Bagaimana Pesantren Mengajarkan Anak Hidup Tanpa Gadget

Di era di mana anak-anak menghabiskan rata-rata beberapa jam sehari di depan layar, pesantren menawarkan sesuatu yang sangat berbeda: kehidupan tanpa gadget. Bukan sebagai hukuman, tapi sebagai bagian dari sistem pendidikan yang sudah berjalan jauh sebelum smartphone ditemukan. Apakah ini hal yang baik? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Apakah benar santri sama sekali tidak pegang gadget?

Di kebanyakan pesantren modern, santri memang tidak diperkenankan membawa atau menggunakan smartphone selama di lingkungan pesantren. Komunikasi dengan keluarga dilakukan melalui fasilitas wartel — telepon atau video call di waktu yang sudah dijadwalkan.

Apakah aturan ini selalu ditaati sempurna? Jujur, dalam komunitas besar yang terdiri dari ratusan remaja, ada saja yang mencoba melanggar. Pesantren menerapkan aturan ini dengan tegas, tapi mengawasi ratusan anak setiap saat bukanlah hal yang mudah. Yang bisa dikatakan: budaya tanpa gadget sudah cukup kuat tertanam, dan mayoritas santri menjalaninya dengan baik.

Bagaimana santri mengisi waktu tanpa layar?

Ini yang sering mengejutkan orang tua yang berkunjung. Santri ternyata punya banyak hal untuk dilakukan. Sore hari diisi dengan olahraga — futsal, basket, panahan, renang, pencak silat. Ada yang berlatih nasyid atau marawis. Ada yang menggambar, menulis, atau berlatih kaligrafi. Ada yang sekadar duduk mengobrol dengan teman-teman di teras asrama.

Waktu luang di pesantren diisi dengan interaksi langsung antar manusia, aktivitas fisik, dan kegiatan kreatif. Bukan scrolling tanpa tujuan. Dan bagi banyak santri, ini ternyata lebih memuaskan — meskipun di awal mungkin terasa aneh.

Apakah semua anak langsung menerima ini? Tentu tidak. Anak-anak yang sudah sangat tergantung pada gadget biasanya mengalami fase “withdrawal” di minggu-minggu awal. Ada yang merasa bosan, ada yang gelisah, ada yang merasa terputus dari dunia. Fase ini nyata dan tidak perlu diminimalkan.

Tapi yang menarik — fase ini biasanya berlalu lebih cepat dari yang dibayangkan. Ketika anak mulai punya teman dekat, mulai menemukan kegiatan yang disukainya, dan mulai terbiasa dengan ritme pesantren, kebutuhan akan gadget berkurang secara alami.

Apa dampak positifnya?

Beberapa hal yang sering disebut: konsentrasi yang lebih baik saat belajar. Kualitas tidur yang meningkat karena tidak ada layar yang mengganggu sebelum tidur. Hubungan pertemanan yang lebih dalam karena interaksi terjadi secara langsung, bukan lewat chat. Dan kreativitas yang tumbuh karena anak “dipaksa” menemukan cara lain untuk mengisi waktu.

Apakah ini berlaku untuk semua santri tanpa kecuali? Tidak. Ada anak yang memang lebih lambat beradaptasi. Ada juga yang merindukan akses informasi yang biasanya mereka dapatkan dari internet. Pesantren menyediakan perpustakaan dan laboratorium komputer sebagai alternatif, tapi tentu aksesnya tidak sebebas memiliki gadget sendiri.

Apakah ada dampak negatifnya?

Ini yang jarang dibicarakan tapi perlu diakui. Santri yang hidup tanpa gadget selama bertahun-tahun kadang mengalami “culture shock” ketika lulus dan kembali ke dunia yang penuh teknologi. Mereka mungkin kurang terbiasa dengan beberapa aspek kehidupan digital yang sudah menjadi kebutuhan di dunia kerja dan perguruan tinggi.

Pesantren yang baik menyadari ini dan berusaha menyediakan paparan teknologi yang cukup — melalui laboratorium komputer, kegiatan desain grafis, fotografi, dan produksi audio-video — tanpa memberikan akses gadget pribadi. Apakah keseimbangan ini sudah ideal? Belum tentu. Ini area yang masih terus dicari formulanya.

Yang jelas, tidak ada solusi sempurna. Memberikan gadget sepenuhnya punya risikonya sendiri. Meniadakan sepenuhnya juga punya konsekuensi. Pesantren memilih pendekatan yang lebih ketat, dengan keyakinan bahwa fondasi karakter yang terbentuk di masa remaja lebih penting daripada literasi digital yang bisa dipelajari kemudian. Apakah keyakinan ini benar? Setiap keluarga mungkin punya jawaban yang berbeda.

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat, menerapkan kebijakan tanpa gadget pribadi bagi santri, dengan fasilitas wartel untuk komunikasi dan laboratorium komputer untuk kebutuhan belajar. Pendekatan ini sudah berjalan selama puluhan tahun. Bukan tanpa kekurangan, tapi sejauh ini dampak positifnya terhadap fokus belajar dan kualitas interaksi sosial santri cukup terlihat.

Kalau penasaran seperti apa kehidupan tanpa gadget di pesantren, kunjungan langsung bisa menjawab lebih banyak dari artikel mana pun. Datang kapan saja tanpa janji.

Untuk pertanyaan, hubungi WhatsApp 0812111180.