perayaan di pesantren adalah salah satunya.