Pesantren yang menerima santri dari berbagai daerah di Indonesia punya karakteristik tersendiri. Asramanya lebih beragam. Bahasa sehari-hari lebih bervariasi. Dan dinamika sosialnya lebih kaya — karena anak-anak dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua tinggal di lingkungan yang sama.
Apa yang membuat pesantren dengan santri dari seluruh Indonesia berbeda?
Keberagaman daerah asal santri menciptakan lingkungan belajar yang unik. Anak-anak tidak hanya belajar ilmu agama dan umum — mereka juga belajar memahami budaya, kebiasaan, dan cara bicara yang berbeda-beda. Ini terjadi secara alami dari kehidupan bersama sehari-hari, bukan dari pelajaran khusus.
Tapi keberagaman juga bisa menjadi tantangan. Ada potensi kesalahpahaman karena perbedaan kebiasaan. Ada momen canggung saat dialek yang berbeda menimbulkan kebingungan. Pesantren yang berpengalaman biasanya sudah punya cara mengelola ini — tapi tidak semua pesantren menanganinya dengan sama baiknya.
Kita perlu realistis bahwa menempatkan anak-anak dari berbagai latar belakang dalam satu lingkungan bukan tanpa gesekan. Tapi gesekan itu sendiri bisa menjadi bagian dari proses belajar yang berharga — kalau dikelola dengan baik.
Bagaimana pesantren mengelola keberagaman ini?
Salah satu caranya adalah melalui penempatan kamar yang sengaja dicampur — santri dari satu daerah tidak ditempatkan bersama dalam satu kamar, tapi disebar agar berbaur dengan santri dari daerah lain. Ini memaksa mereka berkomunikasi dan beradaptasi sejak hari pertama.
Penggunaan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa percakapan wajib juga membantu — karena semua santri menggunakan bahasa yang sama, perbedaan dialek bahasa daerah menjadi tidak relevan di jam-jam tertentu.
Tapi ada juga pesantren yang membiarkan santri mengelompok berdasarkan daerah, dan ini bisa menghambat proses pembauran. Saat survei, mungkin bisa diperhatikan bagaimana santri berinteraksi — apakah terlihat berbaur atau cenderung mengelompok.
Apa manfaatnya bagi anak?
Anak yang tumbuh di lingkungan yang beragam biasanya lebih mudah bergaul dengan siapa saja setelah lulus. Mereka sudah terbiasa dengan perbedaan, sehingga tidak canggung saat memasuki lingkungan baru — kampus, tempat kerja, atau komunitas yang beragam.
Tapi ini bukan jaminan. Ada juga anak yang setelah bertahun-tahun di lingkungan beragam tetap lebih nyaman bergaul dengan orang yang mirip dengannya. Setiap anak berbeda, dan kita tidak bisa menggeneralisir hasilnya.
Salah satu pesantren di Bogor yang menerima santri dari berbagai daerah
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat, menerima santri dari berbagai provinsi di Indonesia. Keberagaman ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di sana sejak lama. Apakah ini menjadi kelebihan atau tantangan — tergantung bagaimana kita melihatnya dan bagaimana pesantren mengelolanya.
Kalau ingin bertanya atau berkunjung, silakan hubungi lewat WhatsApp 0812111180.